Rabu, 16 Maret 2011

RASULULLAH S.A.W DAN SEORANG ARAB BADUI

Di waktu Rasulullah SAW. sedang asyik bertawaf di Ka'bah, beliau mendengar seorang di hadapannya bertawaf, sambil berzikir: 'Ya Karim! Ya Karim!' Rasulullah s.a.w menirunya membaca 'Ya Karim! Ya Karim!' Orang itu lalu berhenti di salah satu sudut Ka'bah, dan berzikir lagi: 'Ya Karim! Ya Karim!' Rasulullah SAW yang berada dibelakangnya mengikuti zikirnya 'Ya Karim! Ya Karim!' Merasa seperti di olok-olokan, orang itu menoleh kebelakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya. Orang itu lalu berkata: 'Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokan ku, karena aku ini adalah orang Arab badui? Kalaulah bukan karena ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.' Mendengar bicara orang badui itu, Rasulullah SAW tersenyum, lalu bertanya: 'Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?''Belum,' jawab orang itu. 'Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?' 'Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan saya membenarkan putusannya sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya,' kata orang arab badui itu pula. Rasulullah SAW pun berkata kepadanya: 'Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!' Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.'Tuan ini Nabi Muhammad?!''Ya,' jawab Nabi SAW Dia segera tunduk untuk mencium kedua kaki RasulullahSAW Melihat hal itu, Rasulullah SAW menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya: 'Wahai orang Arab! Janganlah berbuat serupa itu.Perbuatan serupa itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya.Ketahuilah, ALLAH mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi berita gembira bagi orang yang beriman, dan membawa berita ancaman bagi yang mengingkarinya.' Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata: 'Ya Muhammad! Rabb As-Salam (puncak keselamatan) menyampaikan salam kepadamu dan bersabda: Katakanlah kepada orang Arab itu, agar tidak terpesona dengan belas kasih ALLAH. Ketahuilah bahwa ALLAH akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar!'. Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Orang Arab itu pula berkata: 'Demi keagungan serta kemulian ALLAH, jika ALLAH akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan denganNYA!' kata orang Arab badui itu. 'Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan ALLAH?' Rasulullah bertanya kepadanya. 'Jika ALLAH akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa besar maghfirahNYA,' jawab orang itu. 'Jika DIA memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan mem perhitungkan betapa keluasan pengampunanNYA. Jika DIA memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawananNYA!'. Mendengar ucapan orang Arab badui itu, maka Rasulullah SAW pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badui itu, air mata beliau meleleh membasahi janggutnya. Lantaran itu Malaikat Jibril AS turun lagi seraya berkata: 'Ya Muhammad! Rabb As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda: Berhentilah engkau dari menangis! Sungguh karena tangismu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ia bergoncang. Nah katakan kepada temanmu itu, bahwa ALLAH tak akan menghisab dirinya, juga tak akan memperhitungkan kemaksiatannya. ALLAH sudah mengampuni semua kesalahannya dan ia akan menjadi temanmu di surga nanti!' Betapa sukanya orang Arab badui itu, apabila mendengar berita tersebut. Ia lalu menangis karena tidak berdaya menahan keharuan dirinya.

Senin, 14 Maret 2011

Kunci Kunci Surga

Rasanya tidak ada seorangpun yang tidak menginginkan surga. Rasanya tidak ada seorangpun di antara kita yang mau masuk neraka. Bukan demikian? Suatu saat, setelah Rasulullah SAW selesai mengerjakan shalat dzuhur, beliau bertanya kepada para sahabatnya, “Siapa di antara kalian yang berpuasa pada hari ini ?” Semua orang terdiam kecuali Abu Bakar yang menjawab, “ Saya, wahai Rasulullah.” Rasul bertanya lagi, “ Siapakah yang telah bersedekah kepada kaum papa pada hari ini ?” Lagi-lagi tidak ada yang menjawab selain Abu Bakar, “ Saya, wahai Rasulullah.” Untuk yang ketiga kalinya, Rasul bertanya, “ Siapakah yang telah menjenguk orang sakit hari ini ?” Tidak ada yang menjawab selain Abu Bakar, “ Saya, wahai Rasulullah.” Rasul bertanya lagi, “ Siapakah yang telah mengantarkan jenazah pada hari ini ?” Abu bakar menjawab, “ Saya, wahai Rasulullah.” Rasul bertanya kembali, “ Siapakah yang telah mendamaikan dua orang yang berselisih pada hari ini ?” Abu Bakar menyahut, “ Saya, wahai Rasulullah.” Sejurus kemudian Rasul SAW bersabda, “ Tidaklah seorang mukmin mengerjakan satu kebaikan di antara perbuatan tersebut kecuali satu pintu dari pintu- pintu surga kelak akan berseru di hari kiamat “ Mari masuklah ke sini.” Abu Bakar bertanya, “ Bagaimana jika seseorang itu mengerjakan semuanya ?” Rasul menjawab, “ Sesungguhnya di antara sebagaian umatku ada yang dipanggil oleh pintu-pintu surga yang ada secara bersamaan dan engkau adalah orang yang pertama kali yang dipanggil, wahai Abu Bakar. ” Menjadi seseorang sebagaimana Abu Bakar bukan perkara mudah. Selain ia telah menunaikan puasa tak lupa ia juga menunaikan hak-hak saudaranya. Abu Bakar merupakan sosok yang mempunyai kompentensi yang sulit disaingi oleh orang lain. Lima perkara yang dilakukan olehnya, menurut pandangan Nabi, adalah kunci-kunci surga: berpuasa (sunnah), bersedekah, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, dan mendamaikan perselisihan. Duhai, berapa banyak dari kita yang rakus? Berapa banyak dari kita yang telah bersedekah meski berapa rupiah? Berapa banyak dari kita yang enggan menjenguk orang sakit, mengantar jenazah? Dan pertanyaan terakhir yang mesti kita jawab adalah, sejauh mana upaya kita mendamaikan permusuhan dan perselisihan yang terjadi di antara umat manusia? Atau, justeru kita tidak berrpartisipasi dalam mengurai dan menyelesaikan konflik tersebut? Tahukah kita, kiat Abu Bakar meraih itu semua? Di dorong rasa penasaran, Imam Ali bertanya kepadanya, ” Dengan apa engkau mencapai kedudukan mulia sehingga engkau mengalahkan kami ?” Abu Bakar menjawab, ” Dengan Lima perkara : (1) Saya mendapati Umat manusia terbelah menjadi dua kelompok: Pencari dunia dan pencari akhirat. Saya memilih menjadi pencari Tuhan. (2) Sejak saya masuk islam, saya tak lagi merasakan kelezatan dunia sebab ma ’rifah kepada Allah telah membuatku lupa darinya. (3) Sejak saya masuk Islam, tak pernah lagi saya merasakan kesegaran air dunia sebab Mahabbah kepada Allah telah memuaskan rasa dahagaku. (4) Tiap kali saya menghadapi dua pilihan: Amal untuk kebahagiaan dunia dan amal untuk kebahagiaan akhirat, saya memilih amal untuk kebahagiaan akhirat. (5) Saya menemani Nabi SAW dan berusaha menjadi sahabat yang baik bagi beliau.” Ilustrasi di atas hanya setetes dari samudera hikmah yang bisa membuat hidup kita semakin baik; baik buat diri kita dan baik untuk orang lain. Semoga kita terpacu untuk meraih kunci- kunci Syurga tersebut. Wallahu A ’lam Bishawaab

Sabtu, 12 Maret 2011

SA'ID bin ZAID

"Wahai Allah jika Engkau mengharamkanku dari agama yang lurus ini, janganlah anakku Sa'id diharamkan pula daripadanya." (Do'a Zaid untuk anaknya, Sa'id). Zaid bin Amr bin Nufail berdiri di tengah-tengah orang banyak yang berdesak- desakan menyaksikan kaum Qurays berpesta merayakan salah satu hari besar mereka. Kaum pria memakai serban sundusi yang mahal, yang kelihatan seperti kerudung Yaman yang lebih mahal. Kaum wanita dan anak-anak berpakaian bagus warna menyala dan mengenakan perhiasan indah-indah. Hewan- hewan ternak pun dipakaikan bermacam-macam perhiasan dan ditarik orang-orang untuk disembelih di hadapan patung- patung yang mereka sembah. Zaid bersandar ke dinding Kakbah seraya berkata, "Hai kaum Qurays! hewan itu diciptakan Allah. Dialah yang menurunkan hujan dari langit supaya hewan-hewan itu minum sepuas-puasnya. Dialah yang menumbuhkan rumput- rumputan supaya hewan - hewan itu makan sekenyang- kenyangnya. Kemudian, kalian sembelih hewan-hewan itu tanpa menyebut nama Allah. Sungguh bodoh dan sesat kalian." Al-Khattab, ayah Umar bin Khottob, berdiri menghampiri Zaid, lalu ditamparnya Zaid. Kata Al-Khattab, "Kurang ajar kau! kami sudah sering mendengar kata-katamu yang kotor itu, namun kami biarkan saja. Kini kesabaran kami sudah habis!" Kemudian, dihasutnya orang-orang bodoh supaya menyakiti Zaid. Zaid benar-benar disakiti mereka dengan sungguh- sungguh sehingga dia terpaksa menyingkir dari kota Mekah ke Bukit Hira. Al-Khattab menyerahkan urusan Zaid kepada sekelompok pemuda Qurasy untuk menghalang-halanginya masuk kota. Karena itu, Zaid terpaksa pulang dengan sembunyi-sembunyi. Kemudian, Zaid bin Amr bin Nufail berkumpul ketika orang- orang Qurasy lengah bersama- sama dengan Waraqah bin Naufal. Abdullah bin Jahsy, Utsman bin Harits, dan Umaimah binti Abdul Muthallib, bibi Muhammad saw. Mereka berbicara tentang kepercayaan masyarakat Arab yang sudah jauh tersesat. Kata Zaid, "Demi Allah! sesungguhnya Saudara- Saudara sudah maklum bahwa bangsa kita sudah tidak memiliki agama. Mereka sudah sesat dan menyeleweng dari agama Ibrahim yang lurus. Karena itu, marilah kita pelajari suatu agama yang dapat kita pegang jika Saudara-Saudara ingin beruntung." Keempat orang itu pergi menemui pendeta-pendeta Yahudi, Nasrani, dan pemimpin-pemimpin agama lain untuk menyelidiki dan mempelajari agama Ibrahim yang murni. Waraqah bin Naufal meyakini agama Nasrani. Abdullah bin Jahsy dan Utsman bin Harits tidak menemukan apa-apa. Sementara, Zaid bin Amr bin Nufail mengalami kisah tersendiri. Marilah kita dengar ceritanya. Kata Zaid, "Saya pelajari agama Yahudi dan Nasrani. Tetapi, keduanya saya tinggalkan karena saya tidak memperoleh sesuatau yang dapat menenteramkan hati saya dalam kedua agama tersebut. Lalu, saya berkelana ke seluruh pelosok mencari agama Ibrahim. Ketika saya sampai ke negeri Syam, saya diberitahu tentang seorang Rahib yang mengerti ilmu kitab. Maka, saya datangi Rahib tersebut, lalu saya ceritakan kepadanya tentang pengalaman saya belajar agama." Kata Rahib tersebut, "Saya tahu Anda sedang mencari agama Ibrahim, hai putra Mekah?" Jawabku, "Betul, itulah yang saya inginkan." Kata Rahib, "Anda mencari agama yang dewasa ini sudah tak mungkin lagi ditemukan. Tetapi, pulanglah Anda ke negeri Anda. Allah akan membangkitkan seroang nabi di tengah-tengah bangsa Anda untuk menyempurnakan agama Ibrahim. Bila Anda bertemu dengan dia, tetaplah Anda bersamanya." Zaid berhenti berkelana. Dia kembali ke Mekah menunggu nabi yang dijanjikan. Ketika Zaid sedang dalam perjalanan pulang. Allah mengutus Muhammad menjadi nabi dan rasul dengan agama yang hak. Tetapi, Zaid belum sempat bertemu dengan beliau, dia dihadang perampok-perampok Badui di tengah jalan dan terbunuh sebelum ia kembali ke Mekah. Waktu dia akan menghembuskan napasnya yang terakhir, Zaid menengadah ke langit dan berkata, "Wahai Allah, jika Engkau mengharamkanku dari agama yang lurus ini, janganlah anakku Sa'id diharamkan pula daripadanya." Allah memperkanankan doa Zaid. Serentak Rasulullah mengajak orang banyak masuk Islam, Sa'id segera memenuhi panggilan beliau, menjadi pelopor orang-orang beriman dengan Allah dan membenarkan kerasulan Nabi Muhammad saw. Tidak mengherankan kalau Sa'id secepat itu memperkenankan seruan Muhammad. Sa'id lahir dan dibesarkan dalam rumah tangga yang mencela dan mengingkari kepercayaan dan adat istiadat orang-orang Qurasy yang sesat itu. Sa'id dididik dalam kamar seorang ayah yang sepanjang hidupnya giat mencari agama yang hak. Bahkan, dia mati ketika sedang berlari kepayahan mengejar agama yang hak. Sa'id masuk Islam tidak seorang diri. Dia masuk Islam bersama-sama istrinya, Fathimah binti al-Khattab, adik perempuan Umar bin Khattab. Karena pemuda Qurasy ini masuk Islam, dia disakiti dan dianiaya, dipaksa kaumnya supaya kembali kepada agama mereka. Usaha mereka tidak berhasil. Bahkan sebaliknya, Sa'id dan istrinya sanggup menarik seorang laki-laki Qurasy yang paling berbobot, baik fisik maupun intelektualnya dalam Islam. Mereka berdualah yang telah menyebabkan 'Umar bin Khattab masuk Islam. Sa'id bin Zaid bin Amr bin Nufail membaktikan segenap daya dan tenaganya yang muda untuk berkhidmat kepada Islam. Ketika masuk Islam umurnya belum lebih dari dua puluh tahun. Dia turut berperang bersama Rasulullah dalam setiap peperangan, selain peperangan Badar. Ketika itu dia sedang melaksanakan suatu tugas penting lainnya yang ditugaskan Rasulullah kepadanya. Dia turut mengambil bagian bersama kaum muslimin mencabut singgasana Kisra Persia dan menggulingkan kekaisaran Rum. Dalam setiap peperangan yang dihadapi kaum muslimin, dia selalu memperlihatkan penampilan dengan reputasi terpuji. Agaknya yang paling mengejutkan ialah reputasinya yang tercatat dalam peperangan Yarmuk. Marilah kita dengarkan sedikit kisahnya pada hari itu. Berkata Sa'id bin Zaid bin Amr bin Nufail, "Ketika terjadi perang Yarmuk, pasukan kami hanya berjumlah 24.000 orang, sedangkan tentara Rum berjumlah 120.000 orang. Musuh bergerak ke arah kami dengan langkah-langkah yang mantap bagaikan sebuah bukit yang digerakkan tangah- tangan tersembunyi. Di muka sekali berbaris pendeta- pendeta, perwira-perwira tinggi dan paderi-paderi yang membawa kayu salib sambil mengeraskan suara membaca doa. Doa itu diulang-ulang oleh tentara yang berbaris di belakang mereka dengan suara mengguntur." Tatkala tentara kaum muslimin melihat musuhnya seperti itu, kebanyakan mereka terkejut, lalu timbul rasa takut di hati mereka. Abu Ubaidah bangkit mengobarkan semangat jihad kepada mereka. Kata Abu Ubaidah dalam pidatonya, antara lain, "Wahai hamba- hamba Allah! menangkan agama Allah, pasti Allah akan menolong kamu dan memberikan kekuatan kepada kamu!" "Wahai hamba-hamba Allah! tabahkan hati kalian, karena ketabahan adalah jalan lepas dari kekafiran, jalan mencapai keridaan Allah dan menolak kehinaan." "Siapkan lembing dan perisai! tetaplah tenang dan diam, kecuali mengingat Allah dalam hati kalian masing-masing. Tunggu perintah saya selanjutnya, insya Allah!" Kemudian, Sa'id melanjutkan ceritanya. Tiba-tiba seorang prajurit muslim keluar dari barisan dan berkata kepada Abu Ubaidah, "Saya ingin syahid sekarang, adakah pesan-pesan Anda kepada Rasulullah?" Jawab Abu Ubaidah, "Ya, ada! Sampaikanlah salam saya dan kaum muslimin kepada beliau. Katakan kepada beliau, sesungguhnya kami telah mendapatkan apa yang dijanjikan Tuhan kami!" Setelah mengucapkan kata- kata itu, saya lihat dia menghunus pedang dan terus maju menyerang musuh- musuh Allah. Saya membanting diri ke tanah, dan berdiri di atas lutut saya. Saya bidikkan lembing saya, lalu saya melompat menghadang musuh. Tanpa terasa perasaan takut lenyap dengan sendirinya di hati saya. Tentera muslimin bangkit menyerbu tentara Rum. Akhirnya Allah memenangkan kaum muslimin. Sesudah itu Sa'id bin Zaid turut berperang menaklukan Damsyiq. Setelah kaum muslimin memperlihatkan kepatuhan, Abu Ubaidah bin Jarrah mengangkat Sa'id bin Zaid menjadi wali di sana. Dialah wali kota pertama dari kaum muslimin setelah kota itu dikuasai. Dalam masa pemerintahan Bani Umayah, merebak suatu isu dalam waktu yang lama di kalangan penduduk Yatsrib terhadap Sa'id bin Zaid. Yakni, seorang wanita bernama Arwa binti uwais menuduh Sa'id bin Zaid telah merampas tanahnya dan menggabungkannya dengan tanah Said sendiri. Wanita tersebut menyebarkan tuduhannya itu ke seantero kaum muslimin, dan kemudian mengadukan perkaranya kepada Wali Kota Madinah, Marwan bin Hakam. Marwan mengirim beberapa petugas kepada Sa'id untuk menanyakan perihal tuduhan wanita tersebut. Sahabat Rasulullah ini merasa prihatin atas fitnah yang dituduhkan kepadanya itu. Kata Sa'id, "Dia menuduhku menzaliminya (meramapas tanahnya yang berbatasan dengan tanah saya). Bagaimana mungkin saya menzaliminya, padahal saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Siapa saja yang mengambil tanah orang lain walaupun sejengkal, nanti di hari kiamat Allah memikulkan tujuh lapis bumi kepadanya. Wahai Allah! dia menuduh saya menzaliminya. Seandainya tuduhan itu palsu, butakanlah matanya dan ceburkan dia ke sumur yang dipersengketakannya dengan saya. Buktikanlah kepada kaum muslimin sejelas-jelasnya bahwa tanah itu adalah hak saya dan bahwa saya tidak pernah menzaliminya." Tidak berapa lama kemudian, terjadi banjir yang belum pernah terjadi seperti itu sebelumnya. Maka, terbukalah tanda batas tanah Sa'id dan tanah Arwa yang mereka perselisihkan. Kaum muslimin memperoleh bukti, Sa'idlah yang benar, sedangkan tuduhan wanita itu palsu. Hanya sebulan sesudah itu, wanita tersebut menjadi buta. Ketika dia berjalan meraba- raba di tanah yang dipersengketakannya, dia pun jatuh ke dalam sumur. Kata Abdullah bin Umar, "Memang, ketika kami masih kanak-kanak, kami mendengar orang berkata bila mengutuk orang lain, 'Dibutakan mata kamu seperti Arwa'." Peristiwa itu sesungguhnya tidak begitu mengherankan. Karena, Rasulullah saw. bersabda, "Takutilah doa orang teraniaya. Karena, antara dia dengan Allah tidak ada batas." Maka, apalagi kalau yang teraniaya itu salah seorang dari sepuluh sahabat Rasulullah saw. yang telah dijamin masuk surga, Sa'id bin Zaid, tentu lebih diperhatikan oleh Allah SWT. Sumber: Shuwar min Hayaatis Shahabah, Dr. Abdur Rahman Ra'fat Basya

Rabu, 09 Maret 2011

Nasehat-Nasehat Gurunda

segala puji bagi allah swt yg telah menciptakan kadar segala sesuatu&memberi hidayah.shalawat & salam atas nabi muhammad saw sang pembawa petunjuk kebenaran ,beserta keluarga nya,para sahabat & siapa saja yg mengikuti sunah nya. salah satu pemakna'an yg penting dlm hidup ini adalah memahami tujuan hidup kita ini sebagai manusia,ajaran-ajaran kearifan yg bersumber dalam sinaran islam,banyak mengajarkan bahwa tujuan hidup manusia adalah menyucikan jiwadan membiarkan nya bergabung lagi dengan'DUNIA CAHAYA'dari mana dia berasal.tema ini meresap ke dalam tradisi inteliktual.misal nya dapat kita lihat dalam pandangan filosof islam terkemuka,di antara nya Ibnu sina yang mengatakan:"kita telah menetapkan situasi kembali yang sejati.kita telah membuktikan bahwa kebahagian di akhirat dapat di peroleh dengan membuat jiwa tak tertandingi." maksud dari perkata'an ibnu sina tentang'membuat jiwa tak tertandingi' adalah kita harus menjauhkan diri dari kondisi- kondisi badaniyah yang bertentangan dengan penyebab- penyebab kebahagia'an.usaha membuat jiwa tak tertandingi ini di capai melelui ciri-ciri watak dan perangai tertentu.ciri itu adalah bahwa jiwa berpaaling dari badan dan persepsi rasa terus menerus mengigat sumber nya sendiri.jika iya kembali pada esensi nya sendiri,ia tidak dapat lagi menerima aktivitas dari ka ada'an-ke ada'an badaniyah itu sendiri. firman allah swt:''Demi jiwa dan dia yang menyempurnakan nya dan memperkenalkan keburukan dan kebaikan.sungguh beruntung orang yang dapat menyucikan jiwa,dan merugilah orang yang mengotori nya"(QS.asy-syam ayat 7-10) Dalam sebuah hadits nabi muhammad saw bersabda yang artinya:"musuh mu yang paling buruk adalah jiwa mu yang berada di antra ke dua sisi mu" Manusia mempunya kelebiha diantara semua makhluk ,kelebiha itu adalah bahwa manusia mempuyai 2 deminsi,Pertama,dimensi materi,yang di dalam filsafat di namakan juga dimensi hewani,Di dalam filsafat jasad manusia dinamakan dengan gharizah (insting)atau raghbah (kecendrungan).sementara di dalam ilmu akhlaq dan irfan islam di nama kan dengan orientasi hewan atau dimensi hewani manusia.oleh karena itu dari deminsi ini manusia adalah hewan dlam arti yang sesungguh nya,dan tdk berbeda sama sekali dengan hewan-hewan yang lain. Manusia juga memiliki dimensi spiritual,dimensi ini meliputi yang di dalam filsafat di namakan dng roh.oleh karena itu para ulama mengatakan manusia itu terdiri dari roh dan jism,akal,nurani,hati,nafs semua nya mempunyai arti yang sama,yaitu semua tertuju kepada sisi spiritual manusia,.kesempurna'an manusia terjadi,melalui komposisi ini.oleh karena malikat hanya memiliki dimensi spiritual saja,maka dia tidak bisa di lihat,dan tidak akan bisa mencapai sisi kesempurna'an. Meskipun jibril adalh malikat yg sangat dekat dengan allah swtdan memiliki keluasan wujudi atas alam ini,dan sebagaimana rasulullah saw bersabda:''jika seorang mampu mencakup haqiqat malikat jibril maka ia juga memiliki penguasa'an atas alam semesta ini"namun malikat jibril tidak mempunyai kesempurna'an.benar keluasan wujud malikat jibri sangat besar,karna dia malaikat yg sangat dekat dengan allah swt,demikian juga hal nya dengan malaikat izrail.akan tetapi tidak ada perbeda'an sedikitpun malaikat jibril yang sekarang dengan malaikat jibril semiliyar tahun yg lalu,padahal dia senantiasa bersungguh- bersungguh beribadah kpd allah swt. Al-Qur'an menegaskan bahwa malaikat jibril sama sekali tidak menentang dan bermaksiat kpd allah dan ke ada'an nya seperti keada'an malaikat yg lain,yaitu tidak berjalan menuju kepada kesempurna'an.hewan juga tidak memiliki kesempurna'an.sebagai contoh,semut dan lebah hidup secara berkelompok dan mempunyai peradaban dan pola hidup yg khas.para ulama islam telah menulis kitab mengenai hewan-hewan ini,salah satu nya adalah Ad-Darimi. sistem peradaban yang di ikuti di dalam kehidupan serangga ini mengungguli sistem peradaban yang di ikuti oleh sebagian manusia.namun,meskipun memiliki peradaban yang demikian ini ,lebah misal nya,tidak berjalan menuju kesempurna'an.semiliyar tahun yang lalu lebah telah mampu membangun rumah yang sangat maju sekali,yang membuat insyinyur terkagum kagum akan ketelitian nya,akan tetapi,sekarang lebah masih tetap membangun rumah yang sama,tidak terdapat kemajuan apapun dalam cara membangun rumah atau dalam sistem kehiduapn yang berlaku pada semut,untuk sampai pada peradaban yg lebih maju,kemajuan dan kesempurna'an hanya ada pada alam cipta'an yang bernama manusia.karena manusia memiliki 2 dimensi:dimensi malakut dan di namakan dengan ROH Yang kedua,adalah dimensi kemalaikatan/ roh,komposisi yang sangat mengagumkan.dalam arti cara susunan ini tidak di ketahui hingga skrng,dan tentunya kita tidak bisa mengetahui hakikat susnan ini,tidak ada filosof yg dapat menjelaskan susunan roh dan jasad.mereka hanya cukup mengatakan"sesungguhnya cara susunan ini adalah cara tallauqiyyah".Namun apa itu cara susunan talluqiyah???yang jelas,ini merupakan susunan yang berlawanan. Terdapat riwayat yang datang dari rasulullah saw ber kena'an dengan perjalanan mi'raj nya,di dalam riwayat itu rasulullah saw bersabda,yang artinya:''Pada malam mi'raj aku melihat seorang malaikat yang sebagian tubuh nya terbuat dari api dan sebagian yang lain terbuat dari salju'' .salju tidak dapat merembes ke api,begitu juga api tidak dapat menjalar ke salju.jika kita ingin memahami riwayat ini,maka ketahuilah diri kita adalah sebaik baik contoh dalam hal ini, Semua kecendrongan roh kita tidak sejalan dengan jasad kita,sebalik nya,kecendrongan- kecendrongan jasad kita juga menyusahkan dan melukai roh kita,anda tidak akan bisa menemukan kelezatan roh yang dapat menyenangkan jasad.sebagai contoh,sifat mangkaji ilmu,sifat mencari kebenaran,sifat toleransi,sifat berkorban,dan semua sifat yang terkait dengan deminsi roh manusia.ketika masalah dapat di pecahkan,maka roh akan merasakan kelezatan yang sangat,akan tetapi kelezatan roh itu akan di ikutui oleh rasa sakit pada jasad,artinya,pencarian kebenaran manyebabkan kelelahan pada jasad,begitu juga pencarian ilmu. Semua urusan itu menyebabkan rasa sakit dan kelelahan bagi jasad anda,adapun makan,minum,memenuhi tuntutan syahwat dan istirahat adalah kebutuhan-kebutuhan yang bermnfaat bagi jasad.namun,sebagai mana yang di kata kan matsnawi,setiap kali anda memberikan perhatian pada jasad ini maka pada sa'at yang sama anda membunuh roh dan mendatangkan kemalasan,kepaatan bagi roh.susunan apakah di antar dua hal yang berlawanan ini???ini adalah susunan yang manusia dapat mencapai kesempurna'an dengan nya. Terkadang dimensi malakut,yang kita nama kan denga roh,menunggangi dimensi materi yang di namakan dimensi hewani dan bergerak kedepan dengan gerak kesempurna'an.dalam arti jasad ini tidak ubah nya menjadi kuda tunggangan bagi roh,sedangkan roh mendidik jasad dan mengendalikan nya ke mana iya pergi,sehingga bisa sampai kesuatu tempat yang tidak seorang pun tahu kecuali allah swt.dia tidak ubah nya sepertti buraq yang di tunggangi rasulullah hingga beliau kemudian naik ketampat yang lebih tinggi.namun bagai mana buraq itu bisa naik ketempat yang lebih tinggi kita tidak bisa mengetahui nya.sesungguh nya yang kita ketahui ialah bahwa rasulullah saw pergi beserta dengan jasad nya kepada suatu tempat yang mana dia sangat dekat dengan allah swt.

Wasiat Nasehat Gurunda

Senin, 07 Maret 2011

MUTIARA HIKMAH PARA SALAF

"Berziarahlah kamu kepada orang-orang soleh! Karena orang-orang soleh adalah obat hati." (Habib Abdullah bin Muhsin Al- Attas) Seindah-indahnya tempat di dunia adalah tempat orang- orang yang soleh, kerana mereka bagai bintang-bintang yang bersinar pada tempatnya di petala langit." (Habib Alwi bin Muhammad Al- Haddad) "Apakah kamu mau tahu kunci- kunci syurga itu ? Kunci Syurga sebenarnya adalah "Bissmillahirramanirrahim" (Al Habib Abdullah Bin Muhsin Al Atthos) "Sebaik-baiknya teman adalah Al-Qur'an! dan seburuk- buruknya teman adalah syaitan!" (Al Habib Abdullah Bin Muhsin Al Atthos) "Orang yang sukses adalah orang yang istiqomah di dalam amal baik." (Al Habib Alwi Bin Muhammad Bin Tohir Al Haddad) "Semua para wali di angkat karena hatinya yang bersih, tidak sombong, dengki, dan selalu rendah diri" (Al Habib Muhsin Bin Abdullah Al Atthos) Jadikan akalmu, hatimu, ruhmu, jasadmu, karena bila semua terisi dengan namanya berbahagialah kamu “. (Al Habib Abdullah Bin Muhsin Al Attas) Jadilah orang-orang yang sholeh, karena orang-orang yang sholeh akan bahagia di dunia dan akherat . Dan jadilah orang-orang yang benar, jangan menjadi orang yang pintar, karena orang yang pintar belum tentu benar, tetapi orang yang benar sudah pasti pintar “. (Al Habib Abdullah Bin Abdul Qadir Bin Ahmad Bilfaqih) Ilmu itu bagai lautan dan tak akan ada yang mengenalnya kecuali merasakannya “. Al Habib Abdurrahman Bin Ahmad Assegaf Janganlah kau tunda-tunda kebaikan sampai esok hari, karena engkau tak tahu apakah umurmu sampai esok hari". Orang yang buta bukan orang yang melihat banyaknya harta, akan tetapi, yang disebut orang buta, orang yang tak mau melihat ilmu agama". (Al Habib Abdullah Bin Mukshin Al-Attas)

Minggu, 06 Maret 2011

Sedekah Dapat Membuka Pintu Hidayah

Sedekah Membuka Pintu Hidayah Keutamaan sedekah sungguh sangat banyak sekali dan luar biasa. Mulai dari memperpanjang umur, membuat harta berkah dan bertambah, mencegah musibah hingga menunda kematian. Namun ternyata tidak hanya itu, sedekah dapat pula membuka pintu hidayah seseorang. Hal ini dapat kita simak dari cerita berikut ini. Sebut saja namanya dengan Amir. Dahulu Amir ini adalah seorang yang gemar melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama dan juga dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai orang yang kikir, meskipun memiliki kekayaan dibandingkan dengan warga yang lain. Namun setelah ia bertobat dan insaf, shalat lima waktu tidak pernah ditinggalkan dengan berjamaah di masjid. Dia juga rajin ikut pengajian yang diadakan di masjid tersebut. Malam itu, seperti biasa sang ustadz memberikan tausiyah bagi jamaah. Tausiyah kali ini adalah tentang keutamaan shadaqah atau sedekah. Sang ustadz menjelaskan jika kita memiliki harta 1000 dirham kemudian 300 dirham kita sedekahkan, maka yang 300 dirham itulah yang sesungguhnya kekal dan akan dinikmati di akhirat nanti. Bahkan yang 300 dirham itu dapat bertambah karena Allah akan melipatgandakan sebanyak tujuh ratus kali. Selain itu, harta yang dimiliki pun akan dipenuhi dengan keberkahan. Setelah mendengar tausiyah dari pengajian malam itu, Amir berniat untuk mensedekahkan sebagian hartanya guna mendapatkan ridha dan keberkahan dari Allah Swt. Dengan hati yang tulus dan niat yang sangat kuat untuk mengeluarkan sedekah, malam itu ia keluar rumah dengan membawa kantong yang berisi 100 dirham. Begitu sampai di rumah yang ditujunya, ia mengetuk pintu. Seseorang lantas muncul dari dalam rumah. Setelah Amir mengucapkan salam lantas menyerahkan kantong yang berisi 100 dirham tersebut kepada pemilik rumah, tanpa berpanjang lebar ia pamit. Peristiwa tersebut didengar oleh warga dan warga pun merasa terheran-heran, bahkan ada yang mengejek bahwa Amir ini telah salah sasaran dalam mengeluarkan sedekah. Karena ternyata yang diberikan sedekah itu adalah seorang pencuri. Perbincangan warga setempat sampailah ke telinga si Amir, ia hanya berujar dalam hati, “ Alhamdulillah, telah bersedekah kepada seorang pencuri. ” Hari berikutnya, ketika malam tiba, seperti biasa Amir keluar rumah dengan membawa kantong yang berisi 100 dirham untuk disedekahkan. Rumah yang dia pilih kali ini adalah rumah yang berada di pinggiran kota. Setelah ia memilih rumah tersebut, kemudian ia mengetuk pintu. Keluarlah pemiliki rumah yang ternyata seorang wanita. Setelah mengucapkan salam ia menyerahkan sedekahnya tersebut dan langsung pergi. Berita ini kemudian sampai lagi ke telinga warga dan menjadi pembicaraan yang hangat di antara warga tersebut. Para warga mengatakan dengan nada yang agak sinis, “Meskipun rajin ke masjid tapi sedekah yang dikeluarkan kok salah sasaran terus, tempo hari memberikan kepada pencuri, sekarang memberikan kepada pelacur, sebenarnya apa sih yang dipikirkan oleh si Amir ini.” Tatkala obrolan warga ini sampai ke telinganya, Amir hanya mengucapkan “ Alhamdulillah telah bersedekah kepada seorang pelacur. ” Malam harinya, Amir kembali keluar rumah dengan membawa kantong yang berisi 100 dirham, seperti yang sudah-sudah. Ia menuju rumah yang dekat dengan pusat perbelanjaan. Setelah memberikan sedekahnya ia lantas pulang dengan harapan sedekahnya kali ini tidak salah sasaran. Namun pagi harinya warga kembali mengomentari sedekah yang diberikan oleh Amir. Mereka mengatakan bahwa apa yang Amir sedekahkan lagi-lagi salah sasaran. “Kemarin bersedekah untuk pelacur, tempo hari sedekah diberikan kepada si pencuri, semalam dia bersedekah untuk orang kaya padahal orang yang miskin yang membutuhkan uluran tangannya cukup banyak di sekitarnya, orang yang aneh.” Ungkap warga. Amir mendengar kembali apa yang warga bicarakan mengenai sedekah yang ia keluarkan. Setelah mendengar pembicaraan dan komentar warga yang cukup sinis, Amir hanya berucap Alhamdulillah aku telah bersedekah kepada orang kaya, pelacur dan pencuri. Malam harinya, Amir melaksanakan shalat tahajjud, setelah melaksanakan tahajjud Amir terlelap tidur. Ketika tidur, Amir bermimpi ia didatangi oleh seseorang yang memberikan informasi bahwa sedekah yang telah ia berikan kepada pencuri, membuat pencuri itu insaf dan tidak melakukan pencurian kembali. Sedekah yang ia berikan kepada pelacur, membuka pintu hidayah bagi wanita tersebut untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai pelacur dan bertobat kepada Allah Swt. Sedangkan sedekah yang ia berikan kepada orang yang kaya, ternyata orang kaya itu adalah orang yang pelit. Setelah menerima sedekah dari Amir, orang kaya tersebut mau mengeluarkan zakat, infak dan sedekah. Sedekah yang ia keluarkan diterima oleh Allah Swt, karena Amir ikhlas dalam mengeluarkan sedekah tersebut. Dengan kejadian tersebut, Amir semakin banyak mengerjakan kebaikan dan semakin khusyuk dalam beribadah. Dia menyadari bahwa yang terpenting dalam mengerjakan amal ibadah adalah niat yang tulus dan ikhlas karena Allah Swt semata, bukan karena perkataan orang banyak. Dan apa yang telah dilakukan oleh Amir semakin membuktikan kekuatan sedekah, bahwa sedekah dapat membuka pintu hidayah.

Kamis, 03 Maret 2011

IMAM HASAN AL-MUJTABA as (bag. 4)

Mereka tersebar ke mana-mana. Ada yang ke Makkah, ke Madinah dan juga ke tempat-tempat lain. Nasibibu tua dan suaminya pun tak berbeda dengan tetangganyayang lain. Sang ibu dan suaminya pergi menuju Madinah. Di kota yang baru ini mereka berjalan mencari nafkah untuk menyambung hidup. Di tengah pengembaraannya menyusuri jalan-jalan di Madinah,tanpa sadar, ibu itu melewati rumah Al Hasan as Sang ibu rupanya sudahtak ingat lagi kepada ketiga tamunya yang dahulu. Itulah sebabnya, ia tak berusaha mencari mereka. Secarakebetulan, ketika ibu itu lewat, Al Hasan sedang duduk di depan rumahnya. Al Hasan melihat mereka, dan mengejar sepasang suami-isteri itu, kemudian menegurnya. “Ingkatkah ibu kepada saya?” tanyanya. “Demi Allah, aku tidak ingat siapa engkau,” jawab ibu itu. “Ingkatkah ibu kepada tiga orang tamu yang kehabisan bekal di tengah perjalanan mereka untuk berhaji?” “Tidak!” “Baiklah, apabila ibu tak ingat kepada saya, maka saya masih dapat mengenali ibu. Saya adalah Hasan bin Ali, orang yang perarnah ibu beri makanan dan minuman untuk bekal saya dan dua orang saudara yang lain menuju Mekkah. Mari, silahkan ibu ke rumah saya!” kata Al Hasan as seraya mengiringi keduanya menuju kediamannya. Di rumah Al Hasan itulah keduanya menceritkan keadaan yang menimpa desa mereka. Al Hasan menyambut keduanya dengan sambutan yang sangat baik. Dijamu kedua tamunya itu dengan penuh hormat. Sebelum pulang, Al Hasan as memberi keduanya uang seribu dinar dan beberapa ekor kambing. Kemudian Al Hasan memanggil pembantunya dan berkata: “Antarkan kedua tamuku ini ke rumah saudaraku, Husain, dan kerumah Ja’far!” “Baik Tuan!” kata kadamnya. Mereka bertiga kini dalam perjalanan menuju rumah Husainbin Ali as “Assalamu’alaikum,” kata kadam Al Hasan. “Wa alaikum salam,” terdengar jawaban dari dalam rumah. Tak lama setelah itu, Al Husain membukakan pintu. Ia mengenal kadam Al Hasan. “Aku disuruh mengantarkan kedua tamu ini kemari,” kata teman itu. Al Husain melihat tamunya. Ternyata ia pun masih mengenal ibu tersebut. Al Husain segera menyambutnya dengan penuh hormat. “Mari, silakan masuk! Alhamdulillah, akhirnya Allah mempertemukan kita kembali.” “Allah Mahabesar!” jawab si ibu. Setelah berbincang-bincang, sebelum minta diri, Al Husain memberi ibu tersebut seribu dinar uang dan beberapa ekor domba. “Sungguh Anda sangat mulia,” kata si ibu. “Semoga Allah yang membalas semua kebaikan ini,” tambah suaminya.” Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam!” jawab Al Husain. Mereka berdua mohon diri, dan bersama kadam Al Hasanpergi kerumah Ja’far. Tak beza dengan Al Hasan dan Al Husain, Ja’far bin Abdullah pun menyambut kedua tamunya itu dengan baik. Ternyata, ia pun masih mengenal si ibu tua. “Astaga… bagaimana kabar kalian!” tanya Ja’far setelah membalas salam keduanya. “Alhamdulillah, Allah masih melindungi kami,” kata si suami. “Dan Mahabesar Allah yang telah mempertemukan kita kembali,” kata si isteri. Setelah lama merekaberbincang-bincang, Ja’far memerintahkan kadamnya menyiapkan beberapa ekor domba, sedangkan ia sendiri masuk mengambil uang. Ia pun memberi ibu tersebut uang seribu Dinar dan beberapa ekor Domba. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Ja’far dan bersyukur kepada Allah SWT, mereka pun memohon pulang. Suami isteri itu kemudian kembalike desanya dengan bekal tiga ribu dinar uang dan beberapa ekor domba. Mereka menjadi orang yang terkaya di desanya. Kedermawanan Al Hasan as itu sesuai dengan sabdaNabi s.a.w.:”Kepada Al Hasan aku wariskan kesabaran dan kedermawananku.” Sejarah mencatat, bahwa setelah Imam Ali bin Abi Thalib as wafat, orang ramai membaiat Al Hasan as sebagai Khalifah yang baru. Pada masa itu, keadaan kaum Muslim masih belum bersatu benar. Pemberontakan telah terjadi sejak Ali bin Abi Thalib a.s menjadi Khalifah. Berontakan-berontakan dengan beberapa kelompok kaum Muslimin – yang memerangi Imam Ali a.s dengan alasan menuntut balas atas terbunuhnya Khalifah Utsman binAffan tak lagi dapat dihindari. Di antara orang yang gigih menuntut balas atas kematian Utsman, adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Ia yang pada masa pemerintahan Utsman menjadi gubenur di Syam – sudah sejak beberapa waktu sebelumnya menyiapkan tentara. Utsman adalah kerabatnya dari kalangan Bani Umayyah. Dengan tak memberi kesempatan kepada Imam Ali untuk menyelidiki kenapa terbunuhnya Utsman, Mu’awiyah berangkat memerangiImam Ali. Sebenarnyalah, Mu’awiyah sangatmenginginkan jabatan Khalifah. Karena ia sadar bahwa kaum Muslimin bakal memilih Ali bin AbiThalib, maka ia buru-buru memerangi Imam Ali as dengan dalil menuntut balas atas terbunuhnya Utsman. Dalam peperangan dengan ImamAli itu, Mu’awiyah dan pengikutnya terdesak. Maka selamatlah mereka dari kehancuran. Namun demikian pemerintahan Imam Ali ternyata berakhir dengan peristiwa pembunuhan atasnya, ketika beliau sedang memimpin shalat Subuh. Suasananegara menjadi tidak menentu sepeninggal Imam Ali. Dalam keadaan kacau itulah Al Hasan dibaiat. (bersambung...)

ANTARA SABAR DAN MENGELUH

Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Diwaktu tawaf tiba-tiba ia melihatseorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya. "Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu,tidak lain kerana itu pasti kerana tidak pernah risau dan bersedih hati." Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, "Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati kerana risau, dan seorang pun yang menyekutuinya aku dalam hal ini." Abu Hassan bertanya,"Bagaimana hal yang merisaukanmu ?" Wanita itu menjawab, "Pada suatu hari ketika suamiku sedangmenyembelih kambing korban, dan pada aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besarberkata pada adiknya, "Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?" Jawab adiknya, "Baiklah kalau begitu ?" Lalu disuruh adiknya baring dan disembelihkannya leher adiknya itu. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah memancut keluar dan lari ke bukit yang mana di sana ia dimakan oleh serigala, lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tibabayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya habis melecur kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang telah berkahwin dan tinggal di daerah lain, maka ia jatuh pengsan hingga sampai menuju ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara di antara mereka semua." Lalu Abul Hassan bertanya,"Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu ?" Wanita itu menjawab, "Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka." Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap terkena musibah dan dugaan dari Allah. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi,: " Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil keksaihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya." Begitu juga mengeluh. Perbuatanini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda,: " Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang." Dan sabdanya pula, " Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah,dan orang yang mengeluh, jika iamati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya bagi pakaiandari wap api neraka." (Riwayat oleh Imam Majah) Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.