Selasa, 11 Oktober 2011
Rabu, 16 Maret 2011
RASULULLAH S.A.W DAN SEORANG ARAB BADUI
Di waktu Rasulullah SAW.
sedang asyik bertawaf di
Ka'bah, beliau mendengar
seorang di hadapannya
bertawaf, sambil berzikir: 'Ya
Karim! Ya Karim!' Rasulullah
s.a.w menirunya membaca 'Ya
Karim! Ya Karim!' Orang itu lalu
berhenti di salah satu sudut
Ka'bah, dan berzikir lagi: 'Ya
Karim! Ya Karim!' Rasulullah
SAW yang berada
dibelakangnya mengikuti
zikirnya 'Ya Karim! Ya Karim!'
Merasa seperti di olok-olokan,
orang itu menoleh kebelakang
dan terlihat olehnya seorang
laki-laki yang gagah, lagi
tampan yang belum pernah
dikenalinya. Orang itu lalu
berkata: 'Wahai orang tampan!
Apakah engkau memang
sengaja memperolok-olokan
ku, karena aku ini adalah
orang Arab badui? Kalaulah
bukan karena ketampananmu
dan kegagahanmu, pasti
engkau akan aku laporkan
kepada kekasihku, Muhammad
Rasulullah.' Mendengar bicara
orang badui itu, Rasulullah SAW
tersenyum, lalu bertanya:
'Tidakkah engkau mengenali
Nabimu, wahai orang
Arab?''Belum,' jawab orang itu.
'Jadi bagaimana kau beriman
kepadanya?' 'Saya percaya
dengan mantap atas
kenabiannya, sekalipun saya
belum pernah melihatnya, dan
saya membenarkan
putusannya sekalipun saya
belum pernah bertemu
dengannya,' kata orang arab
badui itu pula. Rasulullah SAW
pun berkata kepadanya:
'Wahai orang Arab! Ketahuilah
aku inilah Nabimu di dunia dan
penolongmu nanti di akhirat!'
Melihat Nabi di hadapannya,
dia tercengang, seperti tidak
percaya kepada dirinya.'Tuan
ini Nabi Muhammad?!''Ya,'
jawab Nabi SAW Dia segera
tunduk untuk mencium kedua
kaki RasulullahSAW Melihat hal
itu, Rasulullah SAW menarik
tubuh orang Arab itu, seraya
berkata kepadanya: 'Wahai
orang Arab! Janganlah berbuat
serupa itu.Perbuatan serupa
itu biasanya dilakukan oleh
hamba sahaya kepada
juragannya.Ketahuilah, ALLAH
mengutusku bukan untuk
menjadi seorang yang takabur
yang meminta dihormati, atau
diagungkan, tetapi demi berita
gembira bagi orang yang
beriman, dan membawa berita
ancaman bagi yang
mengingkarinya.' Ketika itulah,
Malaikat Jibril a.s. turun
membawa berita dari langit dia
berkata: 'Ya Muhammad! Rabb
As-Salam (puncak keselamatan)
menyampaikan salam
kepadamu dan bersabda:
Katakanlah kepada orang Arab
itu, agar tidak terpesona
dengan belas kasih ALLAH.
Ketahuilah bahwa ALLAH akan
menghisabnya di hari Mahsyar
nanti, akan menimbang semua
amalannya, baik yang kecil
maupun yang besar!'. Setelah
menyampaikan berita itu, Jibril
kemudian pergi. Orang Arab
itu pula berkata: 'Demi
keagungan serta kemulian
ALLAH, jika ALLAH akan
membuat perhitungan atas
amalan hamba, maka hamba
pun akan membuat
perhitungan denganNYA!' kata
orang Arab badui itu. 'Apakah
yang akan engkau
perhitungkan dengan ALLAH?'
Rasulullah bertanya kepadanya.
'Jika ALLAH akan
memperhitungkan dosa-dosa
hamba, maka hamba akan
memperhitungkan betapa
besar maghfirahNYA,' jawab
orang itu. 'Jika DIA
memperhitungkan
kemaksiatan hamba, maka
hamba akan mem
perhitungkan betapa keluasan
pengampunanNYA. Jika DIA
memperhitungkan kekikiran
hamba, maka hamba akan
memperhitungkan pula betapa
kedermawananNYA!'.
Mendengar ucapan orang Arab
badui itu, maka Rasulullah SAW
pun menangis mengingatkan
betapa benarnya kata-kata
orang Arab badui itu, air mata
beliau meleleh membasahi
janggutnya. Lantaran itu
Malaikat Jibril AS turun lagi
seraya berkata: 'Ya
Muhammad! Rabb As-Salam
menyampaikan salam
kepadamu, dan bersabda:
Berhentilah engkau dari
menangis! Sungguh karena
tangismu, penjaga Arasy lupa
dari bacaan tasbih dan
tahmidnya, sehingga ia
bergoncang. Nah katakan
kepada temanmu itu, bahwa
ALLAH tak akan menghisab
dirinya, juga tak akan
memperhitungkan
kemaksiatannya. ALLAH sudah
mengampuni semua
kesalahannya dan ia akan
menjadi temanmu di surga
nanti!' Betapa sukanya orang
Arab badui itu, apabila
mendengar berita tersebut. Ia
lalu menangis karena tidak
berdaya menahan keharuan
dirinya.
Senin, 14 Maret 2011
Kunci Kunci Surga
Rasanya tidak ada seorangpun
yang tidak menginginkan surga.
Rasanya tidak ada seorangpun di
antara kita yang mau masuk
neraka. Bukan demikian?
Suatu saat, setelah Rasulullah
SAW selesai mengerjakan shalat
dzuhur, beliau bertanya kepada
para sahabatnya, “Siapa di antara
kalian yang berpuasa pada hari
ini ?”
Semua orang terdiam kecuali
Abu Bakar yang menjawab,
“ Saya, wahai Rasulullah.”
Rasul bertanya lagi,
“ Siapakah yang telah
bersedekah kepada kaum papa
pada hari ini ?” Lagi-lagi tidak
ada yang menjawab selain Abu
Bakar,
“ Saya, wahai Rasulullah.”
Untuk yang ketiga kalinya, Rasul
bertanya,
“ Siapakah yang telah menjenguk
orang sakit hari ini ?”
Tidak ada yang menjawab selain
Abu Bakar,
“ Saya, wahai Rasulullah.”
Rasul bertanya lagi,
“ Siapakah yang telah
mengantarkan jenazah pada hari
ini ?” Abu bakar menjawab,
“ Saya, wahai Rasulullah.”
Rasul bertanya kembali,
“ Siapakah yang telah
mendamaikan dua orang yang
berselisih pada hari ini ?” Abu
Bakar menyahut,
“ Saya, wahai Rasulullah.”
Sejurus kemudian Rasul SAW
bersabda,
“ Tidaklah seorang mukmin
mengerjakan satu kebaikan di
antara perbuatan tersebut
kecuali satu pintu dari pintu-
pintu surga kelak akan berseru
di hari kiamat “ Mari masuklah ke
sini.”
Abu Bakar bertanya,
“ Bagaimana jika seseorang itu
mengerjakan semuanya ?”
Rasul menjawab,
“ Sesungguhnya di antara
sebagaian umatku ada yang
dipanggil oleh pintu-pintu surga
yang ada secara bersamaan dan
engkau adalah orang yang
pertama kali yang dipanggil,
wahai Abu Bakar. ”
Menjadi seseorang sebagaimana
Abu Bakar bukan perkara
mudah. Selain ia telah
menunaikan puasa tak lupa ia
juga menunaikan hak-hak
saudaranya. Abu Bakar
merupakan sosok yang
mempunyai kompentensi yang
sulit disaingi oleh orang lain.
Lima perkara yang dilakukan
olehnya, menurut pandangan
Nabi, adalah kunci-kunci surga:
berpuasa (sunnah), bersedekah,
menjenguk orang sakit,
mengantar jenazah, dan
mendamaikan perselisihan.
Duhai, berapa banyak dari kita
yang rakus? Berapa banyak dari
kita yang telah bersedekah meski
berapa rupiah? Berapa banyak
dari kita yang enggan
menjenguk orang sakit,
mengantar jenazah? Dan
pertanyaan terakhir yang mesti
kita jawab adalah, sejauh mana
upaya kita mendamaikan
permusuhan dan perselisihan
yang terjadi di antara umat
manusia? Atau, justeru kita tidak
berrpartisipasi dalam mengurai
dan menyelesaikan konflik
tersebut?
Tahukah kita, kiat Abu Bakar
meraih itu semua? Di dorong
rasa penasaran, Imam Ali
bertanya kepadanya, ” Dengan
apa engkau mencapai
kedudukan mulia sehingga
engkau mengalahkan kami ?”
Abu Bakar menjawab, ” Dengan
Lima perkara :
(1) Saya mendapati Umat
manusia terbelah menjadi dua
kelompok: Pencari dunia dan
pencari akhirat. Saya memilih
menjadi pencari Tuhan. (2) Sejak
saya masuk islam, saya tak lagi
merasakan kelezatan dunia
sebab ma ’rifah kepada Allah telah
membuatku lupa darinya. (3)
Sejak saya masuk Islam, tak
pernah lagi saya merasakan
kesegaran air dunia sebab
Mahabbah kepada Allah telah
memuaskan rasa dahagaku. (4)
Tiap kali saya menghadapi dua
pilihan: Amal untuk kebahagiaan
dunia dan amal untuk
kebahagiaan akhirat, saya
memilih amal untuk kebahagiaan
akhirat. (5) Saya menemani Nabi
SAW dan berusaha menjadi
sahabat yang baik bagi beliau.”
Ilustrasi di atas hanya setetes
dari samudera hikmah yang bisa
membuat hidup kita semakin
baik; baik buat diri kita dan baik
untuk orang lain. Semoga kita
terpacu untuk meraih kunci-
kunci Syurga tersebut. Wallahu
A ’lam Bishawaab
Sabtu, 12 Maret 2011
SA'ID bin ZAID
"Wahai Allah jika Engkau
mengharamkanku dari agama
yang lurus ini, janganlah
anakku Sa'id diharamkan pula
daripadanya." (Do'a Zaid untuk
anaknya, Sa'id).
Zaid bin Amr bin Nufail berdiri
di tengah-tengah orang
banyak yang berdesak-
desakan menyaksikan kaum
Qurays berpesta merayakan
salah satu hari besar mereka.
Kaum pria memakai serban
sundusi yang mahal, yang
kelihatan seperti kerudung
Yaman yang lebih mahal. Kaum
wanita dan anak-anak
berpakaian bagus warna
menyala dan mengenakan
perhiasan indah-indah. Hewan-
hewan ternak pun dipakaikan
bermacam-macam perhiasan
dan ditarik orang-orang untuk
disembelih di hadapan patung-
patung yang mereka sembah.
Zaid bersandar ke dinding
Kakbah seraya berkata, "Hai
kaum Qurays! hewan itu
diciptakan Allah. Dialah yang
menurunkan hujan dari langit
supaya hewan-hewan itu
minum sepuas-puasnya. Dialah
yang menumbuhkan rumput-
rumputan supaya hewan -
hewan itu makan sekenyang-
kenyangnya. Kemudian, kalian
sembelih hewan-hewan itu
tanpa menyebut nama Allah.
Sungguh bodoh dan sesat
kalian."
Al-Khattab, ayah Umar bin
Khottob, berdiri menghampiri
Zaid, lalu ditamparnya Zaid.
Kata Al-Khattab, "Kurang ajar
kau! kami sudah sering
mendengar kata-katamu yang
kotor itu, namun kami biarkan
saja. Kini kesabaran kami
sudah habis!" Kemudian,
dihasutnya orang-orang
bodoh supaya menyakiti Zaid.
Zaid benar-benar disakiti
mereka dengan sungguh-
sungguh sehingga dia
terpaksa menyingkir dari kota
Mekah ke Bukit Hira.
Al-Khattab menyerahkan
urusan Zaid kepada
sekelompok pemuda Qurasy
untuk menghalang-halanginya
masuk kota. Karena itu, Zaid
terpaksa pulang dengan
sembunyi-sembunyi.
Kemudian, Zaid bin Amr bin
Nufail berkumpul ketika orang-
orang Qurasy lengah bersama-
sama dengan Waraqah bin
Naufal. Abdullah bin Jahsy,
Utsman bin Harits, dan
Umaimah binti Abdul Muthallib,
bibi Muhammad saw. Mereka
berbicara tentang kepercayaan
masyarakat Arab yang sudah
jauh tersesat. Kata Zaid, "Demi
Allah! sesungguhnya Saudara-
Saudara sudah maklum bahwa
bangsa kita sudah tidak
memiliki agama. Mereka sudah
sesat dan menyeleweng dari
agama Ibrahim yang lurus.
Karena itu, marilah kita pelajari
suatu agama yang dapat kita
pegang jika Saudara-Saudara
ingin beruntung."
Keempat orang itu pergi
menemui pendeta-pendeta
Yahudi, Nasrani, dan
pemimpin-pemimpin agama
lain untuk menyelidiki dan
mempelajari agama Ibrahim
yang murni. Waraqah bin
Naufal meyakini agama
Nasrani.
Abdullah bin Jahsy dan Utsman
bin Harits tidak menemukan
apa-apa. Sementara, Zaid bin
Amr bin Nufail mengalami
kisah tersendiri. Marilah kita
dengar ceritanya.
Kata Zaid, "Saya pelajari agama
Yahudi dan Nasrani. Tetapi,
keduanya saya tinggalkan
karena saya tidak memperoleh
sesuatau yang dapat
menenteramkan hati saya
dalam kedua agama tersebut.
Lalu, saya berkelana ke seluruh
pelosok mencari agama
Ibrahim. Ketika saya sampai ke
negeri Syam, saya diberitahu
tentang seorang Rahib yang
mengerti ilmu kitab. Maka, saya
datangi Rahib tersebut, lalu
saya ceritakan kepadanya
tentang pengalaman saya
belajar agama."
Kata Rahib tersebut, "Saya tahu
Anda sedang mencari agama
Ibrahim, hai putra Mekah?"
Jawabku, "Betul, itulah yang
saya inginkan."
Kata Rahib, "Anda mencari
agama yang dewasa ini sudah
tak mungkin lagi ditemukan.
Tetapi, pulanglah Anda ke
negeri Anda. Allah akan
membangkitkan seroang nabi
di tengah-tengah bangsa Anda
untuk menyempurnakan
agama Ibrahim. Bila Anda
bertemu dengan dia, tetaplah
Anda bersamanya."
Zaid berhenti berkelana. Dia
kembali ke Mekah menunggu
nabi yang dijanjikan. Ketika
Zaid sedang dalam perjalanan
pulang. Allah mengutus
Muhammad menjadi nabi dan
rasul dengan agama yang hak.
Tetapi, Zaid belum sempat
bertemu dengan beliau, dia
dihadang perampok-perampok
Badui di tengah jalan dan
terbunuh sebelum ia kembali
ke Mekah. Waktu dia akan
menghembuskan napasnya
yang terakhir, Zaid
menengadah ke langit dan
berkata, "Wahai Allah, jika
Engkau mengharamkanku dari
agama yang lurus ini,
janganlah anakku Sa'id
diharamkan pula daripadanya."
Allah memperkanankan doa
Zaid. Serentak Rasulullah
mengajak orang banyak masuk
Islam, Sa'id segera memenuhi
panggilan beliau, menjadi
pelopor orang-orang beriman
dengan Allah dan
membenarkan kerasulan Nabi
Muhammad saw.
Tidak mengherankan kalau
Sa'id secepat itu
memperkenankan seruan
Muhammad. Sa'id lahir dan
dibesarkan dalam rumah
tangga yang mencela dan
mengingkari kepercayaan dan
adat istiadat orang-orang
Qurasy yang sesat itu. Sa'id
dididik dalam kamar seorang
ayah yang sepanjang hidupnya
giat mencari agama yang hak.
Bahkan, dia mati ketika sedang
berlari kepayahan mengejar
agama yang hak.
Sa'id masuk Islam tidak
seorang diri. Dia masuk Islam
bersama-sama istrinya,
Fathimah binti al-Khattab, adik
perempuan Umar bin Khattab.
Karena pemuda Qurasy ini
masuk Islam, dia disakiti dan
dianiaya, dipaksa kaumnya
supaya kembali kepada agama
mereka. Usaha mereka tidak
berhasil. Bahkan sebaliknya,
Sa'id dan istrinya sanggup
menarik seorang laki-laki
Qurasy yang paling berbobot,
baik fisik maupun
intelektualnya dalam Islam.
Mereka berdualah yang telah
menyebabkan 'Umar bin
Khattab masuk Islam.
Sa'id bin Zaid bin Amr bin
Nufail membaktikan segenap
daya dan tenaganya yang
muda untuk berkhidmat
kepada Islam. Ketika masuk
Islam umurnya belum lebih
dari dua puluh tahun. Dia turut
berperang bersama Rasulullah
dalam setiap peperangan,
selain peperangan Badar.
Ketika itu dia sedang
melaksanakan suatu tugas
penting lainnya yang
ditugaskan Rasulullah
kepadanya. Dia turut
mengambil bagian bersama
kaum muslimin mencabut
singgasana Kisra Persia dan
menggulingkan kekaisaran
Rum. Dalam setiap peperangan
yang dihadapi kaum muslimin,
dia selalu memperlihatkan
penampilan dengan reputasi
terpuji. Agaknya yang paling
mengejutkan ialah reputasinya
yang tercatat dalam
peperangan Yarmuk. Marilah
kita dengarkan sedikit
kisahnya pada hari itu.
Berkata Sa'id bin Zaid bin Amr
bin Nufail, "Ketika terjadi
perang Yarmuk, pasukan kami
hanya berjumlah 24.000 orang,
sedangkan tentara Rum
berjumlah 120.000 orang.
Musuh bergerak ke arah kami
dengan langkah-langkah yang
mantap bagaikan sebuah bukit
yang digerakkan tangah-
tangan tersembunyi. Di muka
sekali berbaris pendeta-
pendeta, perwira-perwira
tinggi dan paderi-paderi yang
membawa kayu salib sambil
mengeraskan suara membaca
doa. Doa itu diulang-ulang oleh
tentara yang berbaris di
belakang mereka dengan
suara mengguntur."
Tatkala tentara kaum muslimin
melihat musuhnya seperti itu,
kebanyakan mereka terkejut,
lalu timbul rasa takut di hati
mereka. Abu Ubaidah bangkit
mengobarkan semangat jihad
kepada mereka. Kata Abu
Ubaidah dalam pidatonya,
antara lain, "Wahai hamba-
hamba Allah! menangkan
agama Allah, pasti Allah akan
menolong kamu dan
memberikan kekuatan kepada
kamu!"
"Wahai hamba-hamba Allah!
tabahkan hati kalian, karena
ketabahan adalah jalan lepas
dari kekafiran, jalan mencapai
keridaan Allah dan menolak
kehinaan."
"Siapkan lembing dan perisai!
tetaplah tenang dan diam,
kecuali mengingat Allah dalam
hati kalian masing-masing.
Tunggu perintah saya
selanjutnya, insya Allah!"
Kemudian, Sa'id melanjutkan
ceritanya. Tiba-tiba seorang
prajurit muslim keluar dari
barisan dan berkata kepada
Abu Ubaidah, "Saya ingin
syahid sekarang, adakah
pesan-pesan Anda kepada
Rasulullah?"
Jawab Abu Ubaidah, "Ya, ada!
Sampaikanlah salam saya dan
kaum muslimin kepada beliau.
Katakan kepada beliau,
sesungguhnya kami telah
mendapatkan apa yang
dijanjikan Tuhan kami!"
Setelah mengucapkan kata-
kata itu, saya lihat dia
menghunus pedang dan terus
maju menyerang musuh-
musuh Allah. Saya membanting
diri ke tanah, dan berdiri di
atas lutut saya. Saya bidikkan
lembing saya, lalu saya
melompat menghadang
musuh. Tanpa terasa perasaan
takut lenyap dengan sendirinya
di hati saya. Tentera muslimin
bangkit menyerbu tentara
Rum. Akhirnya Allah
memenangkan kaum muslimin.
Sesudah itu Sa'id bin Zaid turut
berperang menaklukan
Damsyiq. Setelah kaum
muslimin memperlihatkan
kepatuhan, Abu Ubaidah bin
Jarrah mengangkat Sa'id bin
Zaid menjadi wali di sana.
Dialah wali kota pertama dari
kaum muslimin setelah kota itu
dikuasai.
Dalam masa pemerintahan
Bani Umayah, merebak suatu
isu dalam waktu yang lama di
kalangan penduduk Yatsrib
terhadap Sa'id bin Zaid. Yakni,
seorang wanita bernama Arwa
binti uwais menuduh Sa'id bin
Zaid telah merampas tanahnya
dan menggabungkannya
dengan tanah Said sendiri.
Wanita tersebut menyebarkan
tuduhannya itu ke seantero
kaum muslimin, dan kemudian
mengadukan perkaranya
kepada Wali Kota Madinah,
Marwan bin Hakam. Marwan
mengirim beberapa petugas
kepada Sa'id untuk
menanyakan perihal tuduhan
wanita tersebut. Sahabat
Rasulullah ini merasa prihatin
atas fitnah yang dituduhkan
kepadanya itu.
Kata Sa'id, "Dia menuduhku
menzaliminya (meramapas
tanahnya yang berbatasan
dengan tanah saya).
Bagaimana mungkin saya
menzaliminya, padahal saya
telah mendengar Rasulullah
saw. bersabda, "Siapa saja
yang mengambil tanah orang
lain walaupun sejengkal, nanti
di hari kiamat Allah
memikulkan tujuh lapis bumi
kepadanya. Wahai Allah! dia
menuduh saya menzaliminya.
Seandainya tuduhan itu palsu,
butakanlah matanya dan
ceburkan dia ke sumur yang
dipersengketakannya dengan
saya. Buktikanlah kepada kaum
muslimin sejelas-jelasnya
bahwa tanah itu adalah hak
saya dan bahwa saya tidak
pernah menzaliminya."
Tidak berapa lama kemudian,
terjadi banjir yang belum
pernah terjadi seperti itu
sebelumnya. Maka, terbukalah
tanda batas tanah Sa'id dan
tanah Arwa yang mereka
perselisihkan. Kaum muslimin
memperoleh bukti, Sa'idlah
yang benar, sedangkan
tuduhan wanita itu palsu.
Hanya sebulan sesudah itu,
wanita tersebut menjadi buta.
Ketika dia berjalan meraba-
raba di tanah yang
dipersengketakannya, dia pun
jatuh ke dalam sumur.
Kata Abdullah bin Umar,
"Memang, ketika kami masih
kanak-kanak, kami mendengar
orang berkata bila mengutuk
orang lain, 'Dibutakan mata
kamu seperti Arwa'."
Peristiwa itu sesungguhnya
tidak begitu mengherankan.
Karena, Rasulullah saw.
bersabda, "Takutilah doa orang
teraniaya. Karena, antara dia
dengan Allah tidak ada batas."
Maka, apalagi kalau yang
teraniaya itu salah seorang
dari sepuluh sahabat
Rasulullah saw. yang telah
dijamin masuk surga, Sa'id bin
Zaid, tentu lebih diperhatikan
oleh Allah SWT.
Sumber: Shuwar min Hayaatis
Shahabah, Dr. Abdur Rahman
Ra'fat Basya
Rabu, 09 Maret 2011
Nasehat-Nasehat Gurunda
segala puji bagi allah swt
yg telah menciptakan kadar
segala sesuatu&memberi
hidayah.shalawat & salam atas
nabi muhammad saw sang
pembawa petunjuk
kebenaran ,beserta keluarga
nya,para sahabat & siapa saja yg
mengikuti sunah nya.
salah satu pemakna'an
yg penting dlm hidup ini adalah
memahami tujuan hidup kita ini
sebagai manusia,ajaran-ajaran
kearifan yg bersumber dalam
sinaran islam,banyak
mengajarkan bahwa tujuan
hidup manusia adalah
menyucikan jiwadan
membiarkan nya bergabung lagi
dengan'DUNIA CAHAYA'dari mana
dia berasal.tema ini meresap ke
dalam tradisi inteliktual.misal nya
dapat kita lihat dalam pandangan
filosof islam terkemuka,di antara
nya Ibnu sina yang
mengatakan:"kita telah
menetapkan situasi kembali yang
sejati.kita telah membuktikan
bahwa kebahagian di akhirat
dapat di peroleh dengan
membuat jiwa tak tertandingi."
maksud dari perkata'an
ibnu sina tentang'membuat jiwa
tak tertandingi' adalah kita harus
menjauhkan diri dari kondisi-
kondisi badaniyah yang
bertentangan dengan penyebab-
penyebab kebahagia'an.usaha
membuat jiwa tak tertandingi ini
di capai melelui ciri-ciri watak
dan perangai tertentu.ciri itu
adalah bahwa jiwa berpaaling
dari badan dan persepsi rasa
terus menerus mengigat sumber
nya sendiri.jika iya kembali pada
esensi nya sendiri,ia tidak dapat
lagi menerima aktivitas dari ka
ada'an-ke ada'an badaniyah itu
sendiri.
firman allah swt:''Demi jiwa dan
dia yang menyempurnakan nya
dan memperkenalkan keburukan
dan kebaikan.sungguh
beruntung orang yang dapat
menyucikan jiwa,dan merugilah
orang yang mengotori
nya"(QS.asy-syam ayat 7-10)
Dalam sebuah hadits
nabi muhammad saw bersabda
yang artinya:"musuh mu yang
paling buruk adalah jiwa mu
yang berada di antra ke dua sisi
mu"
Manusia mempunya
kelebiha diantara semua
makhluk ,kelebiha itu adalah
bahwa manusia mempuyai 2
deminsi,Pertama,dimensi
materi,yang di dalam filsafat di
namakan juga dimensi hewani,Di
dalam filsafat jasad manusia
dinamakan dengan gharizah
(insting)atau raghbah
(kecendrungan).sementara di
dalam ilmu akhlaq dan irfan islam
di nama kan dengan orientasi
hewan atau dimensi hewani
manusia.oleh karena itu dari
deminsi ini manusia adalah
hewan dlam arti yang sesungguh
nya,dan tdk berbeda sama sekali
dengan hewan-hewan yang lain.
Manusia juga memiliki
dimensi spiritual,dimensi ini
meliputi yang di dalam filsafat di
namakan dng roh.oleh karena itu
para ulama mengatakan manusia
itu terdiri dari roh dan
jism,akal,nurani,hati,nafs semua
nya mempunyai arti yang
sama,yaitu semua tertuju kepada
sisi spiritual
manusia,.kesempurna'an
manusia terjadi,melalui
komposisi ini.oleh karena malikat
hanya memiliki dimensi spiritual
saja,maka dia tidak bisa di
lihat,dan tidak akan bisa
mencapai sisi kesempurna'an.
Meskipun jibril adalh
malikat yg sangat dekat dengan
allah swtdan memiliki keluasan
wujudi atas alam ini,dan
sebagaimana rasulullah saw
bersabda:''jika seorang mampu
mencakup haqiqat malikat jibril
maka ia juga memiliki
penguasa'an atas alam semesta
ini"namun malikat jibril tidak
mempunyai
kesempurna'an.benar keluasan
wujud malikat jibri sangat
besar,karna dia malaikat yg
sangat dekat dengan allah
swt,demikian juga hal nya
dengan malaikat izrail.akan tetapi
tidak ada perbeda'an sedikitpun
malaikat jibril yang sekarang
dengan malaikat jibril semiliyar
tahun yg lalu,padahal dia
senantiasa bersungguh-
bersungguh beribadah kpd allah
swt.
Al-Qur'an menegaskan
bahwa malaikat jibril sama sekali
tidak menentang dan bermaksiat
kpd allah dan ke ada'an nya
seperti keada'an malaikat yg
lain,yaitu tidak berjalan menuju
kepada kesempurna'an.hewan
juga tidak memiliki
kesempurna'an.sebagai
contoh,semut dan lebah hidup
secara berkelompok dan
mempunyai peradaban dan pola
hidup yg khas.para ulama islam
telah menulis kitab mengenai
hewan-hewan ini,salah satu nya
adalah Ad-Darimi.
sistem peradaban
yang di ikuti di dalam kehidupan
serangga ini mengungguli sistem
peradaban yang di ikuti oleh
sebagian
manusia.namun,meskipun
memiliki peradaban yang
demikian ini ,lebah misal
nya,tidak berjalan menuju
kesempurna'an.semiliyar tahun
yang lalu lebah telah mampu
membangun rumah yang sangat
maju sekali,yang membuat
insyinyur terkagum kagum akan
ketelitian nya,akan
tetapi,sekarang lebah masih
tetap membangun rumah yang
sama,tidak terdapat kemajuan
apapun dalam cara membangun
rumah atau dalam sistem
kehiduapn yang berlaku pada
semut,untuk sampai pada
peradaban yg lebih
maju,kemajuan dan
kesempurna'an hanya ada pada
alam cipta'an yang bernama
manusia.karena manusia
memiliki 2 dimensi:dimensi
malakut dan di namakan dengan
ROH
Yang kedua,adalah
dimensi kemalaikatan/
roh,komposisi yang sangat
mengagumkan.dalam arti cara
susunan ini tidak di ketahui
hingga skrng,dan tentunya kita
tidak bisa mengetahui hakikat
susnan ini,tidak ada filosof yg
dapat menjelaskan susunan roh
dan jasad.mereka hanya cukup
mengatakan"sesungguhnya cara
susunan ini adalah cara
tallauqiyyah".Namun apa itu cara
susunan talluqiyah???yang
jelas,ini merupakan susunan
yang berlawanan.
Terdapat riwayat yang
datang dari rasulullah saw ber
kena'an dengan perjalanan
mi'raj nya,di dalam riwayat itu
rasulullah saw bersabda,yang
artinya:''Pada malam mi'raj aku
melihat seorang malaikat yang
sebagian tubuh nya terbuat dari
api dan sebagian yang lain
terbuat dari salju'' .salju tidak
dapat merembes ke api,begitu
juga api tidak dapat menjalar ke
salju.jika kita ingin memahami
riwayat ini,maka ketahuilah diri
kita adalah sebaik baik contoh
dalam hal ini,
Semua kecendrongan
roh kita tidak sejalan dengan
jasad kita,sebalik
nya,kecendrongan-
kecendrongan jasad kita juga
menyusahkan dan melukai roh
kita,anda tidak akan bisa
menemukan kelezatan roh yang
dapat menyenangkan
jasad.sebagai contoh,sifat
mangkaji ilmu,sifat mencari
kebenaran,sifat toleransi,sifat
berkorban,dan semua sifat yang
terkait dengan deminsi roh
manusia.ketika masalah dapat di
pecahkan,maka roh akan
merasakan kelezatan yang
sangat,akan tetapi kelezatan roh
itu akan di ikutui oleh rasa sakit
pada jasad,artinya,pencarian
kebenaran manyebabkan
kelelahan pada jasad,begitu juga
pencarian ilmu.
Semua urusan itu
menyebabkan rasa sakit dan
kelelahan bagi jasad
anda,adapun
makan,minum,memenuhi
tuntutan syahwat dan istirahat
adalah kebutuhan-kebutuhan
yang bermnfaat bagi
jasad.namun,sebagai mana yang
di kata kan matsnawi,setiap kali
anda memberikan perhatian
pada jasad ini maka pada sa'at
yang sama anda membunuh roh
dan mendatangkan
kemalasan,kepaatan bagi
roh.susunan apakah di antar dua
hal yang berlawanan ini???ini
adalah susunan yang manusia
dapat mencapai kesempurna'an
dengan nya.
Terkadang dimensi
malakut,yang kita nama kan
denga roh,menunggangi dimensi
materi yang di namakan dimensi
hewani dan bergerak kedepan
dengan gerak
kesempurna'an.dalam arti jasad
ini tidak ubah nya menjadi kuda
tunggangan bagi roh,sedangkan
roh mendidik jasad dan
mengendalikan nya ke mana iya
pergi,sehingga bisa sampai
kesuatu tempat yang tidak
seorang pun tahu kecuali allah
swt.dia tidak ubah nya sepertti
buraq yang di tunggangi
rasulullah hingga beliau
kemudian naik ketampat yang
lebih tinggi.namun bagai mana
buraq itu bisa naik ketempat
yang lebih tinggi kita tidak bisa
mengetahui nya.sesungguh nya
yang kita ketahui ialah bahwa
rasulullah saw pergi beserta
dengan jasad nya kepada suatu
tempat yang mana dia sangat
dekat dengan allah swt.
Senin, 07 Maret 2011
MUTIARA HIKMAH PARA SALAF
"Berziarahlah kamu kepada
orang-orang soleh! Karena
orang-orang soleh adalah obat
hati."
(Habib Abdullah bin Muhsin Al-
Attas)
Seindah-indahnya tempat di
dunia adalah tempat orang-
orang yang soleh, kerana
mereka bagai bintang-bintang
yang bersinar pada tempatnya
di petala langit."
(Habib Alwi bin Muhammad Al-
Haddad)
"Apakah kamu mau tahu kunci-
kunci syurga itu ? Kunci Syurga
sebenarnya adalah
"Bissmillahirramanirrahim"
(Al Habib Abdullah Bin Muhsin
Al Atthos)
"Sebaik-baiknya teman adalah
Al-Qur'an! dan seburuk-
buruknya teman adalah
syaitan!"
(Al Habib Abdullah Bin Muhsin
Al Atthos)
"Orang yang sukses adalah
orang yang istiqomah di dalam
amal baik."
(Al Habib Alwi Bin Muhammad
Bin Tohir Al Haddad)
"Semua para wali di angkat
karena hatinya yang bersih,
tidak sombong, dengki, dan
selalu rendah diri"
(Al Habib Muhsin Bin Abdullah
Al Atthos)
Jadikan akalmu, hatimu,
ruhmu, jasadmu, karena bila
semua terisi dengan namanya
berbahagialah kamu “.
(Al Habib Abdullah Bin Muhsin
Al Attas)
Jadilah orang-orang yang
sholeh, karena orang-orang
yang sholeh akan bahagia di
dunia dan akherat .
Dan jadilah orang-orang yang
benar, jangan menjadi orang
yang pintar, karena orang yang
pintar belum tentu benar,
tetapi orang yang benar sudah
pasti pintar “.
(Al Habib Abdullah Bin Abdul
Qadir Bin Ahmad Bilfaqih)
Ilmu itu bagai lautan dan tak
akan ada yang mengenalnya
kecuali merasakannya “.
Al Habib Abdurrahman Bin
Ahmad Assegaf
Janganlah kau tunda-tunda
kebaikan sampai esok hari,
karena engkau tak tahu
apakah umurmu sampai esok
hari".
Orang yang buta bukan orang
yang melihat banyaknya harta,
akan tetapi, yang disebut
orang buta, orang yang tak
mau melihat ilmu agama".
(Al Habib Abdullah Bin Mukshin
Al-Attas)
Minggu, 06 Maret 2011
Sedekah Dapat Membuka Pintu Hidayah
Sedekah Membuka Pintu
Hidayah
Keutamaan sedekah sungguh
sangat banyak sekali dan luar
biasa. Mulai dari
memperpanjang umur,
membuat harta berkah dan
bertambah, mencegah
musibah hingga menunda
kematian. Namun ternyata
tidak hanya itu, sedekah dapat
pula membuka pintu hidayah
seseorang. Hal ini dapat kita
simak dari cerita berikut ini.
Sebut saja namanya dengan
Amir. Dahulu Amir ini adalah
seorang yang gemar
melakukan hal-hal yang
dilarang oleh agama dan juga
dikenal oleh masyarakat sekitar
sebagai orang yang kikir,
meskipun memiliki kekayaan
dibandingkan dengan warga
yang lain. Namun setelah ia
bertobat dan insaf, shalat lima
waktu tidak pernah
ditinggalkan dengan
berjamaah di masjid. Dia juga
rajin ikut pengajian yang
diadakan di masjid tersebut.
Malam itu, seperti biasa sang
ustadz memberikan tausiyah
bagi jamaah. Tausiyah kali ini
adalah tentang keutamaan
shadaqah atau sedekah. Sang
ustadz menjelaskan jika kita
memiliki harta 1000 dirham
kemudian 300 dirham kita
sedekahkan, maka yang 300
dirham itulah yang
sesungguhnya kekal dan akan
dinikmati di akhirat nanti.
Bahkan yang 300 dirham itu
dapat bertambah karena Allah
akan melipatgandakan
sebanyak tujuh ratus kali.
Selain itu, harta yang dimiliki
pun akan dipenuhi dengan
keberkahan.
Setelah mendengar tausiyah
dari pengajian malam itu, Amir
berniat untuk mensedekahkan
sebagian hartanya guna
mendapatkan ridha dan
keberkahan dari Allah Swt.
Dengan hati yang tulus dan
niat yang sangat kuat untuk
mengeluarkan sedekah, malam
itu ia keluar rumah dengan
membawa kantong yang berisi
100 dirham. Begitu sampai di
rumah yang ditujunya, ia
mengetuk pintu. Seseorang
lantas muncul dari dalam
rumah. Setelah Amir
mengucapkan salam lantas
menyerahkan kantong yang
berisi 100 dirham tersebut
kepada pemilik rumah, tanpa
berpanjang lebar ia pamit.
Peristiwa tersebut didengar
oleh warga dan warga pun
merasa terheran-heran,
bahkan ada yang mengejek
bahwa Amir ini telah salah
sasaran dalam mengeluarkan
sedekah. Karena ternyata yang
diberikan sedekah itu adalah
seorang pencuri.
Perbincangan warga setempat
sampailah ke telinga si Amir, ia
hanya berujar dalam hati, “
Alhamdulillah, telah bersedekah
kepada seorang pencuri. ”
Hari berikutnya, ketika malam
tiba, seperti biasa Amir keluar
rumah dengan membawa
kantong yang berisi 100
dirham untuk disedekahkan.
Rumah yang dia pilih kali ini
adalah rumah yang berada di
pinggiran kota. Setelah ia
memilih rumah tersebut,
kemudian ia mengetuk pintu.
Keluarlah pemiliki rumah yang
ternyata seorang wanita.
Setelah mengucapkan salam ia
menyerahkan sedekahnya
tersebut dan langsung pergi.
Berita ini kemudian sampai lagi
ke telinga warga dan menjadi
pembicaraan yang hangat di
antara warga tersebut. Para
warga mengatakan dengan
nada yang agak sinis,
“Meskipun rajin ke masjid tapi
sedekah yang dikeluarkan kok
salah sasaran terus, tempo hari
memberikan kepada pencuri,
sekarang memberikan kepada
pelacur, sebenarnya apa sih
yang dipikirkan oleh si Amir
ini.”
Tatkala obrolan warga ini
sampai ke telinganya, Amir
hanya mengucapkan
“ Alhamdulillah telah
bersedekah kepada seorang
pelacur. ”
Malam harinya, Amir kembali
keluar rumah dengan
membawa kantong yang berisi
100 dirham, seperti yang
sudah-sudah. Ia menuju rumah
yang dekat dengan pusat
perbelanjaan. Setelah
memberikan sedekahnya ia
lantas pulang dengan harapan
sedekahnya kali ini tidak salah
sasaran.
Namun pagi harinya warga
kembali mengomentari
sedekah yang diberikan oleh
Amir. Mereka mengatakan
bahwa apa yang Amir
sedekahkan lagi-lagi salah
sasaran. “Kemarin bersedekah
untuk pelacur, tempo hari
sedekah diberikan kepada si
pencuri, semalam dia
bersedekah untuk orang kaya
padahal orang yang miskin
yang membutuhkan uluran
tangannya cukup banyak di
sekitarnya, orang yang aneh.”
Ungkap warga.
Amir mendengar kembali apa
yang warga bicarakan
mengenai sedekah yang ia
keluarkan. Setelah mendengar
pembicaraan dan komentar
warga yang cukup sinis, Amir
hanya berucap Alhamdulillah
aku telah bersedekah kepada
orang kaya, pelacur dan
pencuri.
Malam harinya, Amir
melaksanakan shalat tahajjud,
setelah melaksanakan tahajjud
Amir terlelap tidur. Ketika tidur,
Amir bermimpi ia didatangi
oleh seseorang yang
memberikan informasi bahwa
sedekah yang telah ia berikan
kepada pencuri, membuat
pencuri itu insaf dan tidak
melakukan pencurian kembali.
Sedekah yang ia berikan
kepada pelacur, membuka
pintu hidayah bagi wanita
tersebut untuk meninggalkan
pekerjaannya sebagai pelacur
dan bertobat kepada Allah Swt.
Sedangkan sedekah yang ia
berikan kepada orang yang
kaya, ternyata orang kaya itu
adalah orang yang pelit.
Setelah menerima sedekah dari
Amir, orang kaya tersebut mau
mengeluarkan zakat, infak dan
sedekah. Sedekah yang ia
keluarkan diterima oleh Allah
Swt, karena Amir ikhlas dalam
mengeluarkan sedekah
tersebut.
Dengan kejadian tersebut, Amir
semakin banyak mengerjakan
kebaikan dan semakin khusyuk
dalam beribadah. Dia
menyadari bahwa yang
terpenting dalam mengerjakan
amal ibadah adalah niat yang
tulus dan ikhlas karena Allah
Swt semata, bukan karena
perkataan orang banyak. Dan
apa yang telah dilakukan oleh
Amir semakin membuktikan
kekuatan sedekah, bahwa
sedekah dapat membuka pintu
hidayah.
Kamis, 03 Maret 2011
IMAM HASAN AL-MUJTABA as (bag. 4)
Mereka tersebar ke mana-mana. Ada yang ke Makkah, ke Madinah dan juga ke tempat-tempat lain. Nasibibu tua dan suaminya pun tak berbeda dengan tetangganyayang lain. Sang ibu dan suaminya pergi menuju Madinah. Di kota yang baru ini mereka berjalan mencari nafkah untuk menyambung hidup. Di tengah pengembaraannya menyusuri jalan-jalan di Madinah,tanpa sadar, ibu itu melewati rumah Al Hasan as Sang ibu rupanya sudahtak ingat lagi kepada ketiga tamunya yang dahulu. Itulah sebabnya, ia tak berusaha mencari mereka. Secarakebetulan, ketika ibu itu lewat, Al Hasan sedang duduk di depan rumahnya. Al Hasan melihat mereka, dan mengejar sepasang suami-isteri itu, kemudian menegurnya. “Ingkatkah ibu kepada saya?” tanyanya. “Demi Allah, aku tidak ingat siapa engkau,” jawab ibu itu. “Ingkatkah ibu kepada tiga orang tamu yang kehabisan bekal di tengah perjalanan mereka untuk berhaji?” “Tidak!” “Baiklah, apabila ibu tak ingat kepada saya, maka saya masih dapat mengenali ibu. Saya adalah Hasan bin Ali, orang yang perarnah ibu beri makanan dan minuman untuk bekal saya dan dua orang saudara yang lain menuju Mekkah. Mari, silahkan ibu ke rumah saya!” kata Al Hasan as seraya mengiringi keduanya menuju kediamannya. Di rumah Al Hasan itulah keduanya menceritkan keadaan yang menimpa desa mereka. Al Hasan menyambut keduanya dengan sambutan yang sangat baik. Dijamu kedua tamunya itu dengan penuh hormat. Sebelum pulang, Al Hasan as memberi keduanya uang seribu dinar dan beberapa ekor kambing. Kemudian Al Hasan memanggil pembantunya dan berkata: “Antarkan kedua tamuku ini ke rumah saudaraku, Husain, dan kerumah Ja’far!” “Baik Tuan!” kata kadamnya. Mereka bertiga kini dalam perjalanan menuju rumah Husainbin Ali as “Assalamu’alaikum,” kata kadam Al Hasan. “Wa alaikum salam,” terdengar jawaban dari dalam rumah. Tak lama setelah itu, Al Husain membukakan pintu. Ia mengenal kadam Al Hasan. “Aku disuruh mengantarkan kedua tamu ini kemari,” kata teman itu. Al Husain melihat tamunya. Ternyata ia pun masih mengenal ibu tersebut. Al Husain segera menyambutnya dengan penuh hormat. “Mari, silakan masuk! Alhamdulillah, akhirnya Allah mempertemukan kita kembali.” “Allah Mahabesar!” jawab si ibu. Setelah berbincang-bincang, sebelum minta diri, Al Husain memberi ibu tersebut seribu dinar uang dan beberapa ekor domba. “Sungguh Anda sangat mulia,” kata si ibu. “Semoga Allah yang membalas semua kebaikan ini,” tambah suaminya.” Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam!” jawab Al Husain. Mereka berdua mohon diri, dan bersama kadam Al Hasanpergi kerumah Ja’far. Tak beza dengan Al Hasan dan Al Husain, Ja’far bin Abdullah pun menyambut kedua tamunya itu dengan baik. Ternyata, ia pun masih mengenal si ibu tua. “Astaga… bagaimana kabar kalian!” tanya Ja’far setelah membalas salam keduanya. “Alhamdulillah, Allah masih melindungi kami,” kata si suami. “Dan Mahabesar Allah yang telah mempertemukan kita kembali,” kata si isteri. Setelah lama merekaberbincang-bincang, Ja’far memerintahkan kadamnya menyiapkan beberapa ekor domba, sedangkan ia sendiri masuk mengambil uang. Ia pun memberi ibu tersebut uang seribu Dinar dan beberapa ekor Domba. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Ja’far dan bersyukur kepada Allah SWT, mereka pun memohon pulang. Suami isteri itu kemudian kembalike desanya dengan bekal tiga ribu dinar uang dan beberapa ekor domba. Mereka menjadi orang yang terkaya di desanya. Kedermawanan Al Hasan as itu sesuai dengan sabdaNabi s.a.w.:”Kepada Al Hasan aku wariskan kesabaran dan kedermawananku.” Sejarah mencatat, bahwa setelah Imam Ali bin Abi Thalib as wafat, orang ramai membaiat Al Hasan as sebagai Khalifah yang baru. Pada masa itu, keadaan kaum Muslim masih belum bersatu benar. Pemberontakan telah terjadi sejak Ali bin Abi Thalib a.s menjadi Khalifah. Berontakan-berontakan dengan beberapa kelompok kaum Muslimin – yang memerangi Imam Ali a.s dengan alasan menuntut balas atas terbunuhnya Khalifah Utsman binAffan tak lagi dapat dihindari. Di antara orang yang gigih menuntut balas atas kematian Utsman, adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Ia yang pada masa pemerintahan Utsman menjadi gubenur di Syam – sudah sejak beberapa waktu sebelumnya menyiapkan tentara. Utsman adalah kerabatnya dari kalangan Bani Umayyah. Dengan tak memberi kesempatan kepada Imam Ali untuk menyelidiki kenapa terbunuhnya Utsman, Mu’awiyah berangkat memerangiImam Ali. Sebenarnyalah, Mu’awiyah sangatmenginginkan jabatan Khalifah. Karena ia sadar bahwa kaum Muslimin bakal memilih Ali bin AbiThalib, maka ia buru-buru memerangi Imam Ali as dengan dalil menuntut balas atas terbunuhnya Utsman. Dalam peperangan dengan ImamAli itu, Mu’awiyah dan pengikutnya terdesak. Maka selamatlah mereka dari kehancuran. Namun demikian pemerintahan Imam Ali ternyata berakhir dengan peristiwa pembunuhan atasnya, ketika beliau sedang memimpin shalat Subuh. Suasananegara menjadi tidak menentu sepeninggal Imam Ali. Dalam keadaan kacau itulah Al Hasan dibaiat. (bersambung...)
ANTARA SABAR DAN MENGELUH
Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Diwaktu tawaf tiba-tiba ia melihatseorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya.
"Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu,tidak lain kerana itu pasti kerana tidak pernah risau dan bersedih hati."
Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, "Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati kerana risau, dan seorang pun yang menyekutuinya aku dalam hal ini."
Abu Hassan bertanya,"Bagaimana hal yang merisaukanmu ?"
Wanita itu menjawab, "Pada suatu hari ketika suamiku sedangmenyembelih kambing korban, dan pada aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besarberkata pada adiknya, "Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?"
Jawab adiknya, "Baiklah kalau begitu ?"
Lalu disuruh adiknya baring dan disembelihkannya leher adiknya itu. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah memancut keluar dan lari ke bukit yang mana di sana ia dimakan oleh serigala, lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tibabayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya habis melecur kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang telah berkahwin dan tinggal di daerah lain, maka ia jatuh pengsan hingga sampai menuju ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara di antara mereka semua."
Lalu Abul Hassan bertanya,"Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu ?"
Wanita itu menjawab, "Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka."
Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap terkena musibah dan dugaan dari Allah. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi,:
" Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil keksaihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya."
Begitu juga mengeluh. Perbuatanini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda,:
" Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang."
Dan sabdanya pula, " Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah,dan orang yang mengeluh, jika iamati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya bagi pakaiandari wap api neraka." (Riwayat oleh Imam Majah)
Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.
Senin, 28 Februari 2011
يا رسول الله سلام عليك ( Ya Rasulullah Salamun 'Alaik ) IMAM HADDAD
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
يا رسول الله سلام عليك
( Ya Rasulullah Salamun 'Alaik )
يَا إِمَامَ الرُّسْلِ يَا سَنَدِي
Wahai penghulu para rasul ! wahai sandaranku
أَنْتَ بَعْدَ الله مُعْتَمَدِي
Setelah Allah, engkau adalah peganganku
فَبِـدُنْيـَايَ وَآخِـرَتِي
Dalam urusan dunia dan akhiratku
يا رسول الله خُذْ بِيَدِيْ
Wahai rasulullah! Bantulah aku
عَطْفَـةً يَا جِيْرَةَ الْعَلَـمِ
Belas kasihmu wahai yang berjiran dengan Ka’bah
يَا أُهَيْلَ الْجُوْدِ والْكَـرَمِ
Wahai keluarga yang bermurah dan mulia
نحنُ جِيْرَانٌ بِذَا الْحَـرَمِ
Kami berada berhampiran dengan Kota Haram
حَرَمُ الإحْسَانِ والْحَسَـنِ
Kota yang penuh ihsan dan kebaikan
نحن مِنْ قَوْمٍ بِهِ سَكَنـُوْا
Kami daripada kaum yang tinggal di Kota Haram
وَبِهِ مِنْ خَوْفِهِمْ أَمِنـُوْا
Di dalamnya mereka aman daripada ketakutan
وَبِآيَاتِ الْقُرْآنِ عُنـُوْا
Dan oleh ayat-ayat Al-Quran mereka di perhatikan
فَاتَّئِـدْ فِيْنـَا أَخَا الْوَهَـنِ
Maka janganlah kamutergesa-gesa atas kami wahai saudara yang lemah
نَعْرِفُ الْبَطْحـَاء وَتَعْرِفُنـَا
Kami kenal kepada padang pasir (Mekkah) dan ia mengenal kami
وَالصَّـفَا وَالْبَيْـتُ يَأْلَفُنـَا
Demikian pula Bukit Sofa dan Ka ’ bah
وَلَنَا الْمَعْـلَى وَخَيْـفُ مِنَى
Untuk kami Ma ’ la dan Khaif Mina
فَاعْلَمَـنْ هذَا وَكُنْ وَكُـنِ
Ketahuilah engkau akan hal ini dan yakinlah
وَلَنـَا خَيْـرُ الأَنـَـاِم أَبُ
Untuk kami sebaik-baik manusia sebagaiayah
وعَـلِيٌّ الْمُرْتَضَـى حَسَـبُ
Dan Ali Al-Murtadha sebagai datuk kami
وإِلَى السِّـبْطَيْـنِ نَنْتَسِـبُ
Kepada dua cucu Nabi(Hasan & Husein) kami bernasab
نَسَبـًا مَا فِيْـهِ مِـنْ دَخَـنِ
Nasab yang tiada terdapat keraguan
أَهْلُ بَيْتِ الْمُصْطَـفَى الطُّهُـرِ
Keluarga nabi yang suci
هُـمْ أَمَـانِ الأَرْضِ فَاذَّكِـرِ
Mereka pengaman dimuka bumi, maka ingatlah itu
شُـبِّهُـوْا بِالأَنْجُـمِ الزُّهُـرِ
Mereka umpama bintang-bintang yanggemerlapan
مِثْلَ مَا قَدْ جَـاءَ فِي السُّنَـنِ
Sebagaimana telah di nyatakan dalam hadith-hadith
وسَـفِـيْنٌ لِلنَّـجَـاةِ إِذَا
Mereka umpama bahtera keselamatan bila
خِفْتَ مِنْ طُوْفَانِ كُلِّ أَذًى
Kau takut angin taufan yang menghanyutkan
فَانْجُ فِيْهَا لاَ تَكُوْنُ كَـذَا
Maka naiklah ke atasnya kau akan selamat
فَاعْتَصِمْ بِاللهِ وَاسْتَعِنِ
Berpegang teguhlah dengan Allah dan mintalah pertolongan
رَبِّ فَانْفَعْنَا بِبَرْكَتِهِمْ
Ya Allah, kurniakanlahkami dengan berkat mereka
وَاهْدِنَا الْحُسْنَى بِحُرْمَتِهِمْ
Berilah petunjuk padakami jalan yang baik dengan kehormatan mereka
وَأَمِتْـنَا فِي طَرِيْقَتِهِمْ
Matikanlah kami padajalan mereka
وَمُعَـافَاةٍ مِنَ الْفِتَنِ
Serta selamatkanlah kami dari fitnah
ثُمَّ لاَ تَغْتَرَّ بِالنَّسَبِ
Janganlah engkau membanggakan diri dengan nasabmu
لاَ وَلاَ تَقْنَعْ بِكَانَ أَبِي
Dan jangan pula engkau merasa cukupdengan kejayaan ayahmu
وَاتَّبِعْ فِي الْهَدْيِ خَيْرَ نَبِيّ
Ikutilah sebaik-baik nabi dalam petunjuknya
أحْمَدِ الْهَادِي إلَى السَّنَنِ
Iaitu Ahmad, pemberipetunjuk pada jalan yang benar
Rabu, 23 Februari 2011
الراتب الشهير للحبيب عبد الله بن علوي الحداد Ratib Al Haddad part.5
27. اَلْفَاتِحَةَ
إِلَى رُوحِ سَيِّدِنَا الْفَقِيْهِ الْمُقَدَّمِ مُحَمَّد بِن عَلِيّ باَ عَلَوِي وَأُصُولِهِمْ وَفُرُوعِهِمْ
وَكفَّةِ سَادَاتِنَا آلِ أَبِي عَلَوِي أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ
وَبِأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِ هِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَالآخِرَةِ.
27. Bacalah Al- fatihah kepada roh Penghulu kita al-Faqih al-Muqaddam, Muhammad ibn AliBa’alawi, dan kepada asal - usul dan keturunannya, dan kepada semua penghulu kita dari keluarga bani ‘Alawi, moga - moga Allah tinggikan darjat mereka di syurga, dan memberi kita manfaat dengan mereka, rahsia-rahsia mereka, cahaya mereka di dalam agama, dunia dan akhirat.
28. اَلْفَاتِحَةَ
إِلَى أَرْوَاحِ ساَدَاتِنَا الصُّوْفِيَّةِ أَيْنَمَا كَانُوا فِي مَشَارِقِ الأَرْضِ وَمَغَارِبِهَا وَحَلَّتْ
أَرْوَاحُهُمْ - أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَبِعُلُومِهِمْ وَبِأَسْرَارِهِمْ
وَأَنْوَارِ هِمْ، وَيُلْحِقُنَا بِهِمْ فِي خَيْرٍ وَعَافِيَةٍ.
28. Bacalah al- fatihah kepada roh -roh Penghulu kita Ahli Ahli Sufi, di mana saja roh mereka berada, di timur atau barat, moga moga Allah tinggikan darjat mereka di syurga, dan memberi kita manfaat dengan mereka, ilmu-ilmu mereka, rahsia-rahsia mereka, cahaya mereka, dan golongkan kami bersama mereka dalam keadaan baik dan afiah.
29. اَلْفَاتِحَةَ
إِلَى رُوْحِ صاَحِبِ الرَّاتِبِ قُطْبِ الإِرْشَادِ وَغَوْثِ الْعِبَادِ وَالْبِلاَدِالْحَبِيْبِ عَبْدِ اللهِ
بِنْ عَلَوِي الْحَدَّادوَأُصُوْلِهِ وَفُرُوْعِهِ أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّة وَيَنْفَعُنَابِهِمْ
وَأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِهِمْ بَرَكَاتِهِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَالآخِرَةِ.
29. Bacalah fatihah kepada roh Penyusun Ratib ini, Qutbil-Irshad , Penyelamat kaum dan negaranya, Al-Habib Abdullah ibnAlawi Al-Haddad, asal - usul dan keturunannya, moga moga Allah meninggikan darjat mereka di syurga, dan memberi kita manfaat dari mereka, rahsia-rahsia mereka, cahaya dan berkat mereka di dalam agama, dunia dan akhirat.
30. اَلْفَاتِحَة
إِلَى كَافَّةِ عِبَادِ اللهِ الصّالِحِينَ وَالْوَالِدِيْنِ وَجَمِيْعِ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ أَنْ اللهَ يَغْفِرُ لَهُمْ وَيَرْحَمُهُمْ وَيَنْفَعُنَا بَأَسْرَارِهِمْ وبَرَكَاتِهِمْ
30. Bacalah Fatihah kepada hamba hamba Allah yang s o leh, ibu bapa kami, mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, moga moga Allah mengampun i mereka dan merahmati mereka dan memberikita manfaat dengan rahsia rahsia dan barakah mereka.
31. (ويدعو القارئ):
31. Berdoalah disini apa yang di hajati. :
اَلْحَمْدُ اللهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وأَهْلِ بَيْتِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِحَقِّ الْفَتِحَةِ الْمُعَظَّمَةِ وَالسَّبْعِ
الْمَثَانِيْ أَنْ تَفْتَحْ لَنَا بِكُلِّ خَيْر، وَأَنْ تَتَفَضَّلَ عَلَيْنَا بِكُلِّ خَيْر، وَأَنْ تَجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ
الْخَيْر، وَأَنْ تُعَامِلُنَا يَا مَوْلاَنَا مُعَامَلَتَكَ لأَهْلِ الْخَيْر، وَأَنْ تَحْفَظَنَا فِي أَدْيَانِنَا
وَأَنْفُسِنَا وَأَوْلاَدِنَا وَأَصْحَابِنَا وَأَحْبَابِنَا مِنْ كُلِّ مِحْنَةٍ وَبُؤْسٍوَضِيْر إِنَّكَ وَلِيٌّكُلِّ
خَيْر وَمُتَفَضَّلٌ بِكُلِّ خَيْر وَمُعْطٍ لِكُلِّ خَيْر يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن.
Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam, segala puji pujian bagi - Nya atas penambahan ni k mat-Nya kepadakami, moga moga Allah mencucurkan selawat dan kesehahteraan ke atas Penghulu kami Muhammad , ahli keluarga dan sahab a t - sahabat baginda. Wahai Tuhan, kami memohon dengan haq (benarnya) surah fatihah yang Agung, iaitu tujuh ayat yang selalu di ulang-ulang, bukakan untuk kami segala perkara kebaikan dan kurniakanlah kepada kami segala kebaikan, jadikanlah kamidari golongan insan yang baik; dan peliharakanlah kami Ya tuhan kami. sepertimana Kamu memelihara hamba-hambaMu yang baik, lindungilah agama kami, diri kami, anak anak kami, sahabat-sahabat kami, serta semua yang kami sayangi dari segala kesengsaraan, kesedihan, dan kemudharatan.
Sesungguhnya Engkaulah Maha Pelindung dari seluruh kebaikan dan Engkaulah yang mengurniakan seluruh kebaikan dan memberi kepada sesiapa saja kebaikan dan Engkaulah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Amin Ya Rabbal Alamin.
32. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْـأَلُكَ رِضَـاكَ وَالْجَنَّـةَ وَنَـعُوْذُ بِكَ مِنْ سَـخَطِكَ
وَالنَّـارِ. (3X)
32. Ya Allah, sesungguhnya kami me mohon keredhaan dan sy u rga - Mu; dan kami me mohon perlindungan - Mu dari kemarahan - Mu dan api neraka. (3 X )
Dari Tirmidhi dan Nasa’i, diriwayatkan daripada Anas ibn Malik: Rasulullah s.a.w. bersabda, “Jikalau sesiapa memohon kepada Allah untuk syurga tiga kali, Syurga akan berkata, “Ya Allah bawalah dia ke dalam syurga;” dan jikalau ia memohonperlindungan dari api neraka tiga kali, lalu neraka pun akan berkata, “Ya Allah berilah dia perlindungan dari neraka.”
انتهى الراتب الشهير
Tamat Ratib Al-Haddad.
الراتب الشهير للحبيب عبد الله بن علوي الحداد Ratib Al Haddad part.4
diminta dengan nama-nama-NyaAllah akan memberi.
21. أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبَّ الْبَرَايَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنَالْخَطَاياَ. (4 X )
21. Aku me mohon ke ampunan Allah Tuhan Pencipta sekalian makhluk, aku me mohon keampunan Allah dari sekalian kesalahan. (4 X )
Surah 4: An-Nisa’: Ayat 106: “Danhendaklah engkau memohon ke ampun an daripada Allah; sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.”
Surah 11: Hud: Ayat 90: “Dan mintalah ke ampun an Tuhanmu, kemudian kembalilah taat kepada - Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengasihani, lagi Maha Pengasih”
22. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. (50X)
22. Tiada Tuhan Melainkan Allah (50X)
Komentar tentang kalimah tauhid sangat panjang. Kalimah “La ilaha illallah” ini adalah kunci syurga. Diriwayatkan oleh Abu Dzar bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah tidak membenarkan seseorang masukke neraka jikalau dia mengucapkan kalimah tauhid iniberulang-ulang kali.”
23. مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ وَمَجَّدَ وَعَظَّمَ وَرَضِيَ
اللهُ تَعاَلَى عَنْآلِ وَأَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ بِإِحْسَانٍ مِنْ
يَوْمِنَا هَذَا إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَعَلَيْناَ مَعَهُمْ وَفِيْهِمْ بِرَحْمَتِكَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
23. Muhammad Rasulullah, Allah Mencucurkan Selawat dan Kesejahteraan keatasnya dan keluarganya . Moga-moga dipermuliakan, diperbesarkan, dan diperjunjungkan kebesarannya. Serta Allah Ta'ala meredhai akan sekalian keluargadan sahabat Rasulullah, sekalian tabi'in dan yang mengikuti mereka dengan kebaikan dari hari ini sehingga Hari Kiamat, dan semoga kita bersama mereka dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih daripada yang mengasihani.
24. بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.
قُلْ هُوَ اللهُ أَحَـدٌ. اَللهُ الصَّمَـدُ. لَمْ يَلِـدْ وَلَمْ يٌوْلَـدْ. وَلَمْ يَكُـنْ لَهُ كُفُـوًا
أَحَـدٌ . (3X)
24. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad): “Dialah Allah Yang Maha Esa; Allah Yang menjadi tumpuan segala permohonan; Iatidak beranak, dan Ia pula tidak diperanakkan; Dan tidak ada sesiapapun yang sebanding dengan-Nya. Surah Al-Ikhlas (3 X )
Dari Imam Bukhari, diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-khudri; se seorang mendengarbacaan surah al-Ikhlas berulang-ulang di masjid. Pada keesokan paginya dia datang kepada Rasulullah s.a.w. dan sampaikan perkara itu kepadanya sebab diamenyangka bacaan itu tidak cukup dan lengkap. Rasulullah s.a.w berkata, “Demi tangan yang memegang nyawaku, surahitu seperti sepertiga al Quran!”
Dari Al-Muwatta', diriwayatkan oleh Abu Hurairah; Saya sedang berjalan dengan Rasulullah s.a.w,lalu baginda mendengar seseorang membaca surah al-Ikhlas. Baginda berkata, “Wajiblah.” Saya bertanya kepadanya, “Apa ya Rasulallah?” Baginda menjawab, “Syurga” (Wajiblah syurga bagi si pembaca itu).
25. بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، مِنْ شَرِّ ماَ خَلَقَ، وَمِنْ شَرِّغَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ، وَمِنْ شَرِّ
النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ، وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَد
25. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad); “Aku berlindung dengan Tuhan yang menciptakan cahaya subuh, daripada kejahatan makhluk-makhluk yang Ia ciptakan; dan daripada kejahatan malam apabila ia gelap gelita; dan daripada (ahli-ahli sihir) yang menghembus pada simpulan-simpulan ikatan; dan daripada kejahatan orang yang dengki apabila ia melakukan kedengkiannya”.
Surah Al-Falaq
Diriwayatkan daripada Aisyah r.akatanya: Rasulullah s.a.w biasanya apabila ada salah seorang anggota keluarga baginda yang sakit, baginda menyemburnya dengan membaca bacaan-bacaan. Sementara itu, ketika baginda menderita sakit yang menyebabkan baginda wafat, aku juga menyemburkan baginda dan mengusap baginda dengan tangan baginda sendiri, kerana tangan baginda tentu lebih banyak berkatnya daripadatanganku.
26. بِسْم اللهالرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ، مَلِكِ النَّاسِ، إِلَهِ النَّاسِ، مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ، اَلَّذِيْ
يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِالنَّاسِ، مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ.
26. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku berlindung dengan Tuhan sekalian manusia.Yang Menguasai sekalian manusia, Tuhan yang berhak disembah oleh sekalian manusia,Dari kejahatan pembisik penghasut yang timbul tenggelam, Yang melemparkan bisikan dan hasutannya ke dalam hati manusia, dari kalangan jin dan manusia”. Surah An-Nas
Dari Tirmidhi diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-Khudri; Nabi Muhammad s.a.w selalu meminta perlindungan daripada kejahatan jin dan perbuatan hasad manusia. Apabila surah al-falaq dan an-nas turun, baginda ketepikan yang lain dan membaca ayat-ayat ini sahaja.
next --ِ
الراتب الشهير للحبيب عبد الله بن علوي الحداد Ratib Al Haddad part.2
oleh karena itu, tolonglah kami untuk mencapai kemenangan terhadapkaum-kaum yang kafir”
(Surah 2: al-Baqarah Ayat 286)
Dari Muslim, diriwayatkan daripada Abdullah ibn Abbas r.a.:Apabila Jibril sedang duduk dengan Rasulullah s.a.w., dia mendengar bunyi pintu di atasnya. Dia mengangkat kepalanya lalu berkata: “Ini ialah bunyi sebuah pintu di syurga yang tidak pernah dibuka.” Lalu satu malaikat pun turun, dan Jibril berkata lagi, “Ia malaikat yang tidak pernah turun ke bumi” Malaikat itu memberi salam lalu berkata, “Bersyukurlahatas dua cahaya yang diberi kepadamu yang tidak pernah diberi kepada rasul-rasul sebelummu-“Fatihat al-Kitab dan ayat penghabisan Surah al-Baqarah”. Kamu akan mendapat manfaat setiap kali kamu membacanya.
5. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى
كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. ( 3X )
5. Tiada Tuhan Melainkan Allah, Yang satu dan tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kekuasaan, dan bagi-Nya segala pujian. Dialah yang menghidupkan dan yang mematikan, dan Dia sangat berkuasa atas segala sesuatu (3X)
Dari Bukhari, Muslim dan Malik, diriwayatkan daripada Abu Hurairah; Rasulullah s.a.w berkata, “Sesiapa membaca ayat ini seratus kali sehari, pahalanya seperti memerdekakan sepuluh orang hamba, Seratus kebajikan dituliskan untuknya dan seratus keburukan dibuang darinya, danmenjadi benteng dari gangguan syaitan sepanjang hari.”
6. سٌبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اْللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ. ( 3X )
6. Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Tuhan Yang Maha Besar. (3X)
Dari Muslim, diriwayatkan oleh Samurah ibn Jundah: Rasulullah s.a.w bersabda: Zikir-zikir yang paling dekat di sisi Allah adalah empat, iaitu tasbih, takbir, tahmid dan tahlil, tidak berbeza yang mana aturannya apabila engkau berzikirullah.
7. سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحاَنَ اللهِ الْعَظِيْمِ. (3X)
7. Maha suci Allah segala puji khusus bagi-Nya, Maha suci AllahYang Maha Agung. (3X)
Dari Bukhari, diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a.: Rasulullah s.a.w. bersabda: Dua zikir yang mudah di atas lidah tetapi berat pahalanya dan disukai oleh Allah ialah: 'SubhanAllah al-Azim dan 'SubhanAllah wa bihamdihi.'”
8. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. ( 3X )
8. Ya Allah ampunlah dosaku danterimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang. (3X)
Surah 4: An-Nisa’; Ayat 106: “Danhendaklah engkau memohon ampun kepada Allah; kerana sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.
Sila rujuk juga Surah 11: Hud; Ayat 90
9. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ. (3X)
9. Ya Allah, cucurkan selawat ke atas Muhammad, Ya Allah, cucurkan selawat ke atasnya dankesejahteraan - Mu. (3X)
Surah 33; Al-Ahzab, Ayat 56: Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya berselawat ke atas Nabi; wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan yang sepenuhnya.
Dari Muslim, diriwayatkan daripada Abdullah bin Amr: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesiapa berselawat kepadaku sekali, Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali.
10. أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّآمَّاتِ مِنْ شَرِّمَا خَلَقَ. ( 3X )
10. Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya. (3X)
Dari Abu Dawud dan Tirmidhi, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesiapa yang membaca doa ini tiga kali, tiada apa-apa malapetaka akan terjatuh atasnya.”
11. بِسْـمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُـرُّ مَعَ اسْـمِهِ شَيْءٌ فِيالأَرْضِ وَلاَ فِي الْسَّمَـآءِ وَهُوَ
الْسَّمِيْـعُ الْعَلِيْـمُ . ( 3X )
11. Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya tiada suatu pun, baik di bumi mahupun di langit dapat memberi bencana, dan Dia Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui. (3X)
Dari Ibn Hibban; Nabi Muhammad s.a.w bersabda: “Hamba-hamba Allah yang membaca doa ini pada waktu pagi dan petang tiga kali, tiada apa jua kesakitan akan dialaminya.”
12. رَضِيْنَـا بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسْـلاَمِدِيْنـًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيّـًا. ( 3X )
12. Kami redha Allah sebagai Tuhan kami, Islam sebagai Agama kami dan Muhammad sebagai Nabi kami. (3X)
Surah 3: Ali-Imran Ayat 19: Sesungguhnya agama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam.
Dari Abu Daud dan Tirmidzi; NabiMuhammad s.a.w. bersabda: “Sesiapa membaca ayat ini di pagi dan petang hari akan masuk ke syurga.”
13. بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَالْخَيْرُ وَالشَّـرُّبِمَشِيْئَـةِ اللهِ. ( 3X )
13. Dengan Nama Allah, segala pujian bagi-Nya, dan segala kebaikan dan kejahatan adalah kehendak Allah. (3X)
Diriwayatkah oleh Abu Hurairah: Rasulullah s.a.w. bersabda: Wahai Abu Hurairah, bila kamu keluar negeri untuk berniaga, bacakan ayat ini supaya ia membawa kamu ke jalan yang benar. Dan setiap perbuatan mesti bermula dengan ‘Bismillah’dan penutupnya ialah “Alhamdulillah”.
Next ---
الراتب الشهير للحبيب عبد الله بن علوي الحداد Ratib Al Haddad
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
: الفَاتِحَة إِلَى حَضْرَةِ سَيِّدِنَا وَشَفِيعِنَاوَنَبِيِّنَا وَمَوْلانَا مُحَمَّد صلى الله
عليه وسلم - الفاتحة-
Bacalah Al-Fatihah kepada ketua, penyshafaat, nabi dan penolong kita Muhammad s.a.w
1. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ إِيِّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ
نَسْتَعِيْنُ. اِهْدِنَاالصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ
عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِّيْنَ. آمِيْنِ
1. Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani.
Segala puji bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbir sekalian alam. Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani.Yang Menguasai hari Pembalasan (hari Akhirat). Engkaulah sahaja (Ya Allah) Yang Kami sembah, dan kepada Engkaulah sahaja kami memohon pertolongan. Tunjuklah kami jalan yang lurus. Iaitu jalan orang-orang yang Engkau telah kurniakan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) orang-orang yang Engkau telah murkai, dan bukan pula (jalan) orang-orang yang sesat.
Diriwayatkan oleh Abu Sa’id ibn al-Mu’lla r.a.: “Sukakah kamu jika aku ajarkan sebuah Surah yang belum pernah diturun dahulunya, baik dalam Injil mahupun Zabur dan Taurat? Ia adalah Al-Fatihah.
Surah 15 Al-Hijr : Ayat 87: “Dan sesungguhnya Kami telah memberi kepadamu (wahai Muhammad) tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dan seluruh Al-Quran yang amat besar kemuliaan dan faedahnya.”
2. اَللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّموَاتِ وَمَا
فِي الأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَابَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ
يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَوَلاَ يَؤُدُهُ
حِفْظُهُمَا وَهُوَ العَلِيُّ العَظِيْمُ.
2. Allah, tiada Tuhan melainkan Dia, Yang Tetap hidup,Yang Kekal selama-lamanya. Yangtidak mengantuk usahkan tidur. Yang memiliki segala yang ada dilangit dan di bumi. Tiada sesiapayang dapat memberi syafaat di sisi-Nya melainkan dengan izin-Nya. Yang mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu Allah melainkan apa yang Allah kehendaki. Luasnya Kursi Allah meliputi langit dan bumi; dan tiadalah menjadi keberatan kepada Allah menjaga serta memelihara keduanya. Dan Dialah Yang Maha Tinggi, lagi Maha Besar.
(Surah 2 al-Baqarah Ayat 255 Ayat-al-Kursi)
Ayatul Kursi ini mengandungi khasiat yang besar. Terdapat 99 buah hadith yang menerangkan fadhilahnya. Di antaranya ialah untuk menolak syaitan, benteng pertahanan, melapangkan fikirandan menambahkan iman.
3. آمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ أُنْزِلَ إِلَيْهِمِنْ رَبِّه وَالْمُؤْمِنُوْنَ كُلٌّآمَنَ بِاللهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ
وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍمِنْ رُسُلِهِ وَقَالُواسَمِعْناَ وَأَطَعْناَ غُفْراَنَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ .
3. Rasulullah telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan juga orang-orang yang beriman;semuanya beriman kepada Allah,dan Malaikat-malaikatNya, dan Kitab-kitabNya, dan Rasul-rasulNya. (Katakan): “Kami tidak membezakan antara seorang rasul dengan rasul-rasul yang lain". Mereka berkata lagi: Kami dengar dan kami taat (kami pohonkan) keampunanMu wahaiTuhan kami, dan kepadaMu jualah tempat kembali”
(Surah 2: Al Baqarah Ayat 285)
Diriwayatkan daripada Abu Mas'ud al-Badri r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Dua ayat terakhir dari surah al-Baqarah, memadai kepada seseorang yang membacanya pada malam hari sebagai pelindung dirinya.
4. لاََ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآ
إِنْ نَسِيْنَآ أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَاحَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا
وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنآ أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْناَعَلَى
الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
4. Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya. Ia mendapat pahala atas kebaikan yang diusahakannya, dan ia juga menanggung dosa atas kejahatan yang diusahakannya. (Mereka berdoa dengan berkata): "Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau mengirakan kami salah jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau bebankan kepada kami bebanan yang berat sebagaimana yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang yang terdahulu daripada kami. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak terdaya memikulnya. Dan maafkanlah kesalahan kami, serta ampunkanlah dosa kami, dan berilah rahmat kepada kami.Engkaulah Penolong kami;
next....
WASIAT IMAM HADAD kedua
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
Maha suci Engkau ya Allah; sungguh kami tiada memiliki ilmu kecuali yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi MahaBijaksana. Alhamdullilah. Segala puji syukur bagi Allah, Tuhan Sang Pencipta semua makhluk, Yang menyeru hamba-hambanya seraya mengkhususkan sebahagian dari mereka dengan hidayah danrahmah! Dan semua itu bersesuaian dengan kehendakNya yang azali.:Sungguh kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu: “Bertakwalah kepada Allah”.(QS.4:131). Dan firman-Nya: “Allah menyeru (manusia) ke syurga Daru’s-Salam dan memimpin orang yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus” (QS.10:25.) Dan firman-Nya lagi: “Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya, (untuk menerima) rahmayNya (yang khusus) dan Allahlah Yang Maha mempunyai kurnia yang besar”. (QS. 2:105).
Salawat dan salam bagi junjungan dan pemimpin besar kita: Nabi Muhammad Saw, juga bagi keluarganya serta para sahabatnya, para pembela agama nan lurus.
Amma ba’du: Assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Kepada saudaraku yang mencintai dan mengharap, yang mencari ilmu dengan bersungguh-sungguh, dan kepada setiap saudara seiman yang saling mencintai kerana Allah, Tuhan semesta alam, di mana saja keberadaannya, di penjuru Timur Bumi dan di Baratnya, di dataran dan lautan, yang datar mahupun yang berbukit-bukit dan di semua daerah sekitarnya.
Saudaraku yang tercinta,
Anda telah meminta kepada saya, agar menuliskan wasiat untuk anda, yang mudah-mudahan dapat membuat anda merasa bahagia,dan dapat anda jadikan pegangan kuat dalam perjalanan hidup anda. Untuk itulah saya akan berupaya memenuhi permintaan anda, sekalipun saya sebetulnya bukanahlinya. Namun keinginan anda untuk mengajukan permintaan ini, demikian juga kesediaan saya utnuk memenuhi keinginananda itu, semata-mata demi mengikuti uswah hasanah (peneladanan yang baik) yang memperoleh petunjuk dan para khalaf yang mengikuti mereka. Semoga Allah selalu meredhai mereka semuanya. Memang sudah semenjak dahulukala, tradisi saling mewasiati ini telah menjadi ciri khas dari akhlak mereka. Dan Allah s.w.t telah melukiskan sifat mereka itudalam Al-Quran yang mulia, yang tiada datang kepadanya kebatilan, dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha terpuji.Sebagaimana tercantum dalam kedua surah:Al-Balad dan Wa’l-Ashri. Maka terpeganglah erat-erat dengannya dan mintalah petunjuk Allah dan pertolongan-Nya selalu.
Takwa dan Peringkat-Peringkatnya
Ketahuilah, wahais audaraku, bahawa yang paling layak di utamakan dalam berwasiat, adalah wasiat tentang takwa kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana. Maka dengan ini, sya berwasiat kepada anda dan kepada diri saya sendiri, serta kepada segenap orang yang beriman dan kaum muslimin semuanya, agar bertakwa kepada Allah Rabb’ul –Alamin, kerana takwa merupakan sarana terpenting yang menghantarkan kepada kebahagian dunia dan akhirat. Takwa pula merupakan asas pondasi pemerkuat pilar-pilar aga,a. Kerananya, tanpa pondasi yang kukuh, sebuah bangunan akan lebih cenderung mengalami kehancuran daripadakesempurnaan.
Adapun takwa itu sendiri terdiri atas beberapa tingkatan:Pertama, menjauhi segala perbuatan maksiat dan segala yag diharamkan dalam agama. Yang demikian itu merupakan suatu kewajipan yang tidak boleh tidak. Kedua, menjauhkan diri dari perkara-perkara yang shubhat (yang meragukan, antara haram dan halal). Hal itu merupakan sikap kewaspadaan yang akan melindungi pelakunya dari terjerumus ke dalam sesuatu yang haram. Ketiga, menghindarihal-hal yang berlebihan dan tidak perlu, di antara yang mubah (yang dibolehkan, tidak diperintahkan dan tidak pula dilarang agama) demi memuaskan hawa nafsu semata-mata. Penghindaran diri seperti itu termasuk kategori ‘zuhud yang mendalam’ sepanjang pelaksanaannya disertai kerelaandan kepuasan hati sepenuhnya atau tazahhud (yakni zuhud tingkat bawah yang dipaksakan)sepanjang pelaksanaannya masih disertai dengan perasaan enggan dan berat hati, kerana terpaksa melawan hawa nafsu. Kerananya, barang siapa meninggakan sesuatu kerana takut kepada manusia atau mengharapkan sesuatu yang ada pada mereka, maka ia-pada hakikatnya- hanya bertakwa kepada mereka dan bukan bertakwa kepada Allah. Sedangkan yang benar-benar bertakwa kepada Allah Swt, adalah yang melakukannya kerana semata-mata mengharapkan keredhaan-Nya, menginginkan pahala-Nya dan takut akan seksa-Nya.
Dan barangsiapa telah berdiri mantap dalam maqam ketakwaan, maka ia telah layak menerima ilmu yang diwariskan (‘ilm-l-wiratsah). Itulah ‘ilmu ladunni’ (al-‘ilm al-ladunniy) yang dihunjamkan Allah Swt secara langsung ke dalam hati para wali-Nya. Ilmu yang tidak tercantum dalam buku-buku, tidak tercakup dalam pengajaranyang bagaimanapun. Ilmu seperti itu, diharamkan Allah atasorang-orang yang menghamba kepada hawa nafsunya, yang telah diliputi kegelapan hati, yang hanya mementingkan selera nafsu mereka,
Wasiat Pertama - Imam Al Haddad Susunan Ratib Al-Haddad الإمام القطب عبد الله بنعلوي الحداد Al-Imam Al-Qutub Abdullah bin Alawi Al-Haddad
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
Ratib Al-Haddad
Ratib Al-Haddad ini mengambil nama sempena nama penyusunnya, iaitu Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, seorang pembaharu Islam (mujaddid) yang terkenal. Daripada doa-doa dan zikir-zikir karangan beliau, Ratib Al-Haddadlah yang paling terkenal dan masyhur. Ratib yang bergelar Al-Ratib Al-Syahir (Ratib Yang Termasyhur) disusun berdasarkan inspirasi, pada malam Lailatul Qadar 27 Ramadhan 1071 Hijriyah (bersamaan 26 Mei 1661).
Ratib ini disusun bagi menunaikan permintaan salah seorang murid beliau, ‘Amir dari keluarga Bani Sa’d yang tinggal di sebuah kampung di Shibam, Hadhramaut. Tujuan ‘Amir membuat permintaan tersebut ialah bagi mengadakan suatu wirid dan zikir untuk amalan penduduk kampungnya agar mereka dapat mempertahan danmenyelamatkan diri daripada ajaran sesat yang sedang melanda Hadhramaut ketika itu. Pertama kalinya Ratib ini dibaca ialah di kampung ‘Amir sendiri, iaitu di kota Shibam setelah mendapat izin dan ijazah daripada Al-Imam Abdullah Al-Haddad sendiri. Selepas itu Ratib ini dibaca di Masjid Al-Imam Al-Haddad di Al-Hawi, Tarim dalam tahun 1072 Hijriah bersamaan tahun 1661 Masehi. Pada kebiasaannya ratib ini dibaca berjamaah bersama doa dan nafalnya, setelah solat Isya’. Pada bulan Ramadhan ia dibaca sebelum solat Isya’ bagi mengelakkan kesempitan waktu untuk menunaikan solat Tarawih. Mengikut Imam Al-Haddad di kawasan-kawasan di mana Ratib al-Haddad ini diamalkan, dengan izin Allah kawasan-kawasan tersebut selamat dipertahankan daripada pengaruh sesat tersebut.
Apabila Imam Al-Haddad berangkat menunaikan ibadah Haji, Ratib Al-Haddad pun mula dibaca di Makkah dan Madinah.
Sehingga hari ini Ratib berkenaan dibaca setiap malam di Bab al-Safa di Makkah dan Babal-Rahmah di Madinah. Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi pernahmenyatakan bahawa sesiapa yang membaca Ratib Al-Haddad dengan penuh keyakinan dan iman dengan terus membaca “ La ilaha illallah” hingga seratus kali (walaupun pada kebiasaannya dibaca lima puluh kali), ia mungkin dikurniakan dengan pengalaman yang di luardugaannya.
Beberapa kebezaan boleh didapati di dalam beberapa cetakan ratib Haddad ini terutama selepas Fatihah yang terakhir. Beberapa doa ditambaholeh pembacanya. Al Marhum Al-Habib Ahmad Masyhur bin Taha Al-Haddad memberi ijazah untuk membaca Ratib ini dan menyarankannya dibaca pada masa–masa yang lain daripada yang tersebut di atas juga di masa keperluan dan kesulitan. Mudah-mudahan sesiapa yang membaca ratib ini diselamatkan Allah daripada bahaya dan kesusahan. Ameen.
Ketahuilah bahawa setiap ayat, doa, dan nama Allah yang disebutkan di dalam ratib ini telah dipetik daripada Al-Quran dan hadith Rasulullah S.A.W. Terjemahan yang dibuat di dalam ratib ini, adalah secara ringkas. Bilangan bacaan setiap doa dibuat sebanyak tiga kali, kerana ia adalah bilangan ganjil (witir). Ini ialah berdasarkan saranan Imam Al-Haddad sendiri.Beliau menyusun zikir-zikir yang pendek yang dibaca berulang kali, dan dengan itu memudahkan pembacanya. Zikir yang pendek ini, jika dibuat selalu secara istiqamah, adalah lebih baik daripada zikir panjangyang dibuat secara berkala atau cuai [1] . Ratib ini berbeza daripada ratib-ratib yang lain susunan Imam Al-Haddad keranaratib Al-Haddad ini disusun untuk dibaca lazimnya oleh kumpulan atau jamaah. Semoga usaha kami ini diberkahi Allah.
Selasa, 22 Februari 2011
HANZHALAH BIN ABI AMIR
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
Malam telah menyelimuti kota Madinah Al Munawwarah, bintang -bintang yang bertaburan membawa kedamaian dan ketenangan sertamimpi indah, yang jelas malam itu sebenarnya malam biasa, tapi tidak sama sekali bagi Hanzhalah bin Abi Amir Radiallahuanhu . Hari itu hari dimana mimpinya terwujud, hari yang lama datangnya hari yang lama ditunggunya hari itu Hanzhalah naik ke pelaminan.
Hanzhalah menikah pada suatu malam yang besok paginya terjadi perang di Uhud. Hanzhalah minta izin kepada NabiShalallahu alaihi wa salam untuk bermalam bersama isterinya. Sementara dia sendiri tidak tahu dengan pasti apakah malam itu malam pertemuan atau justru malam perpisahan. Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa salam memberinya ijin untuk menginap malam itu bersama pasangan kemantennya.
Manis macam apakah yang ada pada malam itu ? Rahasia apa yang dipendam hari itu dari Hanzhalah? Bersamaan dengan menyembulnya fajar pertama terdengar gemuruh perang, terdengar seorang menyeru dan mengumumkan jihad. Beberapa saat dia timbang-timbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan Akhirat Akhirnya dia memilih akhirat demi kenikmatannya. Untuk kemudian menyongsong panggilan jihad dan meninggalkan dunia dengan segala isinya.
Waktu itu Hanzhalah Radiallahuanhu masih Junub, belum sempat mandi besar, melesat memenuhi seruan kebenaran, serta melayang tidak menginjak bumi, Sepasang penganten malam itu melesat dengan membawa senjatanya untuk bergabung dengan Nabi Shalallahu alaihi was salam yang sedang menyiapkan barisan Muslimin, meyiapkan hati untuk melakukan transaksi dijalan Allah Hanzhalah masuk pasar surga………… Perang sangat dahsyat berkemilau dengan serunya padaawalnya kemenagan diraih tapi tatkala pasukan pemanah meninggalkan posisi mereka, keadaan berbalik menjadi kacau dan orang-orang musyrik maju.
Akan tetapi beberapa tentara tetap teguh bertahan bersama Rasulullah Shalallahu alihi wa salam, termasuk di dalamnya Hanzhalah Dia terus menunjukkan dan membuktikan kecintaannya terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala. Dia maju menghadap Abu Sofyan bin Harb Dengan cepat dia menebas kaki kuda Abu Sofyan dari belakang sehingga Abu Sofyan terjatuh dia menjatuhkannya dari atas kudanya seakan-akan dia menjatuhkan kebathilan yang telah mencuri kebenaran dan kebathilan yang mengacau akidahnya Pada saat itu datanglah Syaddad bin Al Aswad membantu Abu Sofyan melawan Hanzhalah Radiallahuanhu, untuk kemudian salah satu dari dua orang itu bisa membunuh hati yang bersih dengan lemparan lembing yang tembus Abu Sofyanberteriak “ Hanzhalah dengan Hanzhalah yang maksudnya dia telah membalaskan dendam anaknya yang terbunuh dalam perang Badar Hanzhalah Radiallahuanhu meninggalkan kita, tetapi bau wangi misik darinya tetap semerbak menyirami jiwa-jiwa generasi sesudahnya agar jiwa yang sedang tertidur menjadi bangkit dengan harapan suatu ketika akan menunggangi kuda-kuda Syahid.
Tanah menjadi suci dengan kemanten kita tadi lalu perang usai mereka yang telah melakukan transaksi telah menjajakan semua barangnya mereka membawa hati mereka dalam genggaman Untuk diterima atau ditolak oleh Allah Subhanahu wa ta'ala sesuai dengan kehendak-Nya.
Mereka yakin bahwa kesungguhan / kejujuran pada waktu itu adalah kekayaan yang paling berharga. Dan siapa yang sungguh- sungguh jujur dengan Allah tidak akan sia-sia.
Para Sahabat Radiallahuanhu yang masih tersisa mulai mencarisaudara-saudara mereka yang masih menanti janji dari langit memilah-milah siapa yang lebih dahulu ke langit. Tangan mereka yang berusaha menyentuh jasad Hanzhalah Radiallahuanhu yang berlumur darah mereka kagum adanya rintik rintik air mengalir dari dahinya seperti butiran-butiran mutiara dan berjatuhan dari sela-sela rambutnya. Ini tentu menjadi misteri Apa maksudnya sampai kemudian para sahabat mendengar suara Nabi Shalallahu alaihi wa salam bersabda : “Sungguh Aku melihatMalaikat memandikan Hanzhalah bin Amir ra antara langit dan bumi dengan air awan dalam bejana terbaut dari perak.
Sesungguhnya Allah telah membeli jiwa dan harta orang-orang yang beriman dengan mendapatkan harga surga Selamat wahai anda Hanzhalah anda telah mendapat surga orang-orang Aus, Suku Hanzhalahsangat bangga dengannya karena dari suku mereka ada yang dimandikan Malaikat
Sesungguhnya Hanzhalah akan tetap menjadi kebanggaan dan terpatri dalam dada kaum muslimin bukan hanya untuk Aussaja! Semoga Allah ridha terhadap Hanzhalah bin Abi Amir Radiallahuanhu.
Senin, 21 Februari 2011
WASIAT IMAM HADDAD bag.4
dan sebaliknya cenderung melakukan pelanggaran.
Saya juga berpesan, hendaklah anda tidak mensia-siakan sedetik pun dari waktu-waktu anda, bahkan setarikan nafas pun, kecuali yang akan membawa manfaat bagi diri anda dalam kehidupan akhirat anda ataupun kehidupan dunia anda yang dapat menolong andadi dalam kehidupan akhirat kelak.
Menghilangkan Was-Was SetanDari Dalam Hati
Adakalanya muncul dalam hati manusia pelbagai was-was (bisikan jahat setan yang menimbulkan keraguan dalam hati), yang paling sulit diantaranya ialah menyangkut masalah akidah, demikian pula dalam pelbagai amalan peribadatan.
Adapun salah satu cara agar bisaterhindar dari was-was itu ialah, antara lain dengan meneliti secara saksama:apabila was-wastersebut sudah jelas-jelas berkaitan dengan kebatilan, seperti meragukan tentang eksistensi Allah dan hari akhirat, maka tiada jalan lain baginya kecuali harus menolaknya dengan tegas, dengan berpaling darinya dan memohon perlindungan Allah Swt. Secara tulus, seraya memperbanyak zikir kepada-Nya.
Akan tetapi bilamana bisikan was-was itu masih dalam kerangka sesuatu yang meragukan:apakah termasuk sesuatu yang haqq atau bathil, maka hendaklah meminta fatwa tentang hukumnya kepada orang-orang yang berilmu dan beroleh petunjuk;kemudian berpegang erat-erat dengan fatwa mereka dan mengandalkannya. Adapun setiap perbuatan hati yang dilakukan tanpa adanya unsur kesengajaan, maka kafarat (penebus)-nuya adalah dengan bersikap membencinya.
Menjaga Lidah
Saya berpesan kepada anda agarberupaya sungguh-sungguh dalam menjaga llidah dari ucapan sia-sia. Sebab, lidah adalah cermin isi hati. Kata seorang bijak: “Lidah itu bagaikan binatang buas, bila egkau mengurungnya, ia akan menjagamu. Tetapi bila engkau melepaskannya, ia akan menerkammu”.
Oleh sebab itu, usahakanlah menyibukkan lidah anda hanya dengan sesuatu yang memanng termasuk urusan anda sendiri, misalnya dengan membaca Al-Quran, berzikir dan menyeru manusai ke arah kebaikan. Jangan sekali-kali melibatkannya dalam hal-hal bukan urusan anda. Iaitu ucapan-ucapan yang tidak anda harapkan pahalanya apabila anda ucapkan, dan yang tidak pula anda khuatirkan akan terkena hukuman apabila tidak anda ucapkan. Setiap ucapan menimbulkan konsekuensi antara lain terjerumus dalam suatu tindakan terlarang atau menyia-yiakan waktu yang amat berharga dalam hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat atau meningggalkan bekas yang tidak menyenangkan di dalam hati. Jelasnya, setiap gerak yang dilakukan atau kalimat yang diucapkan, pasti akan meninggalkan bekas didalam hati. Jika hal itu merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah Swt, nescaya akan menimbulkan cahaya di dalamnya. Dan sekiranya hal itu merupakan sesuatu yang mubah sekalipun (yang tidak dianjurkandan tidak pula dilarang), maka kebanyakan dari hal itu akan menimbulkan kekerasan hati. Apalagi jika hal itu merupakan sesuatu yang terlarang, nescaya akan menimbulkan kegelapan.
Selanjutnya saya berpesan kepada anda agar menghindarkan lidah dan hati anda dari segala perbuatan yangmerugikan kaum Muslim secara keseluruhan. Seperti, misalnya berprasangka buruk terhadap mereka. Kerananya jangan sekali-kali bergaul dan duduk berbincang-bincang dengnan orang-orang yang suka menggunjing atau menujukan cercaan terhadap kaum muslim.
Dan jika sampai ke pendengaranmu tentang suatu pebuatan buruk dari seseorang di antara mereka (kaum muslim),sedangkan anda merasa mampumenasihatinya, maka lakukanlah.Atau jika tidak – jangan sekali-kali menyebutkan tentang keburukannya itu di hadapan orang lain, sehingga dengan demikian anda telah melakukan dua keburukan sekaligus: pertama dengan tidak memberinya nasihat; dan kedua, mengucapkan sesuatu yang buruk berkenaan dengan peribadi seorang muslim.
Berbangga Diri
Selanjutnya, saya berpesan hendaknya anda tidak merasa diri lebih baik dari orang lain. Apabila perasaan seperti itu terlintas dalam hati anda, sedarilah betapa anda sudah sering kali melakukan kesalahan-kesalahan di masa lalu. Bagaimanapun juga, seorang yang berakal sihat pasti mengetahui bahawa dirinya sendiri sarat dengan berbagai aib dan kesalahan. Maka hendaklah ia menyakini hal itu dan tidak meragukannya sedikit pun. Dan tidaklah sepatutnya ia menuduh siapa pun dengan keburukan yang belum tentu adapadanya. Sebab, kebanyakkan dari apa yang anda ketahui dari saudara-saudara anda adalah berdasarkan persangkaan dan dugaan semata-mata. Sedangkanpersangkaan adalah ucapan-ucapan yang paling banyak mengandung kebohongan (sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis-penerj.) Disampingitu, mungkin saja terdapat alasan-alasan pemaafan berkaitan dengan sebahagian keburukan yang diperkirakan seperti itu. Walaupun demikian, tidak sepatutnya seseorang membuka pintu pemaafan bagi dirinya sendiri, mengingnat hal itu akan membuat hati lebih cenderung kepada penyia-yiaan waktu dan terjerumus lebih dalam lagi dalam lembah-lembahsyahwat hawa nafsu.
WASIAT IMAM HADDAD bag.3
berkaitan dengan apa yang dimakan, dipakai dan dinikahi. Ilmu ladunni seperti itulah yang diajarkan Allah Swt kepada hamba-hamba-Nya yang khusus seperti diisyaratkan dalam firman-Nya: “Bertakwalah kamu kepada Allah, nescaya Allah akan mengajari kamu”. Demikian pula dalam sabda Rasullah Saw .: “ barangsiapa mengamalkan ilmu yang diketahuinya, nescaya Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya.” Dan itulah buah dari amalan ilmuyang diperoleh dari Al-Quran danSunnah Nabi Saw., yang tersaring bersih dari segal;a noda hawa nafsu. Dan begitu pula buah dari upaya mengikuti jalan lurus yang disertai dengan penuh takwa, disamping menjauh dari sifat keangkuhan dan kebanggaan pada diri sendiri.
Dan tentunya takkan mungkin bagi seorang hamba, menyiapkan dirinya guna dapat meraih limpahan anugerah illahi yang demikian besarnya itu, tanpa sebelummnya melakukan riyadhah (pelatihan mental dan pengendalian diir) yang intensif, dengan cara memutuskan segalaajakan syahwat hawa nafsu, disertai dengan mengkonsentrasikan diri kepadaAllah secara terus menerus, dalam beribadat kepada-Nya secara ikhlas dan murni semata-mata hanya untuk-Nya saja.
Keharusan Menuntut Ilmu
Saya berpesan selanjutnya hendaklah Anda selalu berusaha dengan sungguh-sungguh menuntut ilmu yang berguna, dengan cara membaca, menelaah buku-buku ataupun berdiskusi untuk mencapai hasil.Jangan sekali-kali meninggalkan upaya itu kerana malas atau bosan, atau pun kerana perasaan takut sekiranya anda nanti tidak mampu mengamalkan ilmu anda itu. Yang demikian itu merupakan kebodohan belaka.
Dan hendaklah anda dalam hal ini selalu membaikkan niat anda dan bermawas diri, jangan segera berpuas hati dengan merasa telah cukup berhasil, sampai anda benar-benar menguji diri anda sendiri. Selanjutnya, berupayalah sungguh-sungguh untuk mengamalkan ilmu yang telah anda ketahui itu, serta mengajarkannya kepada siapa yang belum mengetahuinya, baikanda diminta atau tidak. Dan apabila setan membisikkan kepada anda: “ Janganlah mengajar sebelum kamu benar-benar menjadi alim yang luas ilmunya” , maka katakan kepadanya: “Kini aku apabila ditinjau dari apa yang telah kuketahui adalah alim (seorang yang berilmu), dan kerananya wajib untuk mengajarkannya kepada orang-orang lain. Sedangkan – apabila ditinjau dari apa yang belum kuketahui-maka aku kini seorang pelajar yang wajib belajar dan menuntutilmu”. Ini tentunya berkenaan dengan ilmu yang wajib dipelajari. Adapun selebihnya, tak apalah jika anda pelajari juga.
Mengajarkan ilmu merupakan amal ibadat yang besar pahalanya, sepanjang diiring dengan niat baik yang dasarnya ‘kerana Allah’ semata-mata bukan kerana sesuatu lainnya, tanpa sedikit pun niat untuk meraih harta atau kedudukan.
Hendaklah anda, secara konsisten menelaah buku-buku para ulama terdahulu, terutama para tokoh sufi dan memperhatikan apa yang ada didalamnya. Kerana di situ terhimpun banyak petunjuk khusus tentang bagaimana mengenal Allah serta berbagai bimbingan tentang cara-cara pembaikan niat, keikhlasan dalam beramal pendidikan jiwa dan lain sebagainya. Semuanya itu adalah ilmu-ilmu sangat bermanfaat yang tentunya akan menuntun kearah keberuntungan dan keselamatan.
Dan tiada yang enggan memperhatikan dan membaca buku-buku seperti itu, kecuali orang-orang yang sudah buta mata hatinya atau gelap jiwanya.Walaupun demikian sekiranya waktu anda sangat terbatas, tidak cukup untuk mengkaji buku-buku itu secara keseluruhan, maka khususkanlahpengkajian anda pada buku-buku karangan Imam Ghazali kerana itulah yang palingbanyak manfaatnya, paling lengkap isinya dan paling menarik susunan kata-katanya.
Kehadiran Hati dan Kekhusyukan Anggota Tubuh
Saya berpesan, hendaklah anda selalu menghadirkan diri dan mengkhusyukkan anggota badan di saat melakukan ibadah-ibadah anda. Dengan demikian anda akan meraih buah hasilnya dan tersinari oleh percikan cahayanya. Dan hendaklah anda selalu dalam keadaan siap untuk menerima pengawasan Allah atas segala gerak geri anda. Camlah selalu dalam hati anda bahwa Allah Swt. Adalah Maha cermat dalam pengamatan-Nya dan Maha dekat dengan diri anda.
Upayakanlah agar anda mampu menjadi penasihat bagi diri andasendiri dan sekaligus pemberi peringatan kepadanya. Ajaklah iake jalan Allah dengan Hikmah kebijaksanaan serta nasihat yang baik. Berikan pengertian kepadanya bahwa pengabdian dan ketaatan kepada Allah Swt. Akan membawa rasa kenikmatan abadi, serta kemulian dan kekayaan yang besar. Sebaliknya, meninggalkan pengabdian dan ketaatan lalu melakukan perbuatan maksiat, akan berakibat seksaan batin yang pedih dan kehinaan yang besar. Nafsu manusia, kerana kebodohannya, tidak mahu melakukan atau meninggalkan apa pun kecuali demi sesuatu yang diingininya ataupun yang ditakutinya. Ini mengingat nafsu manusia memang bertabiat selalu malas melakukan ketaatan
Minggu, 20 Februari 2011
DOA KETIKA BERADA D SUATU MAJELIS
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
Sabda Nabi Muhammad saw:
“Bila umatku hadiri suatu majelis,jangan sekali-kali tinggalkan majelis sebelum tiga kali baca doa (artinya): ‘Maha Suci Engkau, wahai Allah, dengan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau. Ampunilah dosa-dosaku dan terimalah taubatku.’ Jika majelis itu banyak kebaikan, doa tadi menyegelkan kebaikan. Jika majelis itu banyak keburukan, doa tadi jadi penghapus dosa-dosa selama di dalam majelis.”
{Diriwayatkan dari Abu Hurairah}
ABU YAZID al Busthami, seorang shalihin, lakukan munajat dengansepenuh hati. Jiwanya sangat tenang, hatinya sangat sejuk dan akalnya membumbung bak ke Arsy. Memercik dalam perasaannya, kiranya di sinilah kedudukan Rasulullah saw. Semoga kelak aku bertetangga dengan beliau di surga. Lalu beberapa saat di dalam hati Abu Yazid terdesir seruan, ‘Hai Abu Yazid. Sungguh budak si Fulan yang bertempat tinggal di desa anu, kelak akan jadi tetanggamu di surga.” Desiran hati tersebut permenungan yang tak habis-habis bagi Abu Yazid. Ia bertolak hendak mencari keberadaan budak si Fulan.
Di sana Abu Yazid mencari. Orang-orang yang ditanyai memandangnya ganjil, “Kenapa engkau temui seorang fasiq yangtenggelam dalam minuman haram? Menilik cahaya wajahmu, tentulah kau ini termasuk orang shalih.” Bagaimana pun, keterangan orang-orang ini ciutkan semangat Abu Yazid, barangkali desiran hati itu dari bisikan setan. Ia hampir memutarbadan kembali ke kampung halamannya. Tetapi, pikirnya, jauhsudah dan susah payah aku datang hingga sini, masak aku berbalik pulang padahal wajah budak itu belum kulihat. Abu Yazid putuskan lanjutkan pencarian, “Di manakah budak si Fulan berada kini?” Orang-orang menunjuk, “Sekarang dia di kerumunan orang minum-minumkhamr itu.”
Abu Yazid melangkah ke tempat yang ditunjuk. Di sana, budak si Fulan duduk-duduk reriungan di antara empat puluhan orang yang mereguk khamr. Pencarian ini benar-benar sia-sia, Abu Yazidsangat kecewa. Ia kecele dan putuskan pulang. Abu Yazid putarbadan.
Tiba-tiba, “Abu Yazid. Kenapa kautidak singgah?”, budak si Fulan menegur, “Engkau berangkat dari tempat teramat jauh dan bersusah payah jalan hingga tempat ini hendak lihat tetanggamu kelak di surga. Berhasil bertemu, engkau malah balik tanpa mengucap salam, tanpa ada pembicaraan dan tanpa ada perjumpaan.” Abu Yazid terkejut.
Budak si Fulan cairkan kebingungannya, “Ya Abu Yazid. Engkau tidak perlu bingung kenapa aku bisa mengetahui kedatanganmu. Tak ada yang mencengangkan. Dzat yang gerakkan dirimu datang ke sini telah beri tahu diriku. Mari, masuk dan duduklah bersama kami barang sebentar.”
Abu Yazid memasuki majelis, canggung, “Ya Fulan. Ada apa dengan semua ini?” Si Fulan puin menerangkan, “Tidakkah kau tahu, masuk surga itu berombongan? Di sini dulu ada delapan puluh orang yang gemarreguk khamr. Aku bimbing mereka lalu empat puluh orang telah bertaubat tinggalkan kefasiqan ini. Mereka itulah teman-temanku kelak di surga. Kini tinggal empat puluh orang belum keluar dari kegemaran fasiq itu. Wahai tetanggaku di surga kelak, karena kau telah hadir di sini, giliran tugasmu bimbing mereka tercegah dari berbuat fasiq.”
Percakapan dua orang bertetanggaan di surga itu didengar empat puluh orang pemabuk yang ada. Mereka jadi tahu, orang yang baru datang itu ternyata Abu Yazid al Busthami, sang waliyullah. Kehadirannya bawa berkah besar, mereka segera bertaubat. Jumlah mereka sekarang delapan puluh dua orang, yang kelak bertetanggaan di surga. Majelis itu terhindarkan siksa Allah Ta’ala sebab Abu Yaziddan budak si Fulan tak pernah tinggalkan bacaan doa majelis seperti di ajarkan Rasulullah saw.
Sabtu, 19 Februari 2011
IMAM HASAN AL-MUJTABA as (bag. 6)
Al Husain a.s, adik kandungnya, duduk disamping tubuh kakaknya. Ia merasa hairan mengetahui sakit kakaknya yang sangat mendadakitu. Rupanya, Al Hasan a.s telah diracuni.
“Katakan, siapakah yang telah meracunimu?” tanya Al Husain.
“Tiga kali sudah aku diracuni orang, namun yang sekali ini sungguh luar biasa!” kata Al Hasan as.
“Katakanlah, siapakah orang yang telah meracunimu itu!” pinta Al Husain a.s mendesak.
Rupanya, Al Hasan sengaja tak mau menyebutkan nama orang yang telah meracuninya, meskipun Al Husain mendesak menanyakan hal tersebut.
Tak ada catatan yang pasti tentang orang yang meracuni Al Hasan. Sebagian riwayat menyebutkan, bahwa Al Hasan diracuni oleh isterinya sendiri yang bernama Ja’dah binti Asy’ats. Terbujuk oleh rayuan Mu’awiyah untuk dikawinkan dengan putranya yang bernama Yazid, ditambah imbuhan seratusribu dinar, Ja’dah terpikat untuk membunuh Al Hasan. Diceritakan, bahwa Ja’dah kemudian menerima wang sebesar seratus ribu dinar itu, namun Mu’awiyah menolak untuk mengawinkan diadengan Yazid. Ketika ditanya tentang alasannya tidak mengawinkan Ja’dah dengan Yazid, Mu’awiyah berkata: “Bagaimana mungkin aku berani mengawinkan dia dengan anakku? Apabila ia telah tega meracuni cucu Rasulullah s.a.w, maka apa pula yang akan dia lakukan terhadap puteraku, Yazid?” Ja’dah tertegun dan baru sadar setelah semuanya terjadi.
Jenazah Al Hasan as dimakamkan di pekuburan Baqi’, dekat makamneneknya, Fatimah binti Asad. Kaum muslimin berkabung mendengar berita wafatnya Al Hasan a.s. Masih jelas dalam ingatan mereka, betapa Al Hasan sangat menyerupai Nabi hampir dalam semua hal. Kerinduan orang kepada Nabi yang biasanya terobati dengan hadirnya Al Hasan a.s kini tak mungkin dinikmati lagi…
Waallahu 'alam...
IMAM HASAN AL-MUJTABA as (bag. 5)
Mu’awiyah tak tinggal diam mendengar pembaiatan atas Al Hasan as. Ketika mulai menjabat sebagai Khalifah, Al Hasan yang sadar akan apa yang bakal dilakukan oleh Mu’awiyah, segera menulis surat kepada Mu’awiyah, mengingatkan akan pentingnya persatuan, dan meminta Mu’awiyah untuk juga membaiatnya. Suarat itu ditulis dengan kata-kata yang baik. Tetapi Mu’awiyah segera membalas surat Al Hasan. Mu’awiyah yang pada waktu itu juga mengangkat diri sebagai Khalifah, menyatakan bahwa ia lebih mempu dan lebih berhak menjadi Khalifah daripada Al Hasan as. Mu’awiyah tak lupa menawarkan “suap” kepada Al Hasan as.
Singkat cerita, keadaan semakin dekat dengan pertelingkahan antara Al Hasan dengan Mu’awiyah. Dan Mu’awiyah mulai mencari pengaruh. Ia membujuk setiap orang dan kepala-kepala suku dengan bujukan wang. Tak sedikit orang yang karena bujukan duniawi itu akhirnya berpihak kepada Mu’awiyah. Setelah merasa kuat, Mu’awiyah kemudian menyiapkan pasukan dari Syam menuju Kufah.
Al Hasan a.s mengetahui semua rencana dan persiapan Mu’awiyah. Dengan cepat ia mengumpulkan penduduk Kufah,yang semuanya berpihak dan memaksa dia untuk menjadi Khalifah. Tapi, ternyata pengikut Al Hasan a.s tak cukup setia seperti pengikut Mu’awiyah. Setelah pecah pertempuran, panglima pasukan Al Hasan sendiri belot, menjadi pengikut Mu’awiyah, karena imbuhan wang satu juta dirham.
Berita pembelotan panglima perang Al Hasan a.s itu segera tersebar. Perajurit lainnya yang mendengar berita itu kemudian menjadi lalai. Dengan membabi buta, mereka bahkan menyerang kemah Khalifah Al Hasan sendiri. Mereka merampas harta benda AlHasan a.s yang ada dikemah tersebut. Salah seorang dari mereka, Al Jarrah bin Asad, bahkan menyerang Al Hasan sehingga menimbulkan luka-luka pada tubuh beliau.
Al Hasan berkata kepadanya, dan perkataannya itu juga ditujukan kepada yang lain: “Dulu kalian membunuh ayahku. Kini kalian menyerang dan berusaha untuk membunuh diriku.”Nampaknya, Al Hasan sudah benar-benar tak dapat mempercayai pengikutnya sendiri. Orang yang benar-benar setia kepadanya terlalu sedikit untuk dapat meneruskan peperangan. Dengan pertimbangan itu, dan mengingatpentingnya keutuhan dan persatuan umat, Al Hasan a.s berniat mengakhiri perang yang jauh tak seimbang, karena hal itu hanya akan menambah banyaknya jumlah korban yang jatuh.
Namun Al Hasan tidak semudah itu melepaskan jabatan dan membiarkan Mu’awiyah berkuasasemaunya. Sebelum menyerahkankekhalifahan kepada Mu’awiyah, terlebih dahulu ia mengadakan perjanjian. Di antara isi perjanjianyang panjang tersebut, salah satubagiannya menyebutkan, bahwa sepeninggal Mu’awiyah, kepemimpinan umat akan diserahkan kembali kepada kaumMuslimin untuk memilih sendiri pemimpin yang mereka kehendaki. Di sinilah tampak bagaimana Al Hasan benar-benar memperhatikan kepentingan kaum Muslimin. Pasal itu akhirnyadilanggar oleh Mu’awiyah yaitu dengan mengangkat putranya, Yazid, sebagai pengganti dirinya, sementara kaum Muslimin tak dapat berbuat apa-apa di bawah ancaman pedang dan sebahagiannya lagi luluh karena bujukan wang dan jabatan.
Setelah dicapai kesepakatan dengan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, sebelum meninggalkan Iraq untuk menuju Madinah, Al Hasan sempat menyampaikan pesan dan kesannya untuk penduduk Iraq . Ia antara lain berkata:
“Wahai penduduk Iraq , ketahuilah, bahwa ada tiga hal yang menyebabkan aku tak lagi berani menggantungkan diriku pada kalian dan tidak dapat mempercayai kalian. Pertama, kalian telah membunuh ayahku; kemudian kalian telah berusaha untuk membunuh aku; dan yang terakhir, kalian telah menyerang dan merampas barang-barang di kemahku. Aku yakin, bahwa orang yang menggantungkan nasibnya kepada kalian, pasti akan ditimpa kekalahan…”
Setelah itu, Al Hasan meninggalkan Kufah menuju ke Madinah, Konon, penduduk Kufahmenangisi perpindahan Al Hasan.Namun rupanya benarlah kata pepatah:”Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya.” Al Hasan tak lagi dapat mengubah pendiriannya. Telah bulat tekad Al Hasan a.s untuk meninggalkan Kufah, betapapun orang menahannya. Ia kemudian hidup di Madinah, menekuni ibadah, mendalami ilmu, dan selalu mengisi waktunya dengan amal-amal yang dapat mendekatan diri kepada Allah SWT. Banyak waktu dihabiskannya di Masjid Rasulullah dan membantu setiap orang yang kesusahan.
Al Hasan a.s dikenal sebagai orang yang tak memzeda-bezakan pangkat dan kedudukan. Suatu hari, sekelompok orang miskin mengundangnya untuk makan bersama. Al Hasan duduk, makan bersama mereka meski hanya bersantap dengan sepotong roti kering. Semua itu ia lakukan dengan sepenuh hati, tanpa bersifat perasaan terpaksa sedikit pun. Setelah itu, ia ganti mengundang orang-orang tersebut untuk makan dirumahnya. Atau pada kali yang lain, ia memenuhi undangan anak-anak kecil. Begitulah hari-hari Al Hasan di Madinah.
Sampai ketetapan Allah datang kepadanya. Hari itu, 28 Safar tahun 50 Hijriyah, Al Hasan merasakan sesuatu yang tidak enak pada tubuhnya. Ia terbaringlemah.
(Bersambung...)
Jumat, 18 Februari 2011
IMAM HASAN AL-MUJTABA as (bag. 3)
keadaan senang laksana di surga,sedangkan aku? Hidupku sangat sengsara, tak ubahnya dengan hidup di neraka.”
“Engkau keliru, hai Yahudi. Sesungguhnya, apabila dibandingkan dengan apa yang akan diberikan Allah kepadaku di surga nanti, maka kesenanganku di dunia ini tak ada artinya, sehingga dunia ini ibarat neraka bagiku. Sebaliknya, apabila engkau tahu apa yang akan engkau terima di akhirat nanti, maka engkau akan tahu, bahwa hidupmu yang sekarang ini jauh lebih baik, sehingga di dunia ini engkau seakan berada di surga. Itulah makna ucapan kekeku Rasulullah s.a.w.”
Mendengar jawaban Al Hasan as yang sangat mengena itu, si Yahudi tertegun. Mulutnya terkunci, tak berkata apa-apa lagi.
Di samping keluasan ilmunya, Al Hasan as dikenal juga sebagai orang yang sangat dermawan. Pernah, pada suatu hari, Al Hasan as melihat seseorang sedang berdoa. Orang tersebut mengadukan kesulitan hidupnya kepada Allah SWT. Mengetahui keadaan orang itu dan mendengar doanya, dengan sertamerta Al Hasan as memberinya uang dalam jumlah yang cukup besar, sehingga orang itu merasasangat kegirangan.
Atau pada hari yang lain, yaitu di tengah perjalanannya untuk menunaikan ibadah haji bersama adiknya, Al Husain, dan Ja’far bin Abdullah r.a., sekali lagi kedermawanan Al Hasan terungkap. Alkisah, dalam perjalanannya menuju Mekkah, ketiga orang ini kehabisan bekal. Tak ada lagi sisa makanan dan minuman yang dapat mereka gunakan untuk meneruskan perjalanan yang masih cukup jauh. Mereka sangat memerlukan tambahan bekal. Namun bagaimana?
Di samping pasir yang tandus itu,di tengah kebingungan mereka, tiba-tiba tampak sebuah rumah. Mereka bertiga kemudin mendatangi rumah tersebut.
“Assalamu’alaikum,” kata mereka hampir serempak.
“Wa’alaikum salam,” terdengar seseorang menjawab dari dalam rumah. Orang itu kemudian keluar, yang ternyata adalah seorang wanita tua.
“Dari manakah kalian?” tanya wanita itu.
“Kami dari Madinah!” Al Hasan menjawab.
“Siapakah kalian?”
“Kami adalah dari Quraisy. Saya adalah Hasan bin Ali, ini adikku Husain, dan itu Ja’far dari kelurgaku juga.”
“Hendak ke mana kiranya Tuan-Tuan?”
“Kami hendak ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji.”
“Adakah sesuatu yang dapat aku bantu untuk kalian?”
“Terus terang, kami kehabisan bekal. Apakah ibu mempunyai air yang dapat kami bawa?”
“Astaga..! Ada , ada…silahkan kalian bawa ini!” kata ibu itu sambil menyerahkan tempat airnya.
“Masihkah kalian mempunyai makanan?”
Tanya ibu itu lagi.
“Tidak. Adakah ibu mempunyai makanan?
Kami bermaksud membelinya,” kata Al Hasan.
“Membeli? Tidak Demi Allah, hanya itu satu-satunya yang aku miliki dan aku bersumpah Tuan-Tuan harus makan itu,” kata ibu tersebut seraya menunjuk satu-satunya domba yang ia miliki.
Domba itu kemudian dipotong, sebagian dimasak untuk dimakanAl Hasan, Al Husain, dan Ja’far. Sedangkan yang sebagian lagi di bawakan si ibu sebagai bekal untuk melanjutkan perjalanan. Ibu tua itu tak mau menerima hadiah apa-apa dari ketiga orangtamunya.
“Demi Allah, aku melakukannya dengan ikhlas,” kata ibu itu lagi.
“Terima kasih banyak. Semoga Allah membalas kebaikan ibu. Kami berharap, apabila ibu datang ke Madinah, sudilah kiranya ibu singgah ke rumah kami. Kami akan senang sekali!” kata Al Hasan mewakili yang lain.
“Insya Allah.”
“Assalamu’alaikum,” kata mereka bertiga.
“Wa’alaikum salam,” jawab ibu itu sambil memandangi kepergian ketiga tamunya.
Tak lama setelah kepergian tamunya, suami wanita itu pulan. Ia terkejut melihat domba satu-satunya yang ia miliki tak lagi tertambat di tempatnya. Ia segera menanyakan hal tersebut kepada isterinya.
“ke manakah gerangan domba kita?”
“Oh … tadi ada tiga orang yang datang kemari. Mereka kehabisanbekal dalam perjalanan mereka untuk berhaji. Aku tak punya apa-apa selain domba itu. Maka iakupotong dan sebagian dagingnya aku berikan kepada mereka.”
Begitulah jawab sang isteri.
“Aduuh… Bagaimana engkau dapat berbuat demikian? Siapakah ketiga orang itu?’
“Mereka mengatakan berasal darisuku Quraish.”
“Dari mana kamu tahu? Bagaimana kamu bisa percaya begitu saja terhadap ucapan mereka? Kamu tidak mengenalnya, maka bagimana kamu bisa percaya bahawa mereka dari Quraish?” tanya sang suami tak habis pikir.
“Tandanya tampak dari wajah-wajah mereka!” jawab isterinya.
Dialog tersebut tersebut hanya berlangsung sampai di situ. Sang suami pun mengikhlaskan pemberian itu setelah mendengar keterangan isterinya.
Alkisah, beberapa waktu kemudian, daerah tempat ibu itu tinggal tersarang penjenayah yang sangat dahsyat. Orang-orang daerah tersebut semuanya pergi meninggalkan desa mereka untuk mencari nafkah.
Mereka tersebar ke mana-mana.
Ada yang ke Makkah, ke Madinah
dan juga ke tempat-tempat lain.
Nasibibu tua dan suaminya pun
tak berbeda dengan
tetangganyayang lain. Sang ibu
dan suaminya pergi menuju
Madinah. Di kota yang baru ini
mereka berjalan mencari nafkah
untuk menyambung hidup. Di
tengah pengembaraannya
menyusuri jalan-jalan di
Madinah,tanpa sadar, ibu itu
melewati rumah Al Hasan as Sang
ibu rupanya sudahtak ingat lagi
kepada ketiga tamunya yang
dahulu. Itulah sebabnya, ia tak
berusaha mencari mereka.
Secarakebetulan, ketika ibu itu
lewat, Al Hasan sedang duduk di
depan rumahnya. Al Hasan
melihat mereka, dan mengejar
sepasang suami-isteri itu,
kemudian menegurnya.
“Ingkatkah ibu kepada saya?”
tanyanya. “Demi Allah, aku tidak
ingat siapa engkau,” jawab ibu
itu. “Ingkatkah ibu kepada tiga
orang tamu yang kehabisan
bekal di tengah perjalanan
mereka untuk berhaji ?” “Tidak!”
“Baiklah, apabila ibu tak ingat
kepada saya, maka saya masih
dapat mengenali ibu. Saya adalah
Hasan bin Ali, orang yang
perarnah ibu beri makanan dan
minuman untuk bekal saya dan
dua orang saudara yang lain
menuju Mekkah. Mari, silahkan
ibu ke rumah saya !” kata Al
Hasan as seraya mengiringi
keduanya menuju kediamannya.
Di rumah Al Hasan itulah
keduanya menceritkan keadaan
yang menimpa desa mereka. Al
Hasan menyambut keduanya
dengan sambutan yang sangat
baik. Dijamu kedua tamunya itu
dengan penuh hormat. Sebelum
pulang, Al Hasan as memberi
keduanya uang seribu dinar dan
beberapa ekor kambing.
Kemudian Al Hasan memanggil
pembantunya dan berkata:
“ Antarkan kedua tamuku ini ke
rumah saudaraku, Husain, dan
kerumah Ja ’far!” “Baik Tuan!”
kata kadamnya. Mereka bertiga
kini dalam perjalanan menuju
rumah Husainbin Ali as
“ Assalamu’alaikum,” kata kadam
Al Hasan. “Wa alaikum salam,”
terdengar jawaban dari dalam
rumah. Tak lama setelah itu, Al
Husain membukakan pintu. Ia
mengenal kadam Al Hasan. “Aku
disuruh mengantarkan kedua
tamu ini kemari, ” kata teman itu.
Al Husain melihat tamunya.
Ternyata ia pun masih mengenal
ibu tersebut. Al Husain segera
menyambutnya dengan penuh
hormat. “Mari, silakan masuk!
Alhamdulillah, akhirnya Allah
mempertemukan kita kembali.”
“Allah Mahabesar!” jawab si ibu.
Setelah berbincang-bincang,
sebelum minta diri, Al Husain
memberi ibu tersebut seribu
dinar uang dan beberapa ekor
domba. “Sungguh Anda sangat
mulia,”“Semoga Allah
yang membalas semua kebaikan
ini, ” tambah suaminya.”
Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam!” jawab Al
Husain. Mereka berdua mohon
diri, dan bersama kadam Al
Hasanpergi kerumah Ja ’far. Tak
beza dengan Al Hasan dan Al
Husain, Ja ’far bin Abdullah pun
menyambut kedua tamunya itu
dengan baik. Ternyata, ia pun
masih mengenal si ibu tua.
“ Astaga… bagaimana kabar
kalian!” tanya Ja’far setelah
membalas salam keduanya.
“ Alhamdulillah, Allah masih
melindungi kami,” kata si suami.
“Dan Mahabesar Allah yang telah
mempertemukan kita kembali,”
kata si isteri. Setelah lama
merekaberbincang-bincang,
Ja ’far memerintahkan kadamnya
menyiapkan beberapa ekor
domba, sedangkan ia sendiri
masuk mengambil uang. Ia pun
memberi ibu tersebut uang
seribu Dinar dan beberapa ekor
Domba. Setelah mengucapkan
terima kasih kepada Ja’far dan
bersyukur kepada Allah SWT,
mereka pun memohon pulang.
Suami isteri itu kemudian
kembalike desanya dengan bekal
tiga ribu dinar uang dan
beberapa ekor domba. Mereka
menjadi orang yang terkaya di
desanya. Kedermawanan Al
Hasan as itu sesuai dengan
sabdaNabi s.a.w.: ”Kepada Al
Hasan aku wariskan kesabaran
dan kedermawananku. ” Sejarah
mencatat, bahwa setelah Imam
Ali bin Abi Thalib as wafat, orang
ramai membaiat Al Hasan as
sebagai Khalifah yang baru. Pada
masa itu, keadaan kaum Muslim
masih belum bersatu benar.
Pemberontakan telah terjadi
sejak Ali bin Abi Thalib a.s
menjadi Khalifah. Berontakan-
berontakan dengan beberapa
kelompok kaum Muslimin – yang
memerangi Imam Ali a.s dengan
alasan menuntut balas atas
terbunuhnya Khalifah Utsman
binAffan tak lagi dapat dihindari.
Di antara orang yang gigih
menuntut balas atas kematian
Utsman, adalah Mu’awiyah bin
Abi Sufyan. Ia yang pada masa
pemerintahan Utsman menjadi
gubenur di Syam – sudah sejak
beberapa waktu sebelumnya
menyiapkan tentara. Utsman
adalah kerabatnya dari kalangan
Bani Umayyah. Dengan tak
memberi kesempatan kepada
Imam Ali untuk menyelidiki
kenapa terbunuhnya Utsman,
Mu ’awiyah berangkat
memerangiImam Ali.
Sebenarnyalah, Mu ’awiyah
sangatmenginginkan jabatan
Khalifah. Karena ia sadar bahwa
kaum Muslimin bakal memilih Ali
bin AbiThalib, maka ia buru-buru
memerangi Imam Ali as dengan
dalil menuntut balas atas
terbunuhnya Utsman. Dalam
peperangan dengan ImamAli itu,
Mu ’awiyah dan pengikutnya
terdesak. Maka selamatlah
mereka dari kehancuran. Namun
demikian pemerintahan Imam Ali
ternyata berakhir dengan
peristiwa pembunuhan atasnya,
ketika beliau sedang memimpin
shalat Subuh. Suasananegara
menjadi tidak menentu
sepeninggal Imam Ali. Dalam
keadaan kacau itulah Al Hasan
dibaiat. (bersambung...)
Langganan:
Postingan (Atom)