Rabu, 16 Maret 2011
RASULULLAH S.A.W DAN SEORANG ARAB BADUI
Di waktu Rasulullah SAW.
sedang asyik bertawaf di
Ka'bah, beliau mendengar
seorang di hadapannya
bertawaf, sambil berzikir: 'Ya
Karim! Ya Karim!' Rasulullah
s.a.w menirunya membaca 'Ya
Karim! Ya Karim!' Orang itu lalu
berhenti di salah satu sudut
Ka'bah, dan berzikir lagi: 'Ya
Karim! Ya Karim!' Rasulullah
SAW yang berada
dibelakangnya mengikuti
zikirnya 'Ya Karim! Ya Karim!'
Merasa seperti di olok-olokan,
orang itu menoleh kebelakang
dan terlihat olehnya seorang
laki-laki yang gagah, lagi
tampan yang belum pernah
dikenalinya. Orang itu lalu
berkata: 'Wahai orang tampan!
Apakah engkau memang
sengaja memperolok-olokan
ku, karena aku ini adalah
orang Arab badui? Kalaulah
bukan karena ketampananmu
dan kegagahanmu, pasti
engkau akan aku laporkan
kepada kekasihku, Muhammad
Rasulullah.' Mendengar bicara
orang badui itu, Rasulullah SAW
tersenyum, lalu bertanya:
'Tidakkah engkau mengenali
Nabimu, wahai orang
Arab?''Belum,' jawab orang itu.
'Jadi bagaimana kau beriman
kepadanya?' 'Saya percaya
dengan mantap atas
kenabiannya, sekalipun saya
belum pernah melihatnya, dan
saya membenarkan
putusannya sekalipun saya
belum pernah bertemu
dengannya,' kata orang arab
badui itu pula. Rasulullah SAW
pun berkata kepadanya:
'Wahai orang Arab! Ketahuilah
aku inilah Nabimu di dunia dan
penolongmu nanti di akhirat!'
Melihat Nabi di hadapannya,
dia tercengang, seperti tidak
percaya kepada dirinya.'Tuan
ini Nabi Muhammad?!''Ya,'
jawab Nabi SAW Dia segera
tunduk untuk mencium kedua
kaki RasulullahSAW Melihat hal
itu, Rasulullah SAW menarik
tubuh orang Arab itu, seraya
berkata kepadanya: 'Wahai
orang Arab! Janganlah berbuat
serupa itu.Perbuatan serupa
itu biasanya dilakukan oleh
hamba sahaya kepada
juragannya.Ketahuilah, ALLAH
mengutusku bukan untuk
menjadi seorang yang takabur
yang meminta dihormati, atau
diagungkan, tetapi demi berita
gembira bagi orang yang
beriman, dan membawa berita
ancaman bagi yang
mengingkarinya.' Ketika itulah,
Malaikat Jibril a.s. turun
membawa berita dari langit dia
berkata: 'Ya Muhammad! Rabb
As-Salam (puncak keselamatan)
menyampaikan salam
kepadamu dan bersabda:
Katakanlah kepada orang Arab
itu, agar tidak terpesona
dengan belas kasih ALLAH.
Ketahuilah bahwa ALLAH akan
menghisabnya di hari Mahsyar
nanti, akan menimbang semua
amalannya, baik yang kecil
maupun yang besar!'. Setelah
menyampaikan berita itu, Jibril
kemudian pergi. Orang Arab
itu pula berkata: 'Demi
keagungan serta kemulian
ALLAH, jika ALLAH akan
membuat perhitungan atas
amalan hamba, maka hamba
pun akan membuat
perhitungan denganNYA!' kata
orang Arab badui itu. 'Apakah
yang akan engkau
perhitungkan dengan ALLAH?'
Rasulullah bertanya kepadanya.
'Jika ALLAH akan
memperhitungkan dosa-dosa
hamba, maka hamba akan
memperhitungkan betapa
besar maghfirahNYA,' jawab
orang itu. 'Jika DIA
memperhitungkan
kemaksiatan hamba, maka
hamba akan mem
perhitungkan betapa keluasan
pengampunanNYA. Jika DIA
memperhitungkan kekikiran
hamba, maka hamba akan
memperhitungkan pula betapa
kedermawananNYA!'.
Mendengar ucapan orang Arab
badui itu, maka Rasulullah SAW
pun menangis mengingatkan
betapa benarnya kata-kata
orang Arab badui itu, air mata
beliau meleleh membasahi
janggutnya. Lantaran itu
Malaikat Jibril AS turun lagi
seraya berkata: 'Ya
Muhammad! Rabb As-Salam
menyampaikan salam
kepadamu, dan bersabda:
Berhentilah engkau dari
menangis! Sungguh karena
tangismu, penjaga Arasy lupa
dari bacaan tasbih dan
tahmidnya, sehingga ia
bergoncang. Nah katakan
kepada temanmu itu, bahwa
ALLAH tak akan menghisab
dirinya, juga tak akan
memperhitungkan
kemaksiatannya. ALLAH sudah
mengampuni semua
kesalahannya dan ia akan
menjadi temanmu di surga
nanti!' Betapa sukanya orang
Arab badui itu, apabila
mendengar berita tersebut. Ia
lalu menangis karena tidak
berdaya menahan keharuan
dirinya.
Senin, 14 Maret 2011
Kunci Kunci Surga
Rasanya tidak ada seorangpun
yang tidak menginginkan surga.
Rasanya tidak ada seorangpun di
antara kita yang mau masuk
neraka. Bukan demikian?
Suatu saat, setelah Rasulullah
SAW selesai mengerjakan shalat
dzuhur, beliau bertanya kepada
para sahabatnya, “Siapa di antara
kalian yang berpuasa pada hari
ini ?”
Semua orang terdiam kecuali
Abu Bakar yang menjawab,
“ Saya, wahai Rasulullah.”
Rasul bertanya lagi,
“ Siapakah yang telah
bersedekah kepada kaum papa
pada hari ini ?” Lagi-lagi tidak
ada yang menjawab selain Abu
Bakar,
“ Saya, wahai Rasulullah.”
Untuk yang ketiga kalinya, Rasul
bertanya,
“ Siapakah yang telah menjenguk
orang sakit hari ini ?”
Tidak ada yang menjawab selain
Abu Bakar,
“ Saya, wahai Rasulullah.”
Rasul bertanya lagi,
“ Siapakah yang telah
mengantarkan jenazah pada hari
ini ?” Abu bakar menjawab,
“ Saya, wahai Rasulullah.”
Rasul bertanya kembali,
“ Siapakah yang telah
mendamaikan dua orang yang
berselisih pada hari ini ?” Abu
Bakar menyahut,
“ Saya, wahai Rasulullah.”
Sejurus kemudian Rasul SAW
bersabda,
“ Tidaklah seorang mukmin
mengerjakan satu kebaikan di
antara perbuatan tersebut
kecuali satu pintu dari pintu-
pintu surga kelak akan berseru
di hari kiamat “ Mari masuklah ke
sini.”
Abu Bakar bertanya,
“ Bagaimana jika seseorang itu
mengerjakan semuanya ?”
Rasul menjawab,
“ Sesungguhnya di antara
sebagaian umatku ada yang
dipanggil oleh pintu-pintu surga
yang ada secara bersamaan dan
engkau adalah orang yang
pertama kali yang dipanggil,
wahai Abu Bakar. ”
Menjadi seseorang sebagaimana
Abu Bakar bukan perkara
mudah. Selain ia telah
menunaikan puasa tak lupa ia
juga menunaikan hak-hak
saudaranya. Abu Bakar
merupakan sosok yang
mempunyai kompentensi yang
sulit disaingi oleh orang lain.
Lima perkara yang dilakukan
olehnya, menurut pandangan
Nabi, adalah kunci-kunci surga:
berpuasa (sunnah), bersedekah,
menjenguk orang sakit,
mengantar jenazah, dan
mendamaikan perselisihan.
Duhai, berapa banyak dari kita
yang rakus? Berapa banyak dari
kita yang telah bersedekah meski
berapa rupiah? Berapa banyak
dari kita yang enggan
menjenguk orang sakit,
mengantar jenazah? Dan
pertanyaan terakhir yang mesti
kita jawab adalah, sejauh mana
upaya kita mendamaikan
permusuhan dan perselisihan
yang terjadi di antara umat
manusia? Atau, justeru kita tidak
berrpartisipasi dalam mengurai
dan menyelesaikan konflik
tersebut?
Tahukah kita, kiat Abu Bakar
meraih itu semua? Di dorong
rasa penasaran, Imam Ali
bertanya kepadanya, ” Dengan
apa engkau mencapai
kedudukan mulia sehingga
engkau mengalahkan kami ?”
Abu Bakar menjawab, ” Dengan
Lima perkara :
(1) Saya mendapati Umat
manusia terbelah menjadi dua
kelompok: Pencari dunia dan
pencari akhirat. Saya memilih
menjadi pencari Tuhan. (2) Sejak
saya masuk islam, saya tak lagi
merasakan kelezatan dunia
sebab ma ’rifah kepada Allah telah
membuatku lupa darinya. (3)
Sejak saya masuk Islam, tak
pernah lagi saya merasakan
kesegaran air dunia sebab
Mahabbah kepada Allah telah
memuaskan rasa dahagaku. (4)
Tiap kali saya menghadapi dua
pilihan: Amal untuk kebahagiaan
dunia dan amal untuk
kebahagiaan akhirat, saya
memilih amal untuk kebahagiaan
akhirat. (5) Saya menemani Nabi
SAW dan berusaha menjadi
sahabat yang baik bagi beliau.”
Ilustrasi di atas hanya setetes
dari samudera hikmah yang bisa
membuat hidup kita semakin
baik; baik buat diri kita dan baik
untuk orang lain. Semoga kita
terpacu untuk meraih kunci-
kunci Syurga tersebut. Wallahu
A ’lam Bishawaab
Sabtu, 12 Maret 2011
SA'ID bin ZAID
"Wahai Allah jika Engkau
mengharamkanku dari agama
yang lurus ini, janganlah
anakku Sa'id diharamkan pula
daripadanya." (Do'a Zaid untuk
anaknya, Sa'id).
Zaid bin Amr bin Nufail berdiri
di tengah-tengah orang
banyak yang berdesak-
desakan menyaksikan kaum
Qurays berpesta merayakan
salah satu hari besar mereka.
Kaum pria memakai serban
sundusi yang mahal, yang
kelihatan seperti kerudung
Yaman yang lebih mahal. Kaum
wanita dan anak-anak
berpakaian bagus warna
menyala dan mengenakan
perhiasan indah-indah. Hewan-
hewan ternak pun dipakaikan
bermacam-macam perhiasan
dan ditarik orang-orang untuk
disembelih di hadapan patung-
patung yang mereka sembah.
Zaid bersandar ke dinding
Kakbah seraya berkata, "Hai
kaum Qurays! hewan itu
diciptakan Allah. Dialah yang
menurunkan hujan dari langit
supaya hewan-hewan itu
minum sepuas-puasnya. Dialah
yang menumbuhkan rumput-
rumputan supaya hewan -
hewan itu makan sekenyang-
kenyangnya. Kemudian, kalian
sembelih hewan-hewan itu
tanpa menyebut nama Allah.
Sungguh bodoh dan sesat
kalian."
Al-Khattab, ayah Umar bin
Khottob, berdiri menghampiri
Zaid, lalu ditamparnya Zaid.
Kata Al-Khattab, "Kurang ajar
kau! kami sudah sering
mendengar kata-katamu yang
kotor itu, namun kami biarkan
saja. Kini kesabaran kami
sudah habis!" Kemudian,
dihasutnya orang-orang
bodoh supaya menyakiti Zaid.
Zaid benar-benar disakiti
mereka dengan sungguh-
sungguh sehingga dia
terpaksa menyingkir dari kota
Mekah ke Bukit Hira.
Al-Khattab menyerahkan
urusan Zaid kepada
sekelompok pemuda Qurasy
untuk menghalang-halanginya
masuk kota. Karena itu, Zaid
terpaksa pulang dengan
sembunyi-sembunyi.
Kemudian, Zaid bin Amr bin
Nufail berkumpul ketika orang-
orang Qurasy lengah bersama-
sama dengan Waraqah bin
Naufal. Abdullah bin Jahsy,
Utsman bin Harits, dan
Umaimah binti Abdul Muthallib,
bibi Muhammad saw. Mereka
berbicara tentang kepercayaan
masyarakat Arab yang sudah
jauh tersesat. Kata Zaid, "Demi
Allah! sesungguhnya Saudara-
Saudara sudah maklum bahwa
bangsa kita sudah tidak
memiliki agama. Mereka sudah
sesat dan menyeleweng dari
agama Ibrahim yang lurus.
Karena itu, marilah kita pelajari
suatu agama yang dapat kita
pegang jika Saudara-Saudara
ingin beruntung."
Keempat orang itu pergi
menemui pendeta-pendeta
Yahudi, Nasrani, dan
pemimpin-pemimpin agama
lain untuk menyelidiki dan
mempelajari agama Ibrahim
yang murni. Waraqah bin
Naufal meyakini agama
Nasrani.
Abdullah bin Jahsy dan Utsman
bin Harits tidak menemukan
apa-apa. Sementara, Zaid bin
Amr bin Nufail mengalami
kisah tersendiri. Marilah kita
dengar ceritanya.
Kata Zaid, "Saya pelajari agama
Yahudi dan Nasrani. Tetapi,
keduanya saya tinggalkan
karena saya tidak memperoleh
sesuatau yang dapat
menenteramkan hati saya
dalam kedua agama tersebut.
Lalu, saya berkelana ke seluruh
pelosok mencari agama
Ibrahim. Ketika saya sampai ke
negeri Syam, saya diberitahu
tentang seorang Rahib yang
mengerti ilmu kitab. Maka, saya
datangi Rahib tersebut, lalu
saya ceritakan kepadanya
tentang pengalaman saya
belajar agama."
Kata Rahib tersebut, "Saya tahu
Anda sedang mencari agama
Ibrahim, hai putra Mekah?"
Jawabku, "Betul, itulah yang
saya inginkan."
Kata Rahib, "Anda mencari
agama yang dewasa ini sudah
tak mungkin lagi ditemukan.
Tetapi, pulanglah Anda ke
negeri Anda. Allah akan
membangkitkan seroang nabi
di tengah-tengah bangsa Anda
untuk menyempurnakan
agama Ibrahim. Bila Anda
bertemu dengan dia, tetaplah
Anda bersamanya."
Zaid berhenti berkelana. Dia
kembali ke Mekah menunggu
nabi yang dijanjikan. Ketika
Zaid sedang dalam perjalanan
pulang. Allah mengutus
Muhammad menjadi nabi dan
rasul dengan agama yang hak.
Tetapi, Zaid belum sempat
bertemu dengan beliau, dia
dihadang perampok-perampok
Badui di tengah jalan dan
terbunuh sebelum ia kembali
ke Mekah. Waktu dia akan
menghembuskan napasnya
yang terakhir, Zaid
menengadah ke langit dan
berkata, "Wahai Allah, jika
Engkau mengharamkanku dari
agama yang lurus ini,
janganlah anakku Sa'id
diharamkan pula daripadanya."
Allah memperkanankan doa
Zaid. Serentak Rasulullah
mengajak orang banyak masuk
Islam, Sa'id segera memenuhi
panggilan beliau, menjadi
pelopor orang-orang beriman
dengan Allah dan
membenarkan kerasulan Nabi
Muhammad saw.
Tidak mengherankan kalau
Sa'id secepat itu
memperkenankan seruan
Muhammad. Sa'id lahir dan
dibesarkan dalam rumah
tangga yang mencela dan
mengingkari kepercayaan dan
adat istiadat orang-orang
Qurasy yang sesat itu. Sa'id
dididik dalam kamar seorang
ayah yang sepanjang hidupnya
giat mencari agama yang hak.
Bahkan, dia mati ketika sedang
berlari kepayahan mengejar
agama yang hak.
Sa'id masuk Islam tidak
seorang diri. Dia masuk Islam
bersama-sama istrinya,
Fathimah binti al-Khattab, adik
perempuan Umar bin Khattab.
Karena pemuda Qurasy ini
masuk Islam, dia disakiti dan
dianiaya, dipaksa kaumnya
supaya kembali kepada agama
mereka. Usaha mereka tidak
berhasil. Bahkan sebaliknya,
Sa'id dan istrinya sanggup
menarik seorang laki-laki
Qurasy yang paling berbobot,
baik fisik maupun
intelektualnya dalam Islam.
Mereka berdualah yang telah
menyebabkan 'Umar bin
Khattab masuk Islam.
Sa'id bin Zaid bin Amr bin
Nufail membaktikan segenap
daya dan tenaganya yang
muda untuk berkhidmat
kepada Islam. Ketika masuk
Islam umurnya belum lebih
dari dua puluh tahun. Dia turut
berperang bersama Rasulullah
dalam setiap peperangan,
selain peperangan Badar.
Ketika itu dia sedang
melaksanakan suatu tugas
penting lainnya yang
ditugaskan Rasulullah
kepadanya. Dia turut
mengambil bagian bersama
kaum muslimin mencabut
singgasana Kisra Persia dan
menggulingkan kekaisaran
Rum. Dalam setiap peperangan
yang dihadapi kaum muslimin,
dia selalu memperlihatkan
penampilan dengan reputasi
terpuji. Agaknya yang paling
mengejutkan ialah reputasinya
yang tercatat dalam
peperangan Yarmuk. Marilah
kita dengarkan sedikit
kisahnya pada hari itu.
Berkata Sa'id bin Zaid bin Amr
bin Nufail, "Ketika terjadi
perang Yarmuk, pasukan kami
hanya berjumlah 24.000 orang,
sedangkan tentara Rum
berjumlah 120.000 orang.
Musuh bergerak ke arah kami
dengan langkah-langkah yang
mantap bagaikan sebuah bukit
yang digerakkan tangah-
tangan tersembunyi. Di muka
sekali berbaris pendeta-
pendeta, perwira-perwira
tinggi dan paderi-paderi yang
membawa kayu salib sambil
mengeraskan suara membaca
doa. Doa itu diulang-ulang oleh
tentara yang berbaris di
belakang mereka dengan
suara mengguntur."
Tatkala tentara kaum muslimin
melihat musuhnya seperti itu,
kebanyakan mereka terkejut,
lalu timbul rasa takut di hati
mereka. Abu Ubaidah bangkit
mengobarkan semangat jihad
kepada mereka. Kata Abu
Ubaidah dalam pidatonya,
antara lain, "Wahai hamba-
hamba Allah! menangkan
agama Allah, pasti Allah akan
menolong kamu dan
memberikan kekuatan kepada
kamu!"
"Wahai hamba-hamba Allah!
tabahkan hati kalian, karena
ketabahan adalah jalan lepas
dari kekafiran, jalan mencapai
keridaan Allah dan menolak
kehinaan."
"Siapkan lembing dan perisai!
tetaplah tenang dan diam,
kecuali mengingat Allah dalam
hati kalian masing-masing.
Tunggu perintah saya
selanjutnya, insya Allah!"
Kemudian, Sa'id melanjutkan
ceritanya. Tiba-tiba seorang
prajurit muslim keluar dari
barisan dan berkata kepada
Abu Ubaidah, "Saya ingin
syahid sekarang, adakah
pesan-pesan Anda kepada
Rasulullah?"
Jawab Abu Ubaidah, "Ya, ada!
Sampaikanlah salam saya dan
kaum muslimin kepada beliau.
Katakan kepada beliau,
sesungguhnya kami telah
mendapatkan apa yang
dijanjikan Tuhan kami!"
Setelah mengucapkan kata-
kata itu, saya lihat dia
menghunus pedang dan terus
maju menyerang musuh-
musuh Allah. Saya membanting
diri ke tanah, dan berdiri di
atas lutut saya. Saya bidikkan
lembing saya, lalu saya
melompat menghadang
musuh. Tanpa terasa perasaan
takut lenyap dengan sendirinya
di hati saya. Tentera muslimin
bangkit menyerbu tentara
Rum. Akhirnya Allah
memenangkan kaum muslimin.
Sesudah itu Sa'id bin Zaid turut
berperang menaklukan
Damsyiq. Setelah kaum
muslimin memperlihatkan
kepatuhan, Abu Ubaidah bin
Jarrah mengangkat Sa'id bin
Zaid menjadi wali di sana.
Dialah wali kota pertama dari
kaum muslimin setelah kota itu
dikuasai.
Dalam masa pemerintahan
Bani Umayah, merebak suatu
isu dalam waktu yang lama di
kalangan penduduk Yatsrib
terhadap Sa'id bin Zaid. Yakni,
seorang wanita bernama Arwa
binti uwais menuduh Sa'id bin
Zaid telah merampas tanahnya
dan menggabungkannya
dengan tanah Said sendiri.
Wanita tersebut menyebarkan
tuduhannya itu ke seantero
kaum muslimin, dan kemudian
mengadukan perkaranya
kepada Wali Kota Madinah,
Marwan bin Hakam. Marwan
mengirim beberapa petugas
kepada Sa'id untuk
menanyakan perihal tuduhan
wanita tersebut. Sahabat
Rasulullah ini merasa prihatin
atas fitnah yang dituduhkan
kepadanya itu.
Kata Sa'id, "Dia menuduhku
menzaliminya (meramapas
tanahnya yang berbatasan
dengan tanah saya).
Bagaimana mungkin saya
menzaliminya, padahal saya
telah mendengar Rasulullah
saw. bersabda, "Siapa saja
yang mengambil tanah orang
lain walaupun sejengkal, nanti
di hari kiamat Allah
memikulkan tujuh lapis bumi
kepadanya. Wahai Allah! dia
menuduh saya menzaliminya.
Seandainya tuduhan itu palsu,
butakanlah matanya dan
ceburkan dia ke sumur yang
dipersengketakannya dengan
saya. Buktikanlah kepada kaum
muslimin sejelas-jelasnya
bahwa tanah itu adalah hak
saya dan bahwa saya tidak
pernah menzaliminya."
Tidak berapa lama kemudian,
terjadi banjir yang belum
pernah terjadi seperti itu
sebelumnya. Maka, terbukalah
tanda batas tanah Sa'id dan
tanah Arwa yang mereka
perselisihkan. Kaum muslimin
memperoleh bukti, Sa'idlah
yang benar, sedangkan
tuduhan wanita itu palsu.
Hanya sebulan sesudah itu,
wanita tersebut menjadi buta.
Ketika dia berjalan meraba-
raba di tanah yang
dipersengketakannya, dia pun
jatuh ke dalam sumur.
Kata Abdullah bin Umar,
"Memang, ketika kami masih
kanak-kanak, kami mendengar
orang berkata bila mengutuk
orang lain, 'Dibutakan mata
kamu seperti Arwa'."
Peristiwa itu sesungguhnya
tidak begitu mengherankan.
Karena, Rasulullah saw.
bersabda, "Takutilah doa orang
teraniaya. Karena, antara dia
dengan Allah tidak ada batas."
Maka, apalagi kalau yang
teraniaya itu salah seorang
dari sepuluh sahabat
Rasulullah saw. yang telah
dijamin masuk surga, Sa'id bin
Zaid, tentu lebih diperhatikan
oleh Allah SWT.
Sumber: Shuwar min Hayaatis
Shahabah, Dr. Abdur Rahman
Ra'fat Basya
Rabu, 09 Maret 2011
Nasehat-Nasehat Gurunda
segala puji bagi allah swt
yg telah menciptakan kadar
segala sesuatu&memberi
hidayah.shalawat & salam atas
nabi muhammad saw sang
pembawa petunjuk
kebenaran ,beserta keluarga
nya,para sahabat & siapa saja yg
mengikuti sunah nya.
salah satu pemakna'an
yg penting dlm hidup ini adalah
memahami tujuan hidup kita ini
sebagai manusia,ajaran-ajaran
kearifan yg bersumber dalam
sinaran islam,banyak
mengajarkan bahwa tujuan
hidup manusia adalah
menyucikan jiwadan
membiarkan nya bergabung lagi
dengan'DUNIA CAHAYA'dari mana
dia berasal.tema ini meresap ke
dalam tradisi inteliktual.misal nya
dapat kita lihat dalam pandangan
filosof islam terkemuka,di antara
nya Ibnu sina yang
mengatakan:"kita telah
menetapkan situasi kembali yang
sejati.kita telah membuktikan
bahwa kebahagian di akhirat
dapat di peroleh dengan
membuat jiwa tak tertandingi."
maksud dari perkata'an
ibnu sina tentang'membuat jiwa
tak tertandingi' adalah kita harus
menjauhkan diri dari kondisi-
kondisi badaniyah yang
bertentangan dengan penyebab-
penyebab kebahagia'an.usaha
membuat jiwa tak tertandingi ini
di capai melelui ciri-ciri watak
dan perangai tertentu.ciri itu
adalah bahwa jiwa berpaaling
dari badan dan persepsi rasa
terus menerus mengigat sumber
nya sendiri.jika iya kembali pada
esensi nya sendiri,ia tidak dapat
lagi menerima aktivitas dari ka
ada'an-ke ada'an badaniyah itu
sendiri.
firman allah swt:''Demi jiwa dan
dia yang menyempurnakan nya
dan memperkenalkan keburukan
dan kebaikan.sungguh
beruntung orang yang dapat
menyucikan jiwa,dan merugilah
orang yang mengotori
nya"(QS.asy-syam ayat 7-10)
Dalam sebuah hadits
nabi muhammad saw bersabda
yang artinya:"musuh mu yang
paling buruk adalah jiwa mu
yang berada di antra ke dua sisi
mu"
Manusia mempunya
kelebiha diantara semua
makhluk ,kelebiha itu adalah
bahwa manusia mempuyai 2
deminsi,Pertama,dimensi
materi,yang di dalam filsafat di
namakan juga dimensi hewani,Di
dalam filsafat jasad manusia
dinamakan dengan gharizah
(insting)atau raghbah
(kecendrungan).sementara di
dalam ilmu akhlaq dan irfan islam
di nama kan dengan orientasi
hewan atau dimensi hewani
manusia.oleh karena itu dari
deminsi ini manusia adalah
hewan dlam arti yang sesungguh
nya,dan tdk berbeda sama sekali
dengan hewan-hewan yang lain.
Manusia juga memiliki
dimensi spiritual,dimensi ini
meliputi yang di dalam filsafat di
namakan dng roh.oleh karena itu
para ulama mengatakan manusia
itu terdiri dari roh dan
jism,akal,nurani,hati,nafs semua
nya mempunyai arti yang
sama,yaitu semua tertuju kepada
sisi spiritual
manusia,.kesempurna'an
manusia terjadi,melalui
komposisi ini.oleh karena malikat
hanya memiliki dimensi spiritual
saja,maka dia tidak bisa di
lihat,dan tidak akan bisa
mencapai sisi kesempurna'an.
Meskipun jibril adalh
malikat yg sangat dekat dengan
allah swtdan memiliki keluasan
wujudi atas alam ini,dan
sebagaimana rasulullah saw
bersabda:''jika seorang mampu
mencakup haqiqat malikat jibril
maka ia juga memiliki
penguasa'an atas alam semesta
ini"namun malikat jibril tidak
mempunyai
kesempurna'an.benar keluasan
wujud malikat jibri sangat
besar,karna dia malaikat yg
sangat dekat dengan allah
swt,demikian juga hal nya
dengan malaikat izrail.akan tetapi
tidak ada perbeda'an sedikitpun
malaikat jibril yang sekarang
dengan malaikat jibril semiliyar
tahun yg lalu,padahal dia
senantiasa bersungguh-
bersungguh beribadah kpd allah
swt.
Al-Qur'an menegaskan
bahwa malaikat jibril sama sekali
tidak menentang dan bermaksiat
kpd allah dan ke ada'an nya
seperti keada'an malaikat yg
lain,yaitu tidak berjalan menuju
kepada kesempurna'an.hewan
juga tidak memiliki
kesempurna'an.sebagai
contoh,semut dan lebah hidup
secara berkelompok dan
mempunyai peradaban dan pola
hidup yg khas.para ulama islam
telah menulis kitab mengenai
hewan-hewan ini,salah satu nya
adalah Ad-Darimi.
sistem peradaban
yang di ikuti di dalam kehidupan
serangga ini mengungguli sistem
peradaban yang di ikuti oleh
sebagian
manusia.namun,meskipun
memiliki peradaban yang
demikian ini ,lebah misal
nya,tidak berjalan menuju
kesempurna'an.semiliyar tahun
yang lalu lebah telah mampu
membangun rumah yang sangat
maju sekali,yang membuat
insyinyur terkagum kagum akan
ketelitian nya,akan
tetapi,sekarang lebah masih
tetap membangun rumah yang
sama,tidak terdapat kemajuan
apapun dalam cara membangun
rumah atau dalam sistem
kehiduapn yang berlaku pada
semut,untuk sampai pada
peradaban yg lebih
maju,kemajuan dan
kesempurna'an hanya ada pada
alam cipta'an yang bernama
manusia.karena manusia
memiliki 2 dimensi:dimensi
malakut dan di namakan dengan
ROH
Yang kedua,adalah
dimensi kemalaikatan/
roh,komposisi yang sangat
mengagumkan.dalam arti cara
susunan ini tidak di ketahui
hingga skrng,dan tentunya kita
tidak bisa mengetahui hakikat
susnan ini,tidak ada filosof yg
dapat menjelaskan susunan roh
dan jasad.mereka hanya cukup
mengatakan"sesungguhnya cara
susunan ini adalah cara
tallauqiyyah".Namun apa itu cara
susunan talluqiyah???yang
jelas,ini merupakan susunan
yang berlawanan.
Terdapat riwayat yang
datang dari rasulullah saw ber
kena'an dengan perjalanan
mi'raj nya,di dalam riwayat itu
rasulullah saw bersabda,yang
artinya:''Pada malam mi'raj aku
melihat seorang malaikat yang
sebagian tubuh nya terbuat dari
api dan sebagian yang lain
terbuat dari salju'' .salju tidak
dapat merembes ke api,begitu
juga api tidak dapat menjalar ke
salju.jika kita ingin memahami
riwayat ini,maka ketahuilah diri
kita adalah sebaik baik contoh
dalam hal ini,
Semua kecendrongan
roh kita tidak sejalan dengan
jasad kita,sebalik
nya,kecendrongan-
kecendrongan jasad kita juga
menyusahkan dan melukai roh
kita,anda tidak akan bisa
menemukan kelezatan roh yang
dapat menyenangkan
jasad.sebagai contoh,sifat
mangkaji ilmu,sifat mencari
kebenaran,sifat toleransi,sifat
berkorban,dan semua sifat yang
terkait dengan deminsi roh
manusia.ketika masalah dapat di
pecahkan,maka roh akan
merasakan kelezatan yang
sangat,akan tetapi kelezatan roh
itu akan di ikutui oleh rasa sakit
pada jasad,artinya,pencarian
kebenaran manyebabkan
kelelahan pada jasad,begitu juga
pencarian ilmu.
Semua urusan itu
menyebabkan rasa sakit dan
kelelahan bagi jasad
anda,adapun
makan,minum,memenuhi
tuntutan syahwat dan istirahat
adalah kebutuhan-kebutuhan
yang bermnfaat bagi
jasad.namun,sebagai mana yang
di kata kan matsnawi,setiap kali
anda memberikan perhatian
pada jasad ini maka pada sa'at
yang sama anda membunuh roh
dan mendatangkan
kemalasan,kepaatan bagi
roh.susunan apakah di antar dua
hal yang berlawanan ini???ini
adalah susunan yang manusia
dapat mencapai kesempurna'an
dengan nya.
Terkadang dimensi
malakut,yang kita nama kan
denga roh,menunggangi dimensi
materi yang di namakan dimensi
hewani dan bergerak kedepan
dengan gerak
kesempurna'an.dalam arti jasad
ini tidak ubah nya menjadi kuda
tunggangan bagi roh,sedangkan
roh mendidik jasad dan
mengendalikan nya ke mana iya
pergi,sehingga bisa sampai
kesuatu tempat yang tidak
seorang pun tahu kecuali allah
swt.dia tidak ubah nya sepertti
buraq yang di tunggangi
rasulullah hingga beliau
kemudian naik ketampat yang
lebih tinggi.namun bagai mana
buraq itu bisa naik ketempat
yang lebih tinggi kita tidak bisa
mengetahui nya.sesungguh nya
yang kita ketahui ialah bahwa
rasulullah saw pergi beserta
dengan jasad nya kepada suatu
tempat yang mana dia sangat
dekat dengan allah swt.
Senin, 07 Maret 2011
MUTIARA HIKMAH PARA SALAF
"Berziarahlah kamu kepada
orang-orang soleh! Karena
orang-orang soleh adalah obat
hati."
(Habib Abdullah bin Muhsin Al-
Attas)
Seindah-indahnya tempat di
dunia adalah tempat orang-
orang yang soleh, kerana
mereka bagai bintang-bintang
yang bersinar pada tempatnya
di petala langit."
(Habib Alwi bin Muhammad Al-
Haddad)
"Apakah kamu mau tahu kunci-
kunci syurga itu ? Kunci Syurga
sebenarnya adalah
"Bissmillahirramanirrahim"
(Al Habib Abdullah Bin Muhsin
Al Atthos)
"Sebaik-baiknya teman adalah
Al-Qur'an! dan seburuk-
buruknya teman adalah
syaitan!"
(Al Habib Abdullah Bin Muhsin
Al Atthos)
"Orang yang sukses adalah
orang yang istiqomah di dalam
amal baik."
(Al Habib Alwi Bin Muhammad
Bin Tohir Al Haddad)
"Semua para wali di angkat
karena hatinya yang bersih,
tidak sombong, dengki, dan
selalu rendah diri"
(Al Habib Muhsin Bin Abdullah
Al Atthos)
Jadikan akalmu, hatimu,
ruhmu, jasadmu, karena bila
semua terisi dengan namanya
berbahagialah kamu “.
(Al Habib Abdullah Bin Muhsin
Al Attas)
Jadilah orang-orang yang
sholeh, karena orang-orang
yang sholeh akan bahagia di
dunia dan akherat .
Dan jadilah orang-orang yang
benar, jangan menjadi orang
yang pintar, karena orang yang
pintar belum tentu benar,
tetapi orang yang benar sudah
pasti pintar “.
(Al Habib Abdullah Bin Abdul
Qadir Bin Ahmad Bilfaqih)
Ilmu itu bagai lautan dan tak
akan ada yang mengenalnya
kecuali merasakannya “.
Al Habib Abdurrahman Bin
Ahmad Assegaf
Janganlah kau tunda-tunda
kebaikan sampai esok hari,
karena engkau tak tahu
apakah umurmu sampai esok
hari".
Orang yang buta bukan orang
yang melihat banyaknya harta,
akan tetapi, yang disebut
orang buta, orang yang tak
mau melihat ilmu agama".
(Al Habib Abdullah Bin Mukshin
Al-Attas)
Minggu, 06 Maret 2011
Sedekah Dapat Membuka Pintu Hidayah
Sedekah Membuka Pintu
Hidayah
Keutamaan sedekah sungguh
sangat banyak sekali dan luar
biasa. Mulai dari
memperpanjang umur,
membuat harta berkah dan
bertambah, mencegah
musibah hingga menunda
kematian. Namun ternyata
tidak hanya itu, sedekah dapat
pula membuka pintu hidayah
seseorang. Hal ini dapat kita
simak dari cerita berikut ini.
Sebut saja namanya dengan
Amir. Dahulu Amir ini adalah
seorang yang gemar
melakukan hal-hal yang
dilarang oleh agama dan juga
dikenal oleh masyarakat sekitar
sebagai orang yang kikir,
meskipun memiliki kekayaan
dibandingkan dengan warga
yang lain. Namun setelah ia
bertobat dan insaf, shalat lima
waktu tidak pernah
ditinggalkan dengan
berjamaah di masjid. Dia juga
rajin ikut pengajian yang
diadakan di masjid tersebut.
Malam itu, seperti biasa sang
ustadz memberikan tausiyah
bagi jamaah. Tausiyah kali ini
adalah tentang keutamaan
shadaqah atau sedekah. Sang
ustadz menjelaskan jika kita
memiliki harta 1000 dirham
kemudian 300 dirham kita
sedekahkan, maka yang 300
dirham itulah yang
sesungguhnya kekal dan akan
dinikmati di akhirat nanti.
Bahkan yang 300 dirham itu
dapat bertambah karena Allah
akan melipatgandakan
sebanyak tujuh ratus kali.
Selain itu, harta yang dimiliki
pun akan dipenuhi dengan
keberkahan.
Setelah mendengar tausiyah
dari pengajian malam itu, Amir
berniat untuk mensedekahkan
sebagian hartanya guna
mendapatkan ridha dan
keberkahan dari Allah Swt.
Dengan hati yang tulus dan
niat yang sangat kuat untuk
mengeluarkan sedekah, malam
itu ia keluar rumah dengan
membawa kantong yang berisi
100 dirham. Begitu sampai di
rumah yang ditujunya, ia
mengetuk pintu. Seseorang
lantas muncul dari dalam
rumah. Setelah Amir
mengucapkan salam lantas
menyerahkan kantong yang
berisi 100 dirham tersebut
kepada pemilik rumah, tanpa
berpanjang lebar ia pamit.
Peristiwa tersebut didengar
oleh warga dan warga pun
merasa terheran-heran,
bahkan ada yang mengejek
bahwa Amir ini telah salah
sasaran dalam mengeluarkan
sedekah. Karena ternyata yang
diberikan sedekah itu adalah
seorang pencuri.
Perbincangan warga setempat
sampailah ke telinga si Amir, ia
hanya berujar dalam hati, “
Alhamdulillah, telah bersedekah
kepada seorang pencuri. ”
Hari berikutnya, ketika malam
tiba, seperti biasa Amir keluar
rumah dengan membawa
kantong yang berisi 100
dirham untuk disedekahkan.
Rumah yang dia pilih kali ini
adalah rumah yang berada di
pinggiran kota. Setelah ia
memilih rumah tersebut,
kemudian ia mengetuk pintu.
Keluarlah pemiliki rumah yang
ternyata seorang wanita.
Setelah mengucapkan salam ia
menyerahkan sedekahnya
tersebut dan langsung pergi.
Berita ini kemudian sampai lagi
ke telinga warga dan menjadi
pembicaraan yang hangat di
antara warga tersebut. Para
warga mengatakan dengan
nada yang agak sinis,
“Meskipun rajin ke masjid tapi
sedekah yang dikeluarkan kok
salah sasaran terus, tempo hari
memberikan kepada pencuri,
sekarang memberikan kepada
pelacur, sebenarnya apa sih
yang dipikirkan oleh si Amir
ini.”
Tatkala obrolan warga ini
sampai ke telinganya, Amir
hanya mengucapkan
“ Alhamdulillah telah
bersedekah kepada seorang
pelacur. ”
Malam harinya, Amir kembali
keluar rumah dengan
membawa kantong yang berisi
100 dirham, seperti yang
sudah-sudah. Ia menuju rumah
yang dekat dengan pusat
perbelanjaan. Setelah
memberikan sedekahnya ia
lantas pulang dengan harapan
sedekahnya kali ini tidak salah
sasaran.
Namun pagi harinya warga
kembali mengomentari
sedekah yang diberikan oleh
Amir. Mereka mengatakan
bahwa apa yang Amir
sedekahkan lagi-lagi salah
sasaran. “Kemarin bersedekah
untuk pelacur, tempo hari
sedekah diberikan kepada si
pencuri, semalam dia
bersedekah untuk orang kaya
padahal orang yang miskin
yang membutuhkan uluran
tangannya cukup banyak di
sekitarnya, orang yang aneh.”
Ungkap warga.
Amir mendengar kembali apa
yang warga bicarakan
mengenai sedekah yang ia
keluarkan. Setelah mendengar
pembicaraan dan komentar
warga yang cukup sinis, Amir
hanya berucap Alhamdulillah
aku telah bersedekah kepada
orang kaya, pelacur dan
pencuri.
Malam harinya, Amir
melaksanakan shalat tahajjud,
setelah melaksanakan tahajjud
Amir terlelap tidur. Ketika tidur,
Amir bermimpi ia didatangi
oleh seseorang yang
memberikan informasi bahwa
sedekah yang telah ia berikan
kepada pencuri, membuat
pencuri itu insaf dan tidak
melakukan pencurian kembali.
Sedekah yang ia berikan
kepada pelacur, membuka
pintu hidayah bagi wanita
tersebut untuk meninggalkan
pekerjaannya sebagai pelacur
dan bertobat kepada Allah Swt.
Sedangkan sedekah yang ia
berikan kepada orang yang
kaya, ternyata orang kaya itu
adalah orang yang pelit.
Setelah menerima sedekah dari
Amir, orang kaya tersebut mau
mengeluarkan zakat, infak dan
sedekah. Sedekah yang ia
keluarkan diterima oleh Allah
Swt, karena Amir ikhlas dalam
mengeluarkan sedekah
tersebut.
Dengan kejadian tersebut, Amir
semakin banyak mengerjakan
kebaikan dan semakin khusyuk
dalam beribadah. Dia
menyadari bahwa yang
terpenting dalam mengerjakan
amal ibadah adalah niat yang
tulus dan ikhlas karena Allah
Swt semata, bukan karena
perkataan orang banyak. Dan
apa yang telah dilakukan oleh
Amir semakin membuktikan
kekuatan sedekah, bahwa
sedekah dapat membuka pintu
hidayah.
Kamis, 03 Maret 2011
IMAM HASAN AL-MUJTABA as (bag. 4)
Mereka tersebar ke mana-mana. Ada yang ke Makkah, ke Madinah dan juga ke tempat-tempat lain. Nasibibu tua dan suaminya pun tak berbeda dengan tetangganyayang lain. Sang ibu dan suaminya pergi menuju Madinah. Di kota yang baru ini mereka berjalan mencari nafkah untuk menyambung hidup. Di tengah pengembaraannya menyusuri jalan-jalan di Madinah,tanpa sadar, ibu itu melewati rumah Al Hasan as Sang ibu rupanya sudahtak ingat lagi kepada ketiga tamunya yang dahulu. Itulah sebabnya, ia tak berusaha mencari mereka. Secarakebetulan, ketika ibu itu lewat, Al Hasan sedang duduk di depan rumahnya. Al Hasan melihat mereka, dan mengejar sepasang suami-isteri itu, kemudian menegurnya. “Ingkatkah ibu kepada saya?” tanyanya. “Demi Allah, aku tidak ingat siapa engkau,” jawab ibu itu. “Ingkatkah ibu kepada tiga orang tamu yang kehabisan bekal di tengah perjalanan mereka untuk berhaji?” “Tidak!” “Baiklah, apabila ibu tak ingat kepada saya, maka saya masih dapat mengenali ibu. Saya adalah Hasan bin Ali, orang yang perarnah ibu beri makanan dan minuman untuk bekal saya dan dua orang saudara yang lain menuju Mekkah. Mari, silahkan ibu ke rumah saya!” kata Al Hasan as seraya mengiringi keduanya menuju kediamannya. Di rumah Al Hasan itulah keduanya menceritkan keadaan yang menimpa desa mereka. Al Hasan menyambut keduanya dengan sambutan yang sangat baik. Dijamu kedua tamunya itu dengan penuh hormat. Sebelum pulang, Al Hasan as memberi keduanya uang seribu dinar dan beberapa ekor kambing. Kemudian Al Hasan memanggil pembantunya dan berkata: “Antarkan kedua tamuku ini ke rumah saudaraku, Husain, dan kerumah Ja’far!” “Baik Tuan!” kata kadamnya. Mereka bertiga kini dalam perjalanan menuju rumah Husainbin Ali as “Assalamu’alaikum,” kata kadam Al Hasan. “Wa alaikum salam,” terdengar jawaban dari dalam rumah. Tak lama setelah itu, Al Husain membukakan pintu. Ia mengenal kadam Al Hasan. “Aku disuruh mengantarkan kedua tamu ini kemari,” kata teman itu. Al Husain melihat tamunya. Ternyata ia pun masih mengenal ibu tersebut. Al Husain segera menyambutnya dengan penuh hormat. “Mari, silakan masuk! Alhamdulillah, akhirnya Allah mempertemukan kita kembali.” “Allah Mahabesar!” jawab si ibu. Setelah berbincang-bincang, sebelum minta diri, Al Husain memberi ibu tersebut seribu dinar uang dan beberapa ekor domba. “Sungguh Anda sangat mulia,” kata si ibu. “Semoga Allah yang membalas semua kebaikan ini,” tambah suaminya.” Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam!” jawab Al Husain. Mereka berdua mohon diri, dan bersama kadam Al Hasanpergi kerumah Ja’far. Tak beza dengan Al Hasan dan Al Husain, Ja’far bin Abdullah pun menyambut kedua tamunya itu dengan baik. Ternyata, ia pun masih mengenal si ibu tua. “Astaga… bagaimana kabar kalian!” tanya Ja’far setelah membalas salam keduanya. “Alhamdulillah, Allah masih melindungi kami,” kata si suami. “Dan Mahabesar Allah yang telah mempertemukan kita kembali,” kata si isteri. Setelah lama merekaberbincang-bincang, Ja’far memerintahkan kadamnya menyiapkan beberapa ekor domba, sedangkan ia sendiri masuk mengambil uang. Ia pun memberi ibu tersebut uang seribu Dinar dan beberapa ekor Domba. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Ja’far dan bersyukur kepada Allah SWT, mereka pun memohon pulang. Suami isteri itu kemudian kembalike desanya dengan bekal tiga ribu dinar uang dan beberapa ekor domba. Mereka menjadi orang yang terkaya di desanya. Kedermawanan Al Hasan as itu sesuai dengan sabdaNabi s.a.w.:”Kepada Al Hasan aku wariskan kesabaran dan kedermawananku.” Sejarah mencatat, bahwa setelah Imam Ali bin Abi Thalib as wafat, orang ramai membaiat Al Hasan as sebagai Khalifah yang baru. Pada masa itu, keadaan kaum Muslim masih belum bersatu benar. Pemberontakan telah terjadi sejak Ali bin Abi Thalib a.s menjadi Khalifah. Berontakan-berontakan dengan beberapa kelompok kaum Muslimin – yang memerangi Imam Ali a.s dengan alasan menuntut balas atas terbunuhnya Khalifah Utsman binAffan tak lagi dapat dihindari. Di antara orang yang gigih menuntut balas atas kematian Utsman, adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Ia yang pada masa pemerintahan Utsman menjadi gubenur di Syam – sudah sejak beberapa waktu sebelumnya menyiapkan tentara. Utsman adalah kerabatnya dari kalangan Bani Umayyah. Dengan tak memberi kesempatan kepada Imam Ali untuk menyelidiki kenapa terbunuhnya Utsman, Mu’awiyah berangkat memerangiImam Ali. Sebenarnyalah, Mu’awiyah sangatmenginginkan jabatan Khalifah. Karena ia sadar bahwa kaum Muslimin bakal memilih Ali bin AbiThalib, maka ia buru-buru memerangi Imam Ali as dengan dalil menuntut balas atas terbunuhnya Utsman. Dalam peperangan dengan ImamAli itu, Mu’awiyah dan pengikutnya terdesak. Maka selamatlah mereka dari kehancuran. Namun demikian pemerintahan Imam Ali ternyata berakhir dengan peristiwa pembunuhan atasnya, ketika beliau sedang memimpin shalat Subuh. Suasananegara menjadi tidak menentu sepeninggal Imam Ali. Dalam keadaan kacau itulah Al Hasan dibaiat. (bersambung...)
ANTARA SABAR DAN MENGELUH
Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Diwaktu tawaf tiba-tiba ia melihatseorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya.
"Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu,tidak lain kerana itu pasti kerana tidak pernah risau dan bersedih hati."
Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, "Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati kerana risau, dan seorang pun yang menyekutuinya aku dalam hal ini."
Abu Hassan bertanya,"Bagaimana hal yang merisaukanmu ?"
Wanita itu menjawab, "Pada suatu hari ketika suamiku sedangmenyembelih kambing korban, dan pada aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besarberkata pada adiknya, "Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?"
Jawab adiknya, "Baiklah kalau begitu ?"
Lalu disuruh adiknya baring dan disembelihkannya leher adiknya itu. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah memancut keluar dan lari ke bukit yang mana di sana ia dimakan oleh serigala, lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tibabayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya habis melecur kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang telah berkahwin dan tinggal di daerah lain, maka ia jatuh pengsan hingga sampai menuju ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara di antara mereka semua."
Lalu Abul Hassan bertanya,"Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu ?"
Wanita itu menjawab, "Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka."
Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap terkena musibah dan dugaan dari Allah. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi,:
" Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil keksaihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya."
Begitu juga mengeluh. Perbuatanini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda,:
" Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang."
Dan sabdanya pula, " Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah,dan orang yang mengeluh, jika iamati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya bagi pakaiandari wap api neraka." (Riwayat oleh Imam Majah)
Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.
Langganan:
Postingan (Atom)