Rabu, 16 Maret 2011

RASULULLAH S.A.W DAN SEORANG ARAB BADUI

Di waktu Rasulullah SAW. sedang asyik bertawaf di Ka'bah, beliau mendengar seorang di hadapannya bertawaf, sambil berzikir: 'Ya Karim! Ya Karim!' Rasulullah s.a.w menirunya membaca 'Ya Karim! Ya Karim!' Orang itu lalu berhenti di salah satu sudut Ka'bah, dan berzikir lagi: 'Ya Karim! Ya Karim!' Rasulullah SAW yang berada dibelakangnya mengikuti zikirnya 'Ya Karim! Ya Karim!' Merasa seperti di olok-olokan, orang itu menoleh kebelakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya. Orang itu lalu berkata: 'Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokan ku, karena aku ini adalah orang Arab badui? Kalaulah bukan karena ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.' Mendengar bicara orang badui itu, Rasulullah SAW tersenyum, lalu bertanya: 'Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?''Belum,' jawab orang itu. 'Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?' 'Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan saya membenarkan putusannya sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya,' kata orang arab badui itu pula. Rasulullah SAW pun berkata kepadanya: 'Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!' Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.'Tuan ini Nabi Muhammad?!''Ya,' jawab Nabi SAW Dia segera tunduk untuk mencium kedua kaki RasulullahSAW Melihat hal itu, Rasulullah SAW menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya: 'Wahai orang Arab! Janganlah berbuat serupa itu.Perbuatan serupa itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya.Ketahuilah, ALLAH mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi berita gembira bagi orang yang beriman, dan membawa berita ancaman bagi yang mengingkarinya.' Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata: 'Ya Muhammad! Rabb As-Salam (puncak keselamatan) menyampaikan salam kepadamu dan bersabda: Katakanlah kepada orang Arab itu, agar tidak terpesona dengan belas kasih ALLAH. Ketahuilah bahwa ALLAH akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar!'. Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Orang Arab itu pula berkata: 'Demi keagungan serta kemulian ALLAH, jika ALLAH akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan denganNYA!' kata orang Arab badui itu. 'Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan ALLAH?' Rasulullah bertanya kepadanya. 'Jika ALLAH akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa besar maghfirahNYA,' jawab orang itu. 'Jika DIA memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan mem perhitungkan betapa keluasan pengampunanNYA. Jika DIA memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawananNYA!'. Mendengar ucapan orang Arab badui itu, maka Rasulullah SAW pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badui itu, air mata beliau meleleh membasahi janggutnya. Lantaran itu Malaikat Jibril AS turun lagi seraya berkata: 'Ya Muhammad! Rabb As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda: Berhentilah engkau dari menangis! Sungguh karena tangismu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ia bergoncang. Nah katakan kepada temanmu itu, bahwa ALLAH tak akan menghisab dirinya, juga tak akan memperhitungkan kemaksiatannya. ALLAH sudah mengampuni semua kesalahannya dan ia akan menjadi temanmu di surga nanti!' Betapa sukanya orang Arab badui itu, apabila mendengar berita tersebut. Ia lalu menangis karena tidak berdaya menahan keharuan dirinya.

Senin, 14 Maret 2011

Kunci Kunci Surga

Rasanya tidak ada seorangpun yang tidak menginginkan surga. Rasanya tidak ada seorangpun di antara kita yang mau masuk neraka. Bukan demikian? Suatu saat, setelah Rasulullah SAW selesai mengerjakan shalat dzuhur, beliau bertanya kepada para sahabatnya, “Siapa di antara kalian yang berpuasa pada hari ini ?” Semua orang terdiam kecuali Abu Bakar yang menjawab, “ Saya, wahai Rasulullah.” Rasul bertanya lagi, “ Siapakah yang telah bersedekah kepada kaum papa pada hari ini ?” Lagi-lagi tidak ada yang menjawab selain Abu Bakar, “ Saya, wahai Rasulullah.” Untuk yang ketiga kalinya, Rasul bertanya, “ Siapakah yang telah menjenguk orang sakit hari ini ?” Tidak ada yang menjawab selain Abu Bakar, “ Saya, wahai Rasulullah.” Rasul bertanya lagi, “ Siapakah yang telah mengantarkan jenazah pada hari ini ?” Abu bakar menjawab, “ Saya, wahai Rasulullah.” Rasul bertanya kembali, “ Siapakah yang telah mendamaikan dua orang yang berselisih pada hari ini ?” Abu Bakar menyahut, “ Saya, wahai Rasulullah.” Sejurus kemudian Rasul SAW bersabda, “ Tidaklah seorang mukmin mengerjakan satu kebaikan di antara perbuatan tersebut kecuali satu pintu dari pintu- pintu surga kelak akan berseru di hari kiamat “ Mari masuklah ke sini.” Abu Bakar bertanya, “ Bagaimana jika seseorang itu mengerjakan semuanya ?” Rasul menjawab, “ Sesungguhnya di antara sebagaian umatku ada yang dipanggil oleh pintu-pintu surga yang ada secara bersamaan dan engkau adalah orang yang pertama kali yang dipanggil, wahai Abu Bakar. ” Menjadi seseorang sebagaimana Abu Bakar bukan perkara mudah. Selain ia telah menunaikan puasa tak lupa ia juga menunaikan hak-hak saudaranya. Abu Bakar merupakan sosok yang mempunyai kompentensi yang sulit disaingi oleh orang lain. Lima perkara yang dilakukan olehnya, menurut pandangan Nabi, adalah kunci-kunci surga: berpuasa (sunnah), bersedekah, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, dan mendamaikan perselisihan. Duhai, berapa banyak dari kita yang rakus? Berapa banyak dari kita yang telah bersedekah meski berapa rupiah? Berapa banyak dari kita yang enggan menjenguk orang sakit, mengantar jenazah? Dan pertanyaan terakhir yang mesti kita jawab adalah, sejauh mana upaya kita mendamaikan permusuhan dan perselisihan yang terjadi di antara umat manusia? Atau, justeru kita tidak berrpartisipasi dalam mengurai dan menyelesaikan konflik tersebut? Tahukah kita, kiat Abu Bakar meraih itu semua? Di dorong rasa penasaran, Imam Ali bertanya kepadanya, ” Dengan apa engkau mencapai kedudukan mulia sehingga engkau mengalahkan kami ?” Abu Bakar menjawab, ” Dengan Lima perkara : (1) Saya mendapati Umat manusia terbelah menjadi dua kelompok: Pencari dunia dan pencari akhirat. Saya memilih menjadi pencari Tuhan. (2) Sejak saya masuk islam, saya tak lagi merasakan kelezatan dunia sebab ma ’rifah kepada Allah telah membuatku lupa darinya. (3) Sejak saya masuk Islam, tak pernah lagi saya merasakan kesegaran air dunia sebab Mahabbah kepada Allah telah memuaskan rasa dahagaku. (4) Tiap kali saya menghadapi dua pilihan: Amal untuk kebahagiaan dunia dan amal untuk kebahagiaan akhirat, saya memilih amal untuk kebahagiaan akhirat. (5) Saya menemani Nabi SAW dan berusaha menjadi sahabat yang baik bagi beliau.” Ilustrasi di atas hanya setetes dari samudera hikmah yang bisa membuat hidup kita semakin baik; baik buat diri kita dan baik untuk orang lain. Semoga kita terpacu untuk meraih kunci- kunci Syurga tersebut. Wallahu A ’lam Bishawaab

Sabtu, 12 Maret 2011

SA'ID bin ZAID

"Wahai Allah jika Engkau mengharamkanku dari agama yang lurus ini, janganlah anakku Sa'id diharamkan pula daripadanya." (Do'a Zaid untuk anaknya, Sa'id). Zaid bin Amr bin Nufail berdiri di tengah-tengah orang banyak yang berdesak- desakan menyaksikan kaum Qurays berpesta merayakan salah satu hari besar mereka. Kaum pria memakai serban sundusi yang mahal, yang kelihatan seperti kerudung Yaman yang lebih mahal. Kaum wanita dan anak-anak berpakaian bagus warna menyala dan mengenakan perhiasan indah-indah. Hewan- hewan ternak pun dipakaikan bermacam-macam perhiasan dan ditarik orang-orang untuk disembelih di hadapan patung- patung yang mereka sembah. Zaid bersandar ke dinding Kakbah seraya berkata, "Hai kaum Qurays! hewan itu diciptakan Allah. Dialah yang menurunkan hujan dari langit supaya hewan-hewan itu minum sepuas-puasnya. Dialah yang menumbuhkan rumput- rumputan supaya hewan - hewan itu makan sekenyang- kenyangnya. Kemudian, kalian sembelih hewan-hewan itu tanpa menyebut nama Allah. Sungguh bodoh dan sesat kalian." Al-Khattab, ayah Umar bin Khottob, berdiri menghampiri Zaid, lalu ditamparnya Zaid. Kata Al-Khattab, "Kurang ajar kau! kami sudah sering mendengar kata-katamu yang kotor itu, namun kami biarkan saja. Kini kesabaran kami sudah habis!" Kemudian, dihasutnya orang-orang bodoh supaya menyakiti Zaid. Zaid benar-benar disakiti mereka dengan sungguh- sungguh sehingga dia terpaksa menyingkir dari kota Mekah ke Bukit Hira. Al-Khattab menyerahkan urusan Zaid kepada sekelompok pemuda Qurasy untuk menghalang-halanginya masuk kota. Karena itu, Zaid terpaksa pulang dengan sembunyi-sembunyi. Kemudian, Zaid bin Amr bin Nufail berkumpul ketika orang- orang Qurasy lengah bersama- sama dengan Waraqah bin Naufal. Abdullah bin Jahsy, Utsman bin Harits, dan Umaimah binti Abdul Muthallib, bibi Muhammad saw. Mereka berbicara tentang kepercayaan masyarakat Arab yang sudah jauh tersesat. Kata Zaid, "Demi Allah! sesungguhnya Saudara- Saudara sudah maklum bahwa bangsa kita sudah tidak memiliki agama. Mereka sudah sesat dan menyeleweng dari agama Ibrahim yang lurus. Karena itu, marilah kita pelajari suatu agama yang dapat kita pegang jika Saudara-Saudara ingin beruntung." Keempat orang itu pergi menemui pendeta-pendeta Yahudi, Nasrani, dan pemimpin-pemimpin agama lain untuk menyelidiki dan mempelajari agama Ibrahim yang murni. Waraqah bin Naufal meyakini agama Nasrani. Abdullah bin Jahsy dan Utsman bin Harits tidak menemukan apa-apa. Sementara, Zaid bin Amr bin Nufail mengalami kisah tersendiri. Marilah kita dengar ceritanya. Kata Zaid, "Saya pelajari agama Yahudi dan Nasrani. Tetapi, keduanya saya tinggalkan karena saya tidak memperoleh sesuatau yang dapat menenteramkan hati saya dalam kedua agama tersebut. Lalu, saya berkelana ke seluruh pelosok mencari agama Ibrahim. Ketika saya sampai ke negeri Syam, saya diberitahu tentang seorang Rahib yang mengerti ilmu kitab. Maka, saya datangi Rahib tersebut, lalu saya ceritakan kepadanya tentang pengalaman saya belajar agama." Kata Rahib tersebut, "Saya tahu Anda sedang mencari agama Ibrahim, hai putra Mekah?" Jawabku, "Betul, itulah yang saya inginkan." Kata Rahib, "Anda mencari agama yang dewasa ini sudah tak mungkin lagi ditemukan. Tetapi, pulanglah Anda ke negeri Anda. Allah akan membangkitkan seroang nabi di tengah-tengah bangsa Anda untuk menyempurnakan agama Ibrahim. Bila Anda bertemu dengan dia, tetaplah Anda bersamanya." Zaid berhenti berkelana. Dia kembali ke Mekah menunggu nabi yang dijanjikan. Ketika Zaid sedang dalam perjalanan pulang. Allah mengutus Muhammad menjadi nabi dan rasul dengan agama yang hak. Tetapi, Zaid belum sempat bertemu dengan beliau, dia dihadang perampok-perampok Badui di tengah jalan dan terbunuh sebelum ia kembali ke Mekah. Waktu dia akan menghembuskan napasnya yang terakhir, Zaid menengadah ke langit dan berkata, "Wahai Allah, jika Engkau mengharamkanku dari agama yang lurus ini, janganlah anakku Sa'id diharamkan pula daripadanya." Allah memperkanankan doa Zaid. Serentak Rasulullah mengajak orang banyak masuk Islam, Sa'id segera memenuhi panggilan beliau, menjadi pelopor orang-orang beriman dengan Allah dan membenarkan kerasulan Nabi Muhammad saw. Tidak mengherankan kalau Sa'id secepat itu memperkenankan seruan Muhammad. Sa'id lahir dan dibesarkan dalam rumah tangga yang mencela dan mengingkari kepercayaan dan adat istiadat orang-orang Qurasy yang sesat itu. Sa'id dididik dalam kamar seorang ayah yang sepanjang hidupnya giat mencari agama yang hak. Bahkan, dia mati ketika sedang berlari kepayahan mengejar agama yang hak. Sa'id masuk Islam tidak seorang diri. Dia masuk Islam bersama-sama istrinya, Fathimah binti al-Khattab, adik perempuan Umar bin Khattab. Karena pemuda Qurasy ini masuk Islam, dia disakiti dan dianiaya, dipaksa kaumnya supaya kembali kepada agama mereka. Usaha mereka tidak berhasil. Bahkan sebaliknya, Sa'id dan istrinya sanggup menarik seorang laki-laki Qurasy yang paling berbobot, baik fisik maupun intelektualnya dalam Islam. Mereka berdualah yang telah menyebabkan 'Umar bin Khattab masuk Islam. Sa'id bin Zaid bin Amr bin Nufail membaktikan segenap daya dan tenaganya yang muda untuk berkhidmat kepada Islam. Ketika masuk Islam umurnya belum lebih dari dua puluh tahun. Dia turut berperang bersama Rasulullah dalam setiap peperangan, selain peperangan Badar. Ketika itu dia sedang melaksanakan suatu tugas penting lainnya yang ditugaskan Rasulullah kepadanya. Dia turut mengambil bagian bersama kaum muslimin mencabut singgasana Kisra Persia dan menggulingkan kekaisaran Rum. Dalam setiap peperangan yang dihadapi kaum muslimin, dia selalu memperlihatkan penampilan dengan reputasi terpuji. Agaknya yang paling mengejutkan ialah reputasinya yang tercatat dalam peperangan Yarmuk. Marilah kita dengarkan sedikit kisahnya pada hari itu. Berkata Sa'id bin Zaid bin Amr bin Nufail, "Ketika terjadi perang Yarmuk, pasukan kami hanya berjumlah 24.000 orang, sedangkan tentara Rum berjumlah 120.000 orang. Musuh bergerak ke arah kami dengan langkah-langkah yang mantap bagaikan sebuah bukit yang digerakkan tangah- tangan tersembunyi. Di muka sekali berbaris pendeta- pendeta, perwira-perwira tinggi dan paderi-paderi yang membawa kayu salib sambil mengeraskan suara membaca doa. Doa itu diulang-ulang oleh tentara yang berbaris di belakang mereka dengan suara mengguntur." Tatkala tentara kaum muslimin melihat musuhnya seperti itu, kebanyakan mereka terkejut, lalu timbul rasa takut di hati mereka. Abu Ubaidah bangkit mengobarkan semangat jihad kepada mereka. Kata Abu Ubaidah dalam pidatonya, antara lain, "Wahai hamba- hamba Allah! menangkan agama Allah, pasti Allah akan menolong kamu dan memberikan kekuatan kepada kamu!" "Wahai hamba-hamba Allah! tabahkan hati kalian, karena ketabahan adalah jalan lepas dari kekafiran, jalan mencapai keridaan Allah dan menolak kehinaan." "Siapkan lembing dan perisai! tetaplah tenang dan diam, kecuali mengingat Allah dalam hati kalian masing-masing. Tunggu perintah saya selanjutnya, insya Allah!" Kemudian, Sa'id melanjutkan ceritanya. Tiba-tiba seorang prajurit muslim keluar dari barisan dan berkata kepada Abu Ubaidah, "Saya ingin syahid sekarang, adakah pesan-pesan Anda kepada Rasulullah?" Jawab Abu Ubaidah, "Ya, ada! Sampaikanlah salam saya dan kaum muslimin kepada beliau. Katakan kepada beliau, sesungguhnya kami telah mendapatkan apa yang dijanjikan Tuhan kami!" Setelah mengucapkan kata- kata itu, saya lihat dia menghunus pedang dan terus maju menyerang musuh- musuh Allah. Saya membanting diri ke tanah, dan berdiri di atas lutut saya. Saya bidikkan lembing saya, lalu saya melompat menghadang musuh. Tanpa terasa perasaan takut lenyap dengan sendirinya di hati saya. Tentera muslimin bangkit menyerbu tentara Rum. Akhirnya Allah memenangkan kaum muslimin. Sesudah itu Sa'id bin Zaid turut berperang menaklukan Damsyiq. Setelah kaum muslimin memperlihatkan kepatuhan, Abu Ubaidah bin Jarrah mengangkat Sa'id bin Zaid menjadi wali di sana. Dialah wali kota pertama dari kaum muslimin setelah kota itu dikuasai. Dalam masa pemerintahan Bani Umayah, merebak suatu isu dalam waktu yang lama di kalangan penduduk Yatsrib terhadap Sa'id bin Zaid. Yakni, seorang wanita bernama Arwa binti uwais menuduh Sa'id bin Zaid telah merampas tanahnya dan menggabungkannya dengan tanah Said sendiri. Wanita tersebut menyebarkan tuduhannya itu ke seantero kaum muslimin, dan kemudian mengadukan perkaranya kepada Wali Kota Madinah, Marwan bin Hakam. Marwan mengirim beberapa petugas kepada Sa'id untuk menanyakan perihal tuduhan wanita tersebut. Sahabat Rasulullah ini merasa prihatin atas fitnah yang dituduhkan kepadanya itu. Kata Sa'id, "Dia menuduhku menzaliminya (meramapas tanahnya yang berbatasan dengan tanah saya). Bagaimana mungkin saya menzaliminya, padahal saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Siapa saja yang mengambil tanah orang lain walaupun sejengkal, nanti di hari kiamat Allah memikulkan tujuh lapis bumi kepadanya. Wahai Allah! dia menuduh saya menzaliminya. Seandainya tuduhan itu palsu, butakanlah matanya dan ceburkan dia ke sumur yang dipersengketakannya dengan saya. Buktikanlah kepada kaum muslimin sejelas-jelasnya bahwa tanah itu adalah hak saya dan bahwa saya tidak pernah menzaliminya." Tidak berapa lama kemudian, terjadi banjir yang belum pernah terjadi seperti itu sebelumnya. Maka, terbukalah tanda batas tanah Sa'id dan tanah Arwa yang mereka perselisihkan. Kaum muslimin memperoleh bukti, Sa'idlah yang benar, sedangkan tuduhan wanita itu palsu. Hanya sebulan sesudah itu, wanita tersebut menjadi buta. Ketika dia berjalan meraba- raba di tanah yang dipersengketakannya, dia pun jatuh ke dalam sumur. Kata Abdullah bin Umar, "Memang, ketika kami masih kanak-kanak, kami mendengar orang berkata bila mengutuk orang lain, 'Dibutakan mata kamu seperti Arwa'." Peristiwa itu sesungguhnya tidak begitu mengherankan. Karena, Rasulullah saw. bersabda, "Takutilah doa orang teraniaya. Karena, antara dia dengan Allah tidak ada batas." Maka, apalagi kalau yang teraniaya itu salah seorang dari sepuluh sahabat Rasulullah saw. yang telah dijamin masuk surga, Sa'id bin Zaid, tentu lebih diperhatikan oleh Allah SWT. Sumber: Shuwar min Hayaatis Shahabah, Dr. Abdur Rahman Ra'fat Basya

Rabu, 09 Maret 2011

Nasehat-Nasehat Gurunda

segala puji bagi allah swt yg telah menciptakan kadar segala sesuatu&memberi hidayah.shalawat & salam atas nabi muhammad saw sang pembawa petunjuk kebenaran ,beserta keluarga nya,para sahabat & siapa saja yg mengikuti sunah nya. salah satu pemakna'an yg penting dlm hidup ini adalah memahami tujuan hidup kita ini sebagai manusia,ajaran-ajaran kearifan yg bersumber dalam sinaran islam,banyak mengajarkan bahwa tujuan hidup manusia adalah menyucikan jiwadan membiarkan nya bergabung lagi dengan'DUNIA CAHAYA'dari mana dia berasal.tema ini meresap ke dalam tradisi inteliktual.misal nya dapat kita lihat dalam pandangan filosof islam terkemuka,di antara nya Ibnu sina yang mengatakan:"kita telah menetapkan situasi kembali yang sejati.kita telah membuktikan bahwa kebahagian di akhirat dapat di peroleh dengan membuat jiwa tak tertandingi." maksud dari perkata'an ibnu sina tentang'membuat jiwa tak tertandingi' adalah kita harus menjauhkan diri dari kondisi- kondisi badaniyah yang bertentangan dengan penyebab- penyebab kebahagia'an.usaha membuat jiwa tak tertandingi ini di capai melelui ciri-ciri watak dan perangai tertentu.ciri itu adalah bahwa jiwa berpaaling dari badan dan persepsi rasa terus menerus mengigat sumber nya sendiri.jika iya kembali pada esensi nya sendiri,ia tidak dapat lagi menerima aktivitas dari ka ada'an-ke ada'an badaniyah itu sendiri. firman allah swt:''Demi jiwa dan dia yang menyempurnakan nya dan memperkenalkan keburukan dan kebaikan.sungguh beruntung orang yang dapat menyucikan jiwa,dan merugilah orang yang mengotori nya"(QS.asy-syam ayat 7-10) Dalam sebuah hadits nabi muhammad saw bersabda yang artinya:"musuh mu yang paling buruk adalah jiwa mu yang berada di antra ke dua sisi mu" Manusia mempunya kelebiha diantara semua makhluk ,kelebiha itu adalah bahwa manusia mempuyai 2 deminsi,Pertama,dimensi materi,yang di dalam filsafat di namakan juga dimensi hewani,Di dalam filsafat jasad manusia dinamakan dengan gharizah (insting)atau raghbah (kecendrungan).sementara di dalam ilmu akhlaq dan irfan islam di nama kan dengan orientasi hewan atau dimensi hewani manusia.oleh karena itu dari deminsi ini manusia adalah hewan dlam arti yang sesungguh nya,dan tdk berbeda sama sekali dengan hewan-hewan yang lain. Manusia juga memiliki dimensi spiritual,dimensi ini meliputi yang di dalam filsafat di namakan dng roh.oleh karena itu para ulama mengatakan manusia itu terdiri dari roh dan jism,akal,nurani,hati,nafs semua nya mempunyai arti yang sama,yaitu semua tertuju kepada sisi spiritual manusia,.kesempurna'an manusia terjadi,melalui komposisi ini.oleh karena malikat hanya memiliki dimensi spiritual saja,maka dia tidak bisa di lihat,dan tidak akan bisa mencapai sisi kesempurna'an. Meskipun jibril adalh malikat yg sangat dekat dengan allah swtdan memiliki keluasan wujudi atas alam ini,dan sebagaimana rasulullah saw bersabda:''jika seorang mampu mencakup haqiqat malikat jibril maka ia juga memiliki penguasa'an atas alam semesta ini"namun malikat jibril tidak mempunyai kesempurna'an.benar keluasan wujud malikat jibri sangat besar,karna dia malaikat yg sangat dekat dengan allah swt,demikian juga hal nya dengan malaikat izrail.akan tetapi tidak ada perbeda'an sedikitpun malaikat jibril yang sekarang dengan malaikat jibril semiliyar tahun yg lalu,padahal dia senantiasa bersungguh- bersungguh beribadah kpd allah swt. Al-Qur'an menegaskan bahwa malaikat jibril sama sekali tidak menentang dan bermaksiat kpd allah dan ke ada'an nya seperti keada'an malaikat yg lain,yaitu tidak berjalan menuju kepada kesempurna'an.hewan juga tidak memiliki kesempurna'an.sebagai contoh,semut dan lebah hidup secara berkelompok dan mempunyai peradaban dan pola hidup yg khas.para ulama islam telah menulis kitab mengenai hewan-hewan ini,salah satu nya adalah Ad-Darimi. sistem peradaban yang di ikuti di dalam kehidupan serangga ini mengungguli sistem peradaban yang di ikuti oleh sebagian manusia.namun,meskipun memiliki peradaban yang demikian ini ,lebah misal nya,tidak berjalan menuju kesempurna'an.semiliyar tahun yang lalu lebah telah mampu membangun rumah yang sangat maju sekali,yang membuat insyinyur terkagum kagum akan ketelitian nya,akan tetapi,sekarang lebah masih tetap membangun rumah yang sama,tidak terdapat kemajuan apapun dalam cara membangun rumah atau dalam sistem kehiduapn yang berlaku pada semut,untuk sampai pada peradaban yg lebih maju,kemajuan dan kesempurna'an hanya ada pada alam cipta'an yang bernama manusia.karena manusia memiliki 2 dimensi:dimensi malakut dan di namakan dengan ROH Yang kedua,adalah dimensi kemalaikatan/ roh,komposisi yang sangat mengagumkan.dalam arti cara susunan ini tidak di ketahui hingga skrng,dan tentunya kita tidak bisa mengetahui hakikat susnan ini,tidak ada filosof yg dapat menjelaskan susunan roh dan jasad.mereka hanya cukup mengatakan"sesungguhnya cara susunan ini adalah cara tallauqiyyah".Namun apa itu cara susunan talluqiyah???yang jelas,ini merupakan susunan yang berlawanan. Terdapat riwayat yang datang dari rasulullah saw ber kena'an dengan perjalanan mi'raj nya,di dalam riwayat itu rasulullah saw bersabda,yang artinya:''Pada malam mi'raj aku melihat seorang malaikat yang sebagian tubuh nya terbuat dari api dan sebagian yang lain terbuat dari salju'' .salju tidak dapat merembes ke api,begitu juga api tidak dapat menjalar ke salju.jika kita ingin memahami riwayat ini,maka ketahuilah diri kita adalah sebaik baik contoh dalam hal ini, Semua kecendrongan roh kita tidak sejalan dengan jasad kita,sebalik nya,kecendrongan- kecendrongan jasad kita juga menyusahkan dan melukai roh kita,anda tidak akan bisa menemukan kelezatan roh yang dapat menyenangkan jasad.sebagai contoh,sifat mangkaji ilmu,sifat mencari kebenaran,sifat toleransi,sifat berkorban,dan semua sifat yang terkait dengan deminsi roh manusia.ketika masalah dapat di pecahkan,maka roh akan merasakan kelezatan yang sangat,akan tetapi kelezatan roh itu akan di ikutui oleh rasa sakit pada jasad,artinya,pencarian kebenaran manyebabkan kelelahan pada jasad,begitu juga pencarian ilmu. Semua urusan itu menyebabkan rasa sakit dan kelelahan bagi jasad anda,adapun makan,minum,memenuhi tuntutan syahwat dan istirahat adalah kebutuhan-kebutuhan yang bermnfaat bagi jasad.namun,sebagai mana yang di kata kan matsnawi,setiap kali anda memberikan perhatian pada jasad ini maka pada sa'at yang sama anda membunuh roh dan mendatangkan kemalasan,kepaatan bagi roh.susunan apakah di antar dua hal yang berlawanan ini???ini adalah susunan yang manusia dapat mencapai kesempurna'an dengan nya. Terkadang dimensi malakut,yang kita nama kan denga roh,menunggangi dimensi materi yang di namakan dimensi hewani dan bergerak kedepan dengan gerak kesempurna'an.dalam arti jasad ini tidak ubah nya menjadi kuda tunggangan bagi roh,sedangkan roh mendidik jasad dan mengendalikan nya ke mana iya pergi,sehingga bisa sampai kesuatu tempat yang tidak seorang pun tahu kecuali allah swt.dia tidak ubah nya sepertti buraq yang di tunggangi rasulullah hingga beliau kemudian naik ketampat yang lebih tinggi.namun bagai mana buraq itu bisa naik ketempat yang lebih tinggi kita tidak bisa mengetahui nya.sesungguh nya yang kita ketahui ialah bahwa rasulullah saw pergi beserta dengan jasad nya kepada suatu tempat yang mana dia sangat dekat dengan allah swt.

Wasiat Nasehat Gurunda

Senin, 07 Maret 2011

MUTIARA HIKMAH PARA SALAF

"Berziarahlah kamu kepada orang-orang soleh! Karena orang-orang soleh adalah obat hati." (Habib Abdullah bin Muhsin Al- Attas) Seindah-indahnya tempat di dunia adalah tempat orang- orang yang soleh, kerana mereka bagai bintang-bintang yang bersinar pada tempatnya di petala langit." (Habib Alwi bin Muhammad Al- Haddad) "Apakah kamu mau tahu kunci- kunci syurga itu ? Kunci Syurga sebenarnya adalah "Bissmillahirramanirrahim" (Al Habib Abdullah Bin Muhsin Al Atthos) "Sebaik-baiknya teman adalah Al-Qur'an! dan seburuk- buruknya teman adalah syaitan!" (Al Habib Abdullah Bin Muhsin Al Atthos) "Orang yang sukses adalah orang yang istiqomah di dalam amal baik." (Al Habib Alwi Bin Muhammad Bin Tohir Al Haddad) "Semua para wali di angkat karena hatinya yang bersih, tidak sombong, dengki, dan selalu rendah diri" (Al Habib Muhsin Bin Abdullah Al Atthos) Jadikan akalmu, hatimu, ruhmu, jasadmu, karena bila semua terisi dengan namanya berbahagialah kamu “. (Al Habib Abdullah Bin Muhsin Al Attas) Jadilah orang-orang yang sholeh, karena orang-orang yang sholeh akan bahagia di dunia dan akherat . Dan jadilah orang-orang yang benar, jangan menjadi orang yang pintar, karena orang yang pintar belum tentu benar, tetapi orang yang benar sudah pasti pintar “. (Al Habib Abdullah Bin Abdul Qadir Bin Ahmad Bilfaqih) Ilmu itu bagai lautan dan tak akan ada yang mengenalnya kecuali merasakannya “. Al Habib Abdurrahman Bin Ahmad Assegaf Janganlah kau tunda-tunda kebaikan sampai esok hari, karena engkau tak tahu apakah umurmu sampai esok hari". Orang yang buta bukan orang yang melihat banyaknya harta, akan tetapi, yang disebut orang buta, orang yang tak mau melihat ilmu agama". (Al Habib Abdullah Bin Mukshin Al-Attas)

Minggu, 06 Maret 2011

Sedekah Dapat Membuka Pintu Hidayah

Sedekah Membuka Pintu Hidayah Keutamaan sedekah sungguh sangat banyak sekali dan luar biasa. Mulai dari memperpanjang umur, membuat harta berkah dan bertambah, mencegah musibah hingga menunda kematian. Namun ternyata tidak hanya itu, sedekah dapat pula membuka pintu hidayah seseorang. Hal ini dapat kita simak dari cerita berikut ini. Sebut saja namanya dengan Amir. Dahulu Amir ini adalah seorang yang gemar melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama dan juga dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai orang yang kikir, meskipun memiliki kekayaan dibandingkan dengan warga yang lain. Namun setelah ia bertobat dan insaf, shalat lima waktu tidak pernah ditinggalkan dengan berjamaah di masjid. Dia juga rajin ikut pengajian yang diadakan di masjid tersebut. Malam itu, seperti biasa sang ustadz memberikan tausiyah bagi jamaah. Tausiyah kali ini adalah tentang keutamaan shadaqah atau sedekah. Sang ustadz menjelaskan jika kita memiliki harta 1000 dirham kemudian 300 dirham kita sedekahkan, maka yang 300 dirham itulah yang sesungguhnya kekal dan akan dinikmati di akhirat nanti. Bahkan yang 300 dirham itu dapat bertambah karena Allah akan melipatgandakan sebanyak tujuh ratus kali. Selain itu, harta yang dimiliki pun akan dipenuhi dengan keberkahan. Setelah mendengar tausiyah dari pengajian malam itu, Amir berniat untuk mensedekahkan sebagian hartanya guna mendapatkan ridha dan keberkahan dari Allah Swt. Dengan hati yang tulus dan niat yang sangat kuat untuk mengeluarkan sedekah, malam itu ia keluar rumah dengan membawa kantong yang berisi 100 dirham. Begitu sampai di rumah yang ditujunya, ia mengetuk pintu. Seseorang lantas muncul dari dalam rumah. Setelah Amir mengucapkan salam lantas menyerahkan kantong yang berisi 100 dirham tersebut kepada pemilik rumah, tanpa berpanjang lebar ia pamit. Peristiwa tersebut didengar oleh warga dan warga pun merasa terheran-heran, bahkan ada yang mengejek bahwa Amir ini telah salah sasaran dalam mengeluarkan sedekah. Karena ternyata yang diberikan sedekah itu adalah seorang pencuri. Perbincangan warga setempat sampailah ke telinga si Amir, ia hanya berujar dalam hati, “ Alhamdulillah, telah bersedekah kepada seorang pencuri. ” Hari berikutnya, ketika malam tiba, seperti biasa Amir keluar rumah dengan membawa kantong yang berisi 100 dirham untuk disedekahkan. Rumah yang dia pilih kali ini adalah rumah yang berada di pinggiran kota. Setelah ia memilih rumah tersebut, kemudian ia mengetuk pintu. Keluarlah pemiliki rumah yang ternyata seorang wanita. Setelah mengucapkan salam ia menyerahkan sedekahnya tersebut dan langsung pergi. Berita ini kemudian sampai lagi ke telinga warga dan menjadi pembicaraan yang hangat di antara warga tersebut. Para warga mengatakan dengan nada yang agak sinis, “Meskipun rajin ke masjid tapi sedekah yang dikeluarkan kok salah sasaran terus, tempo hari memberikan kepada pencuri, sekarang memberikan kepada pelacur, sebenarnya apa sih yang dipikirkan oleh si Amir ini.” Tatkala obrolan warga ini sampai ke telinganya, Amir hanya mengucapkan “ Alhamdulillah telah bersedekah kepada seorang pelacur. ” Malam harinya, Amir kembali keluar rumah dengan membawa kantong yang berisi 100 dirham, seperti yang sudah-sudah. Ia menuju rumah yang dekat dengan pusat perbelanjaan. Setelah memberikan sedekahnya ia lantas pulang dengan harapan sedekahnya kali ini tidak salah sasaran. Namun pagi harinya warga kembali mengomentari sedekah yang diberikan oleh Amir. Mereka mengatakan bahwa apa yang Amir sedekahkan lagi-lagi salah sasaran. “Kemarin bersedekah untuk pelacur, tempo hari sedekah diberikan kepada si pencuri, semalam dia bersedekah untuk orang kaya padahal orang yang miskin yang membutuhkan uluran tangannya cukup banyak di sekitarnya, orang yang aneh.” Ungkap warga. Amir mendengar kembali apa yang warga bicarakan mengenai sedekah yang ia keluarkan. Setelah mendengar pembicaraan dan komentar warga yang cukup sinis, Amir hanya berucap Alhamdulillah aku telah bersedekah kepada orang kaya, pelacur dan pencuri. Malam harinya, Amir melaksanakan shalat tahajjud, setelah melaksanakan tahajjud Amir terlelap tidur. Ketika tidur, Amir bermimpi ia didatangi oleh seseorang yang memberikan informasi bahwa sedekah yang telah ia berikan kepada pencuri, membuat pencuri itu insaf dan tidak melakukan pencurian kembali. Sedekah yang ia berikan kepada pelacur, membuka pintu hidayah bagi wanita tersebut untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai pelacur dan bertobat kepada Allah Swt. Sedangkan sedekah yang ia berikan kepada orang yang kaya, ternyata orang kaya itu adalah orang yang pelit. Setelah menerima sedekah dari Amir, orang kaya tersebut mau mengeluarkan zakat, infak dan sedekah. Sedekah yang ia keluarkan diterima oleh Allah Swt, karena Amir ikhlas dalam mengeluarkan sedekah tersebut. Dengan kejadian tersebut, Amir semakin banyak mengerjakan kebaikan dan semakin khusyuk dalam beribadah. Dia menyadari bahwa yang terpenting dalam mengerjakan amal ibadah adalah niat yang tulus dan ikhlas karena Allah Swt semata, bukan karena perkataan orang banyak. Dan apa yang telah dilakukan oleh Amir semakin membuktikan kekuatan sedekah, bahwa sedekah dapat membuka pintu hidayah.

Kamis, 03 Maret 2011

IMAM HASAN AL-MUJTABA as (bag. 4)

Mereka tersebar ke mana-mana. Ada yang ke Makkah, ke Madinah dan juga ke tempat-tempat lain. Nasibibu tua dan suaminya pun tak berbeda dengan tetangganyayang lain. Sang ibu dan suaminya pergi menuju Madinah. Di kota yang baru ini mereka berjalan mencari nafkah untuk menyambung hidup. Di tengah pengembaraannya menyusuri jalan-jalan di Madinah,tanpa sadar, ibu itu melewati rumah Al Hasan as Sang ibu rupanya sudahtak ingat lagi kepada ketiga tamunya yang dahulu. Itulah sebabnya, ia tak berusaha mencari mereka. Secarakebetulan, ketika ibu itu lewat, Al Hasan sedang duduk di depan rumahnya. Al Hasan melihat mereka, dan mengejar sepasang suami-isteri itu, kemudian menegurnya. “Ingkatkah ibu kepada saya?” tanyanya. “Demi Allah, aku tidak ingat siapa engkau,” jawab ibu itu. “Ingkatkah ibu kepada tiga orang tamu yang kehabisan bekal di tengah perjalanan mereka untuk berhaji?” “Tidak!” “Baiklah, apabila ibu tak ingat kepada saya, maka saya masih dapat mengenali ibu. Saya adalah Hasan bin Ali, orang yang perarnah ibu beri makanan dan minuman untuk bekal saya dan dua orang saudara yang lain menuju Mekkah. Mari, silahkan ibu ke rumah saya!” kata Al Hasan as seraya mengiringi keduanya menuju kediamannya. Di rumah Al Hasan itulah keduanya menceritkan keadaan yang menimpa desa mereka. Al Hasan menyambut keduanya dengan sambutan yang sangat baik. Dijamu kedua tamunya itu dengan penuh hormat. Sebelum pulang, Al Hasan as memberi keduanya uang seribu dinar dan beberapa ekor kambing. Kemudian Al Hasan memanggil pembantunya dan berkata: “Antarkan kedua tamuku ini ke rumah saudaraku, Husain, dan kerumah Ja’far!” “Baik Tuan!” kata kadamnya. Mereka bertiga kini dalam perjalanan menuju rumah Husainbin Ali as “Assalamu’alaikum,” kata kadam Al Hasan. “Wa alaikum salam,” terdengar jawaban dari dalam rumah. Tak lama setelah itu, Al Husain membukakan pintu. Ia mengenal kadam Al Hasan. “Aku disuruh mengantarkan kedua tamu ini kemari,” kata teman itu. Al Husain melihat tamunya. Ternyata ia pun masih mengenal ibu tersebut. Al Husain segera menyambutnya dengan penuh hormat. “Mari, silakan masuk! Alhamdulillah, akhirnya Allah mempertemukan kita kembali.” “Allah Mahabesar!” jawab si ibu. Setelah berbincang-bincang, sebelum minta diri, Al Husain memberi ibu tersebut seribu dinar uang dan beberapa ekor domba. “Sungguh Anda sangat mulia,” kata si ibu. “Semoga Allah yang membalas semua kebaikan ini,” tambah suaminya.” Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam!” jawab Al Husain. Mereka berdua mohon diri, dan bersama kadam Al Hasanpergi kerumah Ja’far. Tak beza dengan Al Hasan dan Al Husain, Ja’far bin Abdullah pun menyambut kedua tamunya itu dengan baik. Ternyata, ia pun masih mengenal si ibu tua. “Astaga… bagaimana kabar kalian!” tanya Ja’far setelah membalas salam keduanya. “Alhamdulillah, Allah masih melindungi kami,” kata si suami. “Dan Mahabesar Allah yang telah mempertemukan kita kembali,” kata si isteri. Setelah lama merekaberbincang-bincang, Ja’far memerintahkan kadamnya menyiapkan beberapa ekor domba, sedangkan ia sendiri masuk mengambil uang. Ia pun memberi ibu tersebut uang seribu Dinar dan beberapa ekor Domba. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Ja’far dan bersyukur kepada Allah SWT, mereka pun memohon pulang. Suami isteri itu kemudian kembalike desanya dengan bekal tiga ribu dinar uang dan beberapa ekor domba. Mereka menjadi orang yang terkaya di desanya. Kedermawanan Al Hasan as itu sesuai dengan sabdaNabi s.a.w.:”Kepada Al Hasan aku wariskan kesabaran dan kedermawananku.” Sejarah mencatat, bahwa setelah Imam Ali bin Abi Thalib as wafat, orang ramai membaiat Al Hasan as sebagai Khalifah yang baru. Pada masa itu, keadaan kaum Muslim masih belum bersatu benar. Pemberontakan telah terjadi sejak Ali bin Abi Thalib a.s menjadi Khalifah. Berontakan-berontakan dengan beberapa kelompok kaum Muslimin – yang memerangi Imam Ali a.s dengan alasan menuntut balas atas terbunuhnya Khalifah Utsman binAffan tak lagi dapat dihindari. Di antara orang yang gigih menuntut balas atas kematian Utsman, adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Ia yang pada masa pemerintahan Utsman menjadi gubenur di Syam – sudah sejak beberapa waktu sebelumnya menyiapkan tentara. Utsman adalah kerabatnya dari kalangan Bani Umayyah. Dengan tak memberi kesempatan kepada Imam Ali untuk menyelidiki kenapa terbunuhnya Utsman, Mu’awiyah berangkat memerangiImam Ali. Sebenarnyalah, Mu’awiyah sangatmenginginkan jabatan Khalifah. Karena ia sadar bahwa kaum Muslimin bakal memilih Ali bin AbiThalib, maka ia buru-buru memerangi Imam Ali as dengan dalil menuntut balas atas terbunuhnya Utsman. Dalam peperangan dengan ImamAli itu, Mu’awiyah dan pengikutnya terdesak. Maka selamatlah mereka dari kehancuran. Namun demikian pemerintahan Imam Ali ternyata berakhir dengan peristiwa pembunuhan atasnya, ketika beliau sedang memimpin shalat Subuh. Suasananegara menjadi tidak menentu sepeninggal Imam Ali. Dalam keadaan kacau itulah Al Hasan dibaiat. (bersambung...)

ANTARA SABAR DAN MENGELUH

Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Diwaktu tawaf tiba-tiba ia melihatseorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya. "Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu,tidak lain kerana itu pasti kerana tidak pernah risau dan bersedih hati." Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, "Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati kerana risau, dan seorang pun yang menyekutuinya aku dalam hal ini." Abu Hassan bertanya,"Bagaimana hal yang merisaukanmu ?" Wanita itu menjawab, "Pada suatu hari ketika suamiku sedangmenyembelih kambing korban, dan pada aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besarberkata pada adiknya, "Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?" Jawab adiknya, "Baiklah kalau begitu ?" Lalu disuruh adiknya baring dan disembelihkannya leher adiknya itu. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah memancut keluar dan lari ke bukit yang mana di sana ia dimakan oleh serigala, lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tibabayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya habis melecur kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang telah berkahwin dan tinggal di daerah lain, maka ia jatuh pengsan hingga sampai menuju ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara di antara mereka semua." Lalu Abul Hassan bertanya,"Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu ?" Wanita itu menjawab, "Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka." Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap terkena musibah dan dugaan dari Allah. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi,: " Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil keksaihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya." Begitu juga mengeluh. Perbuatanini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda,: " Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang." Dan sabdanya pula, " Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah,dan orang yang mengeluh, jika iamati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya bagi pakaiandari wap api neraka." (Riwayat oleh Imam Majah) Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.

Senin, 28 Februari 2011

يا رسول الله سلام عليك ( Ya Rasulullah Salamun 'Alaik ) IMAM HADDAD

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم يا رسول الله سلام عليك ( Ya Rasulullah Salamun 'Alaik ) يَا إِمَامَ الرُّسْلِ يَا سَنَدِي Wahai penghulu para rasul ! wahai sandaranku أَنْتَ بَعْدَ الله مُعْتَمَدِي Setelah Allah, engkau adalah peganganku فَبِـدُنْيـَايَ وَآخِـرَتِي Dalam urusan dunia dan akhiratku يا رسول الله خُذْ بِيَدِيْ Wahai rasulullah! Bantulah aku عَطْفَـةً يَا جِيْرَةَ الْعَلَـمِ Belas kasihmu wahai yang berjiran dengan Ka’bah يَا أُهَيْلَ الْجُوْدِ والْكَـرَمِ Wahai keluarga yang bermurah dan mulia نحنُ جِيْرَانٌ بِذَا الْحَـرَمِ Kami berada berhampiran dengan Kota Haram حَرَمُ الإحْسَانِ والْحَسَـنِ Kota yang penuh ihsan dan kebaikan نحن مِنْ قَوْمٍ بِهِ سَكَنـُوْا Kami daripada kaum yang tinggal di Kota Haram وَبِهِ مِنْ خَوْفِهِمْ أَمِنـُوْا Di dalamnya mereka aman daripada ketakutan وَبِآيَاتِ الْقُرْآنِ عُنـُوْا Dan oleh ayat-ayat Al-Quran mereka di perhatikan فَاتَّئِـدْ فِيْنـَا أَخَا الْوَهَـنِ Maka janganlah kamutergesa-gesa atas kami wahai saudara yang lemah نَعْرِفُ الْبَطْحـَاء وَتَعْرِفُنـَا Kami kenal kepada padang pasir (Mekkah) dan ia mengenal kami وَالصَّـفَا وَالْبَيْـتُ يَأْلَفُنـَا Demikian pula Bukit Sofa dan Ka ’ bah وَلَنَا الْمَعْـلَى وَخَيْـفُ مِنَى Untuk kami Ma ’ la dan Khaif Mina فَاعْلَمَـنْ هذَا وَكُنْ وَكُـنِ Ketahuilah engkau akan hal ini dan yakinlah وَلَنـَا خَيْـرُ الأَنـَـاِم أَبُ Untuk kami sebaik-baik manusia sebagaiayah وعَـلِيٌّ الْمُرْتَضَـى حَسَـبُ Dan Ali Al-Murtadha sebagai datuk kami وإِلَى السِّـبْطَيْـنِ نَنْتَسِـبُ Kepada dua cucu Nabi(Hasan & Husein) kami bernasab نَسَبـًا مَا فِيْـهِ مِـنْ دَخَـنِ Nasab yang tiada terdapat keraguan أَهْلُ بَيْتِ الْمُصْطَـفَى الطُّهُـرِ Keluarga nabi yang suci هُـمْ أَمَـانِ الأَرْضِ فَاذَّكِـرِ Mereka pengaman dimuka bumi, maka ingatlah itu شُـبِّهُـوْا بِالأَنْجُـمِ الزُّهُـرِ Mereka umpama bintang-bintang yanggemerlapan مِثْلَ مَا قَدْ جَـاءَ فِي السُّنَـنِ Sebagaimana telah di nyatakan dalam hadith-hadith وسَـفِـيْنٌ لِلنَّـجَـاةِ إِذَا Mereka umpama bahtera keselamatan bila خِفْتَ مِنْ طُوْفَانِ كُلِّ أَذًى Kau takut angin taufan yang menghanyutkan فَانْجُ فِيْهَا لاَ تَكُوْنُ كَـذَا Maka naiklah ke atasnya kau akan selamat فَاعْتَصِمْ بِاللهِ وَاسْتَعِنِ Berpegang teguhlah dengan Allah dan mintalah pertolongan رَبِّ فَانْفَعْنَا بِبَرْكَتِهِمْ Ya Allah, kurniakanlahkami dengan berkat mereka وَاهْدِنَا الْحُسْنَى بِحُرْمَتِهِمْ Berilah petunjuk padakami jalan yang baik dengan kehormatan mereka وَأَمِتْـنَا فِي طَرِيْقَتِهِمْ Matikanlah kami padajalan mereka وَمُعَـافَاةٍ مِنَ الْفِتَنِ Serta selamatkanlah kami dari fitnah ثُمَّ لاَ تَغْتَرَّ بِالنَّسَبِ Janganlah engkau membanggakan diri dengan nasabmu لاَ وَلاَ تَقْنَعْ بِكَانَ أَبِي Dan jangan pula engkau merasa cukupdengan kejayaan ayahmu وَاتَّبِعْ فِي الْهَدْيِ خَيْرَ نَبِيّ Ikutilah sebaik-baik nabi dalam petunjuknya أحْمَدِ الْهَادِي إلَى السَّنَنِ Iaitu Ahmad, pemberipetunjuk pada jalan yang benar

Rabu, 23 Februari 2011

الراتب الشهير للحبيب عبد الله بن علوي الحداد Ratib Al Haddad part.5‎

27. اَلْفَاتِحَةَ  إِلَى رُوحِ سَيِّدِنَا الْفَقِيْهِ الْمُقَدَّمِ مُحَمَّد بِن عَلِيّ باَ عَلَوِي وَأُصُولِهِمْ وَفُرُوعِهِمْ وَكفَّةِ سَادَاتِنَا آلِ أَبِي عَلَوِي أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَبِأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِ هِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَالآخِرَةِ. 27. Bacalah Al- fatihah kepada roh Penghulu kita al-Faqih al-Muqaddam, Muhammad ibn AliBa’alawi, dan kepada asal - usul dan keturunannya, dan kepada semua penghulu kita dari keluarga bani ‘Alawi, moga - moga Allah tinggikan darjat mereka di syurga, dan memberi kita manfaat dengan mereka, rahsia-rahsia mereka, cahaya mereka di dalam agama, dunia dan akhirat. 28. اَلْفَاتِحَةَ إِلَى أَرْوَاحِ ساَدَاتِنَا الصُّوْفِيَّةِ أَيْنَمَا كَانُوا فِي مَشَارِقِ الأَرْضِ وَمَغَارِبِهَا وَحَلَّتْ أَرْوَاحُهُمْ - أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَبِعُلُومِهِمْ وَبِأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِ هِمْ، وَيُلْحِقُنَا بِهِمْ فِي خَيْرٍ وَعَافِيَةٍ. 28. Bacalah al- fatihah kepada roh -roh Penghulu kita Ahli Ahli Sufi, di mana saja roh mereka berada, di timur atau barat, moga moga Allah tinggikan darjat mereka di syurga, dan memberi kita manfaat dengan mereka, ilmu-ilmu mereka, rahsia-rahsia mereka, cahaya mereka, dan golongkan kami bersama mereka dalam keadaan baik dan afiah. 29. اَلْفَاتِحَةَ إِلَى رُوْحِ صاَحِبِ الرَّاتِبِ قُطْبِ الإِرْشَادِ وَغَوْثِ الْعِبَادِ وَالْبِلاَدِالْحَبِيْبِ عَبْدِ اللهِ بِنْ عَلَوِي الْحَدَّادوَأُصُوْلِهِ وَفُرُوْعِهِ أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّة وَيَنْفَعُنَابِهِمْ وَأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِهِمْ بَرَكَاتِهِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَالآخِرَةِ. 29. Bacalah fatihah kepada roh Penyusun Ratib ini, Qutbil-Irshad , Penyelamat kaum dan negaranya, Al-Habib Abdullah ibnAlawi Al-Haddad, asal - usul dan keturunannya, moga moga Allah meninggikan darjat mereka di syurga, dan memberi kita manfaat dari mereka, rahsia-rahsia mereka, cahaya dan berkat mereka di dalam agama, dunia dan akhirat. 30. اَلْفَاتِحَة إِلَى كَافَّةِ عِبَادِ اللهِ الصّالِحِينَ وَالْوَالِدِيْنِ وَجَمِيْعِ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ أَنْ اللهَ يَغْفِرُ لَهُمْ وَيَرْحَمُهُمْ وَيَنْفَعُنَا بَأَسْرَارِهِمْ وبَرَكَاتِهِمْ 30. Bacalah Fatihah kepada hamba hamba Allah yang s o leh, ibu bapa kami, mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, moga moga Allah mengampun i mereka dan merahmati mereka dan memberikita manfaat dengan rahsia rahsia dan barakah mereka. 31. (ويدعو القارئ): 31. Berdoalah disini apa yang di hajati. : اَلْحَمْدُ اللهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وأَهْلِ بَيْتِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِحَقِّ الْفَتِحَةِ الْمُعَظَّمَةِ وَالسَّبْعِ الْمَثَانِيْ أَنْ تَفْتَحْ لَنَا بِكُلِّ خَيْر، وَأَنْ تَتَفَضَّلَ عَلَيْنَا بِكُلِّ خَيْر، وَأَنْ تَجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْخَيْر، وَأَنْ تُعَامِلُنَا يَا مَوْلاَنَا مُعَامَلَتَكَ لأَهْلِ الْخَيْر، وَأَنْ تَحْفَظَنَا فِي أَدْيَانِنَا وَأَنْفُسِنَا وَأَوْلاَدِنَا وَأَصْحَابِنَا وَأَحْبَابِنَا مِنْ كُلِّ مِحْنَةٍ وَبُؤْسٍوَضِيْر إِنَّكَ وَلِيٌّكُلِّ خَيْر وَمُتَفَضَّلٌ بِكُلِّ خَيْر وَمُعْطٍ لِكُلِّ خَيْر يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam, segala puji pujian bagi - Nya atas penambahan ni k mat-Nya kepadakami, moga moga Allah mencucurkan selawat dan kesehahteraan ke atas Penghulu kami Muhammad , ahli keluarga dan sahab a t - sahabat baginda. Wahai Tuhan, kami memohon dengan haq (benarnya) surah fatihah yang Agung, iaitu tujuh ayat yang selalu di ulang-ulang, bukakan untuk kami segala perkara kebaikan dan kurniakanlah kepada kami segala kebaikan, jadikanlah kamidari golongan insan yang baik; dan peliharakanlah kami Ya tuhan kami. sepertimana Kamu memelihara hamba-hambaMu yang baik, lindungilah agama kami, diri kami, anak anak kami, sahabat-sahabat kami, serta semua yang kami sayangi dari segala kesengsaraan, kesedihan, dan kemudharatan. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pelindung dari seluruh kebaikan dan Engkaulah yang mengurniakan seluruh kebaikan dan memberi kepada sesiapa saja kebaikan dan Engkaulah yang  Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Amin Ya Rabbal Alamin. 32. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْـأَلُكَ رِضَـاكَ وَالْجَنَّـةَ وَنَـعُوْذُ بِكَ مِنْ سَـخَطِكَ وَالنَّـارِ. (3X) 32. Ya Allah, sesungguhnya kami me mohon keredhaan dan sy u rga - Mu; dan kami me mohon perlindungan - Mu dari kemarahan - Mu dan api neraka.  (3 X ) Dari Tirmidhi dan Nasa’i, diriwayatkan daripada Anas ibn Malik: Rasulullah s.a.w. bersabda, “Jikalau sesiapa memohon kepada Allah untuk syurga tiga kali, Syurga akan berkata, “Ya Allah bawalah dia ke dalam syurga;” dan jikalau ia memohonperlindungan dari api neraka tiga kali, lalu neraka pun akan berkata, “Ya Allah berilah dia perlindungan dari neraka.” انتهى الراتب الشهير Tamat Ratib Al-Haddad.

الراتب الشهير للحبيب عبد الله بن علوي الحداد Ratib Al Haddad part.4‎

diminta dengan nama-nama-NyaAllah akan memberi. 21. أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبَّ الْبَرَايَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنَالْخَطَاياَ. (4 X ) 21. Aku me mohon ke ampunan Allah Tuhan Pencipta sekalian makhluk, aku me mohon keampunan Allah dari sekalian kesalahan.     (4 X ) Surah 4: An-Nisa’: Ayat 106: “Danhendaklah engkau memohon ke ampun an daripada Allah; sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.” Surah 11: Hud: Ayat 90: “Dan mintalah ke ampun an Tuhanmu, kemudian kembalilah taat kepada - Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengasihani, lagi Maha Pengasih” 22. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. (50X) 22. Tiada Tuhan Melainkan Allah  (50X) Komentar tentang kalimah tauhid sangat panjang. Kalimah “La ilaha illallah” ini adalah kunci syurga. Diriwayatkan oleh Abu Dzar bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah tidak membenarkan seseorang masukke neraka jikalau dia mengucapkan kalimah tauhid iniberulang-ulang kali.” 23. مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ وَمَجَّدَ وَعَظَّمَ وَرَضِيَ اللهُ تَعاَلَى عَنْآلِ وَأَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ بِإِحْسَانٍ مِنْ يَوْمِنَا هَذَا إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَعَلَيْناَ مَعَهُمْ وَفِيْهِمْ بِرَحْمَتِكَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. 23. Muhammad Rasulullah, Allah Mencucurkan Selawat dan Kesejahteraan keatasnya dan keluarganya . Moga-moga dipermuliakan, diperbesarkan, dan diperjunjungkan kebesarannya. Serta Allah Ta'ala meredhai akan sekalian keluargadan sahabat Rasulullah, sekalian tabi'in dan yang mengikuti mereka dengan kebaikan dari hari ini sehingga Hari Kiamat, dan semoga kita bersama mereka dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih daripada yang mengasihani. 24. بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. قُلْ هُوَ اللهُ أَحَـدٌ. اَللهُ الصَّمَـدُ. لَمْ يَلِـدْ وَلَمْ يٌوْلَـدْ. وَلَمْ يَكُـنْ لَهُ كُفُـوًا أَحَـدٌ . (3X) 24. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad): “Dialah Allah Yang Maha Esa; Allah Yang menjadi tumpuan segala permohonan; Iatidak beranak, dan Ia pula tidak diperanakkan; Dan tidak ada sesiapapun yang sebanding dengan-Nya.  Surah Al-Ikhlas (3 X ) Dari Imam Bukhari, diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-khudri; se seorang mendengarbacaan surah al-Ikhlas berulang-ulang di masjid. Pada keesokan paginya dia datang kepada Rasulullah s.a.w. dan sampaikan perkara itu kepadanya sebab diamenyangka bacaan itu tidak cukup dan lengkap. Rasulullah s.a.w berkata, “Demi tangan yang memegang nyawaku, surahitu seperti sepertiga al Quran!” Dari Al-Muwatta', diriwayatkan oleh Abu Hurairah; Saya sedang berjalan dengan Rasulullah s.a.w,lalu baginda mendengar seseorang membaca surah al-Ikhlas. Baginda berkata, “Wajiblah.” Saya bertanya kepadanya, “Apa ya Rasulallah?” Baginda menjawab, “Syurga” (Wajiblah syurga bagi si pembaca itu). 25. بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، مِنْ شَرِّ ماَ خَلَقَ، وَمِنْ شَرِّغَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ، وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ، وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَد‎ 25. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad); “Aku berlindung dengan Tuhan yang menciptakan cahaya subuh, daripada kejahatan makhluk-makhluk yang Ia ciptakan; dan daripada kejahatan malam apabila ia gelap gelita; dan daripada (ahli-ahli sihir) yang menghembus pada simpulan-simpulan ikatan; dan daripada kejahatan orang yang dengki apabila ia melakukan kedengkiannya”. Surah Al-Falaq Diriwayatkan daripada Aisyah r.akatanya: Rasulullah s.a.w biasanya apabila ada salah seorang anggota keluarga baginda yang sakit, baginda menyemburnya dengan membaca bacaan-bacaan. Sementara itu, ketika baginda menderita sakit yang menyebabkan baginda wafat, aku juga menyemburkan baginda dan mengusap baginda dengan tangan baginda sendiri, kerana tangan baginda tentu lebih banyak berkatnya daripadatanganku. 26. بِسْم اللهالرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ، مَلِكِ النَّاسِ، إِلَهِ النَّاسِ،  مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ، اَلَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِالنَّاسِ، مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ. 26. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku berlindung dengan Tuhan sekalian manusia.Yang Menguasai sekalian manusia, Tuhan yang berhak disembah oleh sekalian manusia,Dari kejahatan pembisik penghasut yang timbul tenggelam, Yang melemparkan bisikan dan hasutannya ke dalam hati manusia, dari kalangan jin dan manusia”.     Surah An-Nas Dari Tirmidhi diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-Khudri; Nabi Muhammad s.a.w selalu meminta perlindungan daripada kejahatan jin dan perbuatan hasad manusia. Apabila surah al-falaq dan an-nas turun, baginda ketepikan yang lain dan membaca ayat-ayat ini sahaja. next --ِ

الراتب الشهير للحبيب عبد الله بن علوي الحداد Ratib Al Haddad part.2‎

oleh karena itu, tolonglah kami untuk mencapai kemenangan terhadapkaum-kaum yang kafir” (Surah 2: al-Baqarah  Ayat 286) Dari Muslim, diriwayatkan daripada Abdullah ibn Abbas r.a.:Apabila Jibril sedang duduk dengan Rasulullah s.a.w., dia mendengar bunyi pintu di atasnya. Dia mengangkat kepalanya lalu berkata: “Ini ialah bunyi sebuah pintu di syurga yang tidak pernah dibuka.” Lalu satu malaikat pun turun, dan Jibril berkata lagi, “Ia malaikat yang tidak pernah turun ke bumi” Malaikat itu memberi salam lalu berkata, “Bersyukurlahatas dua cahaya yang diberi kepadamu yang tidak pernah diberi kepada rasul-rasul sebelummu-“Fatihat al-Kitab dan ayat penghabisan Surah al-Baqarah”. Kamu akan mendapat manfaat setiap kali kamu membacanya. 5. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. ( 3X ) 5. Tiada Tuhan Melainkan Allah, Yang satu dan tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kekuasaan, dan bagi-Nya segala pujian. Dialah yang menghidupkan dan yang mematikan, dan Dia sangat berkuasa atas segala sesuatu  (3X) Dari Bukhari, Muslim dan Malik, diriwayatkan daripada Abu Hurairah; Rasulullah s.a.w berkata, “Sesiapa membaca ayat ini seratus kali sehari, pahalanya seperti memerdekakan sepuluh orang hamba, Seratus kebajikan dituliskan untuknya dan seratus keburukan dibuang darinya, danmenjadi benteng dari gangguan syaitan sepanjang hari.” 6. سٌبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اْللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ. ( 3X ) 6. Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Tuhan Yang Maha Besar. (3X) Dari Muslim, diriwayatkan oleh Samurah ibn Jundah: Rasulullah s.a.w bersabda: Zikir-zikir yang paling dekat di sisi Allah adalah empat, iaitu tasbih, takbir, tahmid dan tahlil, tidak berbeza yang mana aturannya apabila engkau berzikirullah. 7. سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحاَنَ اللهِ الْعَظِيْمِ. (3X) 7. Maha suci Allah segala puji khusus bagi-Nya, Maha suci AllahYang Maha Agung. (3X) Dari Bukhari, diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a.: Rasulullah s.a.w. bersabda:  Dua zikir yang mudah di atas lidah tetapi berat pahalanya dan disukai oleh Allah ialah: 'SubhanAllah al-Azim dan 'SubhanAllah wa bihamdihi.'” 8. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. ( 3X ) 8. Ya Allah ampunlah dosaku danterimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang. (3X) Surah 4: An-Nisa’; Ayat 106: “Danhendaklah engkau memohon ampun kepada Allah; kerana sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. Sila rujuk juga Surah 11: Hud; Ayat 90 9. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ. (3X) 9. Ya Allah, cucurkan selawat ke atas Muhammad, Ya Allah, cucurkan selawat ke atasnya dankesejahteraan - Mu.    (3X) Surah 33; Al-Ahzab, Ayat 56: Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya berselawat ke atas Nabi; wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan yang sepenuhnya. Dari Muslim, diriwayatkan daripada Abdullah bin Amr: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesiapa berselawat kepadaku sekali, Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali. 10. أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّآمَّاتِ مِنْ شَرِّمَا خَلَقَ. ( 3X ) 10. Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya. (3X) Dari Abu Dawud dan Tirmidhi, Rasulullah s.a.w. bersabda:  “Sesiapa yang membaca doa ini tiga kali, tiada apa-apa malapetaka akan terjatuh atasnya.” 11. بِسْـمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُـرُّ مَعَ اسْـمِهِ شَيْءٌ فِيالأَرْضِ وَلاَ فِي الْسَّمَـآءِ وَهُوَ الْسَّمِيْـعُ الْعَلِيْـمُ . ( 3X ) 11. Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya tiada suatu pun, baik di bumi mahupun di langit dapat memberi bencana, dan Dia Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui. (3X) Dari Ibn Hibban; Nabi Muhammad s.a.w bersabda: “Hamba-hamba Allah yang membaca doa ini pada waktu pagi dan petang tiga kali, tiada apa jua kesakitan akan dialaminya.” 12. رَضِيْنَـا بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسْـلاَمِدِيْنـًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيّـًا. ( 3X ) 12. Kami redha Allah sebagai Tuhan kami, Islam sebagai Agama kami dan Muhammad sebagai Nabi kami.            (3X) Surah 3: Ali-Imran Ayat 19: Sesungguhnya agama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam. Dari Abu Daud dan Tirmidzi; NabiMuhammad s.a.w. bersabda: “Sesiapa membaca ayat ini di pagi dan petang hari akan masuk ke syurga.” 13. بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَالْخَيْرُ وَالشَّـرُّبِمَشِيْئَـةِ اللهِ. ( 3X ) 13. Dengan Nama Allah, segala pujian bagi-Nya, dan segala kebaikan dan kejahatan adalah kehendak Allah.             (3X) Diriwayatkah oleh Abu Hurairah: Rasulullah s.a.w. bersabda: Wahai Abu Hurairah, bila kamu keluar negeri untuk berniaga, bacakan ayat ini supaya ia membawa kamu ke jalan yang benar.  Dan setiap perbuatan mesti bermula dengan ‘Bismillah’dan penutupnya ialah “Alhamdulillah”. Next ---

الراتب الشهير للحبيب عبد الله بن علوي الحداد Ratib Al Haddad

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم : الفَاتِحَة إِلَى حَضْرَةِ سَيِّدِنَا وَشَفِيعِنَاوَنَبِيِّنَا وَمَوْلانَا مُحَمَّد صلى الله ‏‏عليه وسلم - الفاتحة- Bacalah Al-Fatihah kepada ketua, penyshafaat, nabi dan penolong kita Muhammad s.a.w 1. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ إِيِّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اِهْدِنَاالصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِّيْنَ. آمِيْنِ 1. Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani. Segala puji bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbir sekalian alam. Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani.Yang Menguasai hari Pembalasan (hari Akhirat). Engkaulah sahaja (Ya Allah) Yang Kami sembah, dan kepada Engkaulah sahaja kami memohon pertolongan. Tunjuklah kami jalan yang lurus. Iaitu jalan orang-orang yang Engkau telah kurniakan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) orang-orang yang Engkau telah murkai, dan bukan pula (jalan) orang-orang yang sesat. Diriwayatkan oleh Abu Sa’id ibn al-Mu’lla r.a.:  “Sukakah kamu jika aku ajarkan sebuah Surah yang belum pernah diturun dahulunya, baik dalam Injil mahupun Zabur dan Taurat? Ia adalah Al-Fatihah. Surah 15 Al-Hijr : Ayat 87: “Dan sesungguhnya Kami telah memberi kepadamu (wahai Muhammad) tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dan seluruh Al-Quran yang amat besar kemuliaan dan faedahnya.” 2. اَللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّموَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَابَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ  وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَوَلاَ يَؤُدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ العَلِيُّ العَظِيْمُ. 2. Allah, tiada Tuhan melainkan Dia, Yang Tetap hidup,Yang Kekal selama-lamanya. Yangtidak mengantuk usahkan tidur. Yang memiliki segala yang ada dilangit dan di bumi. Tiada sesiapayang dapat memberi syafaat di sisi-Nya melainkan dengan izin-Nya. Yang mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu Allah melainkan apa yang Allah kehendaki. Luasnya Kursi Allah meliputi langit dan bumi; dan tiadalah menjadi keberatan kepada Allah menjaga serta memelihara keduanya. Dan Dialah Yang Maha Tinggi, lagi Maha Besar. (Surah 2 al-Baqarah Ayat 255 Ayat-al-Kursi) Ayatul Kursi ini mengandungi khasiat yang besar. Terdapat 99 buah hadith yang menerangkan fadhilahnya. Di antaranya ialah untuk menolak syaitan, benteng pertahanan, melapangkan fikirandan menambahkan iman. 3. آمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ أُنْزِلَ إِلَيْهِمِنْ رَبِّه وَالْمُؤْمِنُوْنَ كُلٌّآمَنَ بِاللهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍمِنْ رُسُلِهِ وَقَالُواسَمِعْناَ وَأَطَعْناَ غُفْراَنَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ . 3. Rasulullah telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan juga orang-orang yang beriman;semuanya beriman kepada Allah,dan Malaikat-malaikatNya, dan Kitab-kitabNya, dan Rasul-rasulNya. (Katakan): “Kami tidak membezakan antara seorang rasul dengan rasul-rasul yang lain".  Mereka berkata lagi: Kami dengar dan kami taat (kami pohonkan) keampunanMu wahaiTuhan kami, dan kepadaMu jualah tempat kembali” (Surah 2: Al Baqarah Ayat 285) Diriwayatkan daripada Abu Mas'ud al-Badri r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Dua ayat terakhir dari surah al-Baqarah, memadai kepada seseorang yang membacanya pada malam hari sebagai pelindung dirinya. 4. لاََ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآ إِنْ نَسِيْنَآ أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَاحَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ  قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ  تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنآ أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْناَعَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. 4. Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya. Ia mendapat pahala atas kebaikan yang diusahakannya, dan ia juga menanggung dosa atas kejahatan yang diusahakannya. (Mereka berdoa dengan berkata): "Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau mengirakan kami salah jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau bebankan kepada kami bebanan yang berat sebagaimana yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang yang terdahulu daripada kami. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak terdaya memikulnya. Dan maafkanlah kesalahan kami, serta ampunkanlah dosa kami, dan berilah rahmat kepada kami.Engkaulah Penolong kami; next....

WASIAT IMAM HADAD kedua

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم Maha suci Engkau ya Allah; sungguh kami tiada memiliki ilmu kecuali yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi MahaBijaksana. Alhamdullilah. Segala puji syukur bagi Allah, Tuhan Sang Pencipta semua makhluk, Yang menyeru hamba-hambanya seraya mengkhususkan sebahagian dari mereka dengan hidayah danrahmah! Dan semua itu bersesuaian dengan kehendakNya yang azali.:Sungguh kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu: “Bertakwalah kepada Allah”.(QS.4:131). Dan firman-Nya: “Allah menyeru (manusia) ke syurga Daru’s-Salam dan memimpin orang yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus” (QS.10:25.) Dan firman-Nya lagi: “Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya, (untuk menerima) rahmayNya (yang khusus) dan Allahlah Yang Maha mempunyai kurnia yang besar”. (QS. 2:105). Salawat dan salam bagi junjungan dan pemimpin besar kita: Nabi Muhammad Saw, juga bagi keluarganya serta para sahabatnya, para pembela agama nan lurus. Amma ba’du: Assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Kepada saudaraku yang mencintai dan mengharap, yang mencari ilmu dengan bersungguh-sungguh, dan kepada setiap saudara seiman yang saling mencintai kerana Allah, Tuhan semesta alam, di mana saja keberadaannya, di penjuru Timur Bumi dan di Baratnya, di dataran dan lautan, yang datar mahupun yang berbukit-bukit dan di semua daerah sekitarnya. Saudaraku yang tercinta, Anda telah meminta kepada saya, agar menuliskan wasiat untuk anda, yang mudah-mudahan dapat membuat anda merasa bahagia,dan dapat anda jadikan pegangan kuat dalam perjalanan hidup anda. Untuk itulah saya akan berupaya memenuhi permintaan anda, sekalipun saya sebetulnya bukanahlinya. Namun keinginan anda untuk mengajukan permintaan ini, demikian juga kesediaan saya utnuk memenuhi keinginananda itu, semata-mata demi mengikuti uswah hasanah (peneladanan yang baik) yang memperoleh petunjuk dan para khalaf yang mengikuti mereka. Semoga Allah selalu meredhai mereka semuanya. Memang sudah semenjak dahulukala, tradisi saling mewasiati ini telah menjadi ciri khas dari akhlak mereka. Dan Allah s.w.t telah melukiskan sifat mereka itudalam Al-Quran yang mulia, yang tiada datang kepadanya kebatilan, dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha terpuji.Sebagaimana tercantum dalam kedua surah:Al-Balad dan Wa’l-Ashri. Maka terpeganglah erat-erat dengannya dan mintalah petunjuk Allah dan pertolongan-Nya selalu. Takwa dan Peringkat-Peringkatnya Ketahuilah, wahais audaraku, bahawa yang paling layak di utamakan dalam berwasiat, adalah wasiat tentang takwa kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana. Maka dengan ini, sya berwasiat kepada anda dan kepada diri saya sendiri, serta kepada segenap orang yang beriman dan kaum muslimin semuanya, agar bertakwa kepada Allah Rabb’ul –Alamin, kerana takwa merupakan sarana terpenting yang menghantarkan kepada kebahagian dunia dan akhirat. Takwa pula merupakan asas pondasi pemerkuat pilar-pilar aga,a. Kerananya, tanpa pondasi yang kukuh, sebuah bangunan akan lebih cenderung mengalami kehancuran daripadakesempurnaan. Adapun takwa itu sendiri terdiri atas beberapa tingkatan:Pertama, menjauhi segala perbuatan maksiat dan segala yag diharamkan dalam agama. Yang demikian itu merupakan suatu kewajipan yang tidak boleh tidak. Kedua, menjauhkan diri dari perkara-perkara yang shubhat (yang meragukan, antara haram dan halal). Hal itu merupakan sikap kewaspadaan yang akan melindungi pelakunya dari terjerumus ke dalam sesuatu yang haram. Ketiga, menghindarihal-hal yang berlebihan dan tidak perlu, di antara yang mubah (yang dibolehkan, tidak diperintahkan dan tidak pula dilarang agama) demi memuaskan hawa nafsu semata-mata. Penghindaran diri seperti itu termasuk kategori ‘zuhud yang mendalam’ sepanjang pelaksanaannya disertai kerelaandan kepuasan hati sepenuhnya atau tazahhud (yakni zuhud tingkat bawah yang dipaksakan)sepanjang pelaksanaannya masih disertai dengan perasaan enggan dan berat hati, kerana terpaksa melawan hawa nafsu. Kerananya, barang siapa meninggakan sesuatu kerana takut kepada manusia atau mengharapkan sesuatu yang ada pada mereka, maka ia-pada hakikatnya- hanya bertakwa kepada mereka dan bukan bertakwa kepada Allah. Sedangkan yang benar-benar bertakwa kepada Allah Swt, adalah yang melakukannya kerana semata-mata mengharapkan keredhaan-Nya, menginginkan pahala-Nya dan takut akan seksa-Nya. Dan barangsiapa telah berdiri mantap dalam maqam ketakwaan, maka ia telah layak menerima ilmu yang diwariskan (‘ilm-l-wiratsah). Itulah ‘ilmu ladunni’ (al-‘ilm al-ladunniy) yang dihunjamkan Allah Swt secara langsung ke dalam hati para wali-Nya. Ilmu yang tidak tercantum dalam buku-buku, tidak tercakup dalam pengajaranyang bagaimanapun. Ilmu seperti itu, diharamkan Allah atasorang-orang yang menghamba kepada hawa nafsunya, yang telah diliputi kegelapan hati, yang hanya mementingkan selera nafsu mereka,

Wasiat Pertama - Imam Al Haddad Susunan Ratib Al-Haddad الإمام القطب عبد الله بنعلوي الحداد Al-Imam Al-Qutub Abdullah bin Alawi Al-Haddad

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم Ratib Al-Haddad Ratib Al-Haddad ini mengambil nama sempena nama penyusunnya, iaitu Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, seorang pembaharu Islam (mujaddid) yang terkenal. Daripada doa-doa dan zikir-zikir karangan beliau, Ratib Al-Haddadlah yang paling terkenal dan masyhur. Ratib yang bergelar Al-Ratib Al-Syahir (Ratib Yang Termasyhur) disusun berdasarkan inspirasi, pada malam Lailatul Qadar 27 Ramadhan 1071 Hijriyah (bersamaan 26 Mei 1661). Ratib ini disusun bagi menunaikan permintaan salah seorang murid beliau, ‘Amir dari keluarga Bani Sa’d yang tinggal di sebuah kampung di Shibam, Hadhramaut. Tujuan ‘Amir membuat permintaan tersebut ialah bagi mengadakan suatu wirid dan zikir untuk amalan penduduk kampungnya agar mereka dapat mempertahan danmenyelamatkan diri daripada ajaran sesat yang sedang melanda Hadhramaut ketika itu. Pertama kalinya Ratib ini dibaca ialah di kampung ‘Amir sendiri, iaitu di kota Shibam setelah mendapat izin dan ijazah daripada Al-Imam Abdullah Al-Haddad sendiri. Selepas itu Ratib ini dibaca di Masjid Al-Imam Al-Haddad di Al-Hawi, Tarim dalam tahun 1072 Hijriah bersamaan tahun 1661 Masehi. Pada kebiasaannya ratib ini dibaca berjamaah bersama doa dan nafalnya, setelah solat Isya’. Pada bulan Ramadhan ia dibaca sebelum solat Isya’ bagi mengelakkan kesempitan waktu untuk menunaikan solat Tarawih. Mengikut Imam Al-Haddad di kawasan-kawasan di mana Ratib al-Haddad ini diamalkan, dengan izin Allah kawasan-kawasan tersebut selamat dipertahankan daripada pengaruh sesat tersebut. Apabila Imam Al-Haddad berangkat menunaikan ibadah Haji, Ratib Al-Haddad pun mula dibaca di Makkah dan Madinah. Sehingga hari ini Ratib berkenaan dibaca setiap malam di Bab al-Safa di Makkah dan Babal-Rahmah di Madinah. Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi pernahmenyatakan bahawa sesiapa yang membaca Ratib Al-Haddad dengan penuh keyakinan dan iman dengan terus membaca “ La ilaha illallah” hingga seratus kali (walaupun pada kebiasaannya dibaca lima puluh kali), ia mungkin dikurniakan dengan pengalaman yang di luardugaannya. Beberapa kebezaan boleh didapati di dalam beberapa cetakan ratib Haddad ini terutama selepas Fatihah yang terakhir. Beberapa doa ditambaholeh pembacanya. Al Marhum Al-Habib Ahmad Masyhur bin Taha Al-Haddad memberi ijazah untuk membaca Ratib ini dan menyarankannya dibaca pada masa–masa yang lain daripada yang tersebut di atas juga di masa keperluan dan kesulitan. Mudah-mudahan sesiapa yang membaca ratib ini diselamatkan Allah daripada bahaya dan kesusahan. Ameen. Ketahuilah bahawa setiap ayat, doa, dan nama Allah yang disebutkan di dalam ratib ini telah dipetik daripada Al-Quran dan hadith Rasulullah S.A.W.  Terjemahan yang dibuat di dalam ratib ini, adalah secara ringkas. Bilangan bacaan setiap doa dibuat sebanyak tiga kali, kerana ia adalah bilangan ganjil (witir). Ini ialah berdasarkan saranan Imam Al-Haddad sendiri.Beliau menyusun zikir-zikir yang pendek yang dibaca berulang kali, dan dengan itu memudahkan pembacanya. Zikir yang pendek ini, jika dibuat selalu secara istiqamah, adalah lebih baik daripada zikir panjangyang dibuat secara berkala atau cuai [1] . Ratib ini berbeza daripada ratib-ratib yang lain susunan Imam Al-Haddad keranaratib Al-Haddad ini disusun untuk dibaca lazimnya oleh kumpulan atau jamaah. Semoga usaha kami ini diberkahi Allah.

Selasa, 22 Februari 2011

HANZHALAH BIN ABI AMIR

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم Malam telah menyelimuti kota Madinah Al Munawwarah, bintang -bintang yang bertaburan membawa kedamaian dan ketenangan sertamimpi indah, yang jelas malam itu sebenarnya malam biasa, tapi tidak sama sekali bagi Hanzhalah bin Abi Amir Radiallahuanhu . Hari itu hari dimana mimpinya terwujud, hari yang lama datangnya hari yang lama ditunggunya hari itu Hanzhalah naik ke pelaminan. Hanzhalah menikah pada suatu malam yang besok paginya terjadi perang di Uhud. Hanzhalah minta izin kepada NabiShalallahu alaihi wa salam untuk bermalam bersama isterinya. Sementara dia sendiri tidak tahu dengan pasti apakah malam itu malam pertemuan atau justru malam perpisahan. Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa salam memberinya ijin untuk menginap malam itu bersama pasangan kemantennya. Manis macam apakah yang ada pada malam itu ? Rahasia apa yang dipendam hari itu dari Hanzhalah? Bersamaan dengan menyembulnya fajar pertama terdengar gemuruh perang, terdengar seorang menyeru dan mengumumkan jihad. Beberapa saat dia timbang-timbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan Akhirat Akhirnya dia memilih akhirat demi kenikmatannya. Untuk kemudian menyongsong panggilan jihad dan meninggalkan dunia dengan segala isinya. Waktu itu Hanzhalah Radiallahuanhu masih Junub, belum sempat mandi besar, melesat memenuhi seruan kebenaran, serta melayang tidak menginjak bumi, Sepasang penganten malam itu melesat dengan membawa senjatanya untuk bergabung dengan Nabi Shalallahu alaihi was salam yang sedang menyiapkan barisan Muslimin, meyiapkan hati untuk melakukan transaksi dijalan Allah Hanzhalah masuk pasar surga………… Perang sangat dahsyat berkemilau dengan serunya padaawalnya kemenagan diraih tapi tatkala pasukan pemanah meninggalkan posisi mereka, keadaan berbalik menjadi kacau dan orang-orang musyrik maju. Akan tetapi beberapa tentara tetap teguh bertahan bersama Rasulullah Shalallahu alihi wa salam, termasuk di dalamnya Hanzhalah Dia terus menunjukkan dan membuktikan kecintaannya terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala. Dia maju menghadap Abu Sofyan bin Harb Dengan cepat dia menebas kaki kuda Abu Sofyan dari belakang sehingga Abu Sofyan terjatuh dia menjatuhkannya dari atas kudanya seakan-akan dia menjatuhkan kebathilan yang telah mencuri kebenaran dan kebathilan yang mengacau akidahnya Pada saat itu datanglah Syaddad bin Al Aswad membantu Abu Sofyan melawan Hanzhalah Radiallahuanhu, untuk kemudian salah satu dari dua orang itu bisa membunuh hati yang bersih dengan lemparan lembing yang tembus Abu Sofyanberteriak “ Hanzhalah dengan Hanzhalah yang maksudnya dia telah membalaskan dendam anaknya yang terbunuh dalam perang Badar Hanzhalah Radiallahuanhu meninggalkan kita, tetapi bau wangi misik darinya tetap semerbak menyirami jiwa-jiwa generasi sesudahnya agar jiwa yang sedang tertidur menjadi bangkit dengan harapan suatu ketika akan menunggangi kuda-kuda Syahid. Tanah menjadi suci dengan kemanten kita tadi lalu perang usai mereka yang telah melakukan transaksi telah menjajakan semua barangnya mereka membawa hati mereka dalam genggaman Untuk diterima atau ditolak oleh Allah Subhanahu wa ta'ala sesuai dengan kehendak-Nya. Mereka yakin bahwa kesungguhan / kejujuran pada waktu itu adalah kekayaan yang paling berharga. Dan siapa yang sungguh- sungguh jujur dengan Allah tidak akan sia-sia. Para Sahabat Radiallahuanhu yang masih tersisa mulai mencarisaudara-saudara mereka yang masih menanti janji dari langit memilah-milah siapa yang lebih dahulu ke langit. Tangan mereka yang berusaha menyentuh jasad Hanzhalah Radiallahuanhu yang berlumur darah mereka kagum adanya rintik rintik air mengalir dari dahinya seperti butiran-butiran mutiara dan berjatuhan dari sela-sela rambutnya. Ini tentu menjadi misteri Apa maksudnya sampai kemudian para sahabat mendengar suara Nabi Shalallahu alaihi wa salam bersabda : “Sungguh Aku melihatMalaikat memandikan Hanzhalah bin Amir ra antara langit dan bumi dengan air awan dalam bejana terbaut dari perak. Sesungguhnya Allah telah membeli jiwa dan harta orang-orang yang beriman dengan mendapatkan harga surga Selamat wahai anda Hanzhalah anda telah mendapat surga orang-orang Aus, Suku Hanzhalahsangat bangga dengannya karena dari suku mereka ada yang dimandikan Malaikat Sesungguhnya Hanzhalah akan tetap menjadi kebanggaan dan terpatri dalam dada kaum muslimin bukan hanya untuk Aussaja! Semoga Allah ridha terhadap Hanzhalah bin Abi Amir Radiallahuanhu.

Senin, 21 Februari 2011

WASIAT IMAM HADDAD bag.4

dan sebaliknya cenderung melakukan pelanggaran. Saya juga berpesan, hendaklah anda tidak mensia-siakan sedetik pun dari waktu-waktu anda, bahkan setarikan nafas pun, kecuali yang akan membawa manfaat bagi diri anda dalam kehidupan akhirat anda ataupun kehidupan dunia anda yang dapat menolong andadi dalam kehidupan akhirat kelak. Menghilangkan Was-Was SetanDari Dalam Hati Adakalanya muncul dalam hati manusia pelbagai was-was (bisikan jahat setan yang menimbulkan keraguan dalam hati), yang paling sulit diantaranya ialah menyangkut masalah akidah, demikian pula dalam pelbagai amalan peribadatan. Adapun salah satu cara agar bisaterhindar dari was-was itu ialah, antara lain dengan meneliti secara saksama:apabila was-wastersebut sudah jelas-jelas berkaitan dengan kebatilan, seperti meragukan tentang eksistensi Allah dan hari akhirat, maka tiada jalan lain baginya kecuali harus menolaknya dengan tegas, dengan berpaling darinya dan memohon perlindungan Allah Swt. Secara tulus, seraya memperbanyak zikir kepada-Nya. Akan tetapi bilamana bisikan was-was itu masih dalam kerangka sesuatu yang meragukan:apakah termasuk sesuatu yang haqq atau bathil, maka hendaklah meminta fatwa tentang hukumnya kepada orang-orang yang berilmu dan beroleh petunjuk;kemudian berpegang erat-erat dengan fatwa mereka dan mengandalkannya. Adapun setiap perbuatan hati yang dilakukan tanpa adanya unsur kesengajaan, maka kafarat (penebus)-nuya adalah dengan bersikap membencinya. Menjaga Lidah Saya berpesan kepada anda agarberupaya sungguh-sungguh dalam menjaga llidah dari ucapan sia-sia. Sebab, lidah adalah cermin isi hati. Kata seorang bijak: “Lidah itu bagaikan binatang buas, bila egkau mengurungnya, ia akan menjagamu. Tetapi bila engkau melepaskannya, ia akan menerkammu”. Oleh sebab itu, usahakanlah menyibukkan lidah anda hanya dengan sesuatu yang memanng termasuk urusan anda sendiri, misalnya dengan membaca Al-Quran, berzikir dan menyeru manusai ke arah kebaikan. Jangan sekali-kali melibatkannya dalam hal-hal bukan urusan anda. Iaitu ucapan-ucapan yang tidak anda harapkan pahalanya apabila anda ucapkan, dan yang tidak pula anda khuatirkan akan terkena hukuman apabila tidak anda ucapkan. Setiap ucapan menimbulkan konsekuensi antara lain terjerumus dalam suatu tindakan terlarang atau menyia-yiakan waktu yang amat berharga dalam hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat atau meningggalkan bekas yang tidak menyenangkan di dalam hati. Jelasnya, setiap gerak yang dilakukan atau kalimat yang diucapkan, pasti akan meninggalkan bekas didalam hati. Jika hal itu merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah Swt, nescaya akan menimbulkan cahaya di dalamnya. Dan sekiranya hal itu merupakan sesuatu yang mubah sekalipun (yang tidak dianjurkandan tidak pula dilarang), maka kebanyakan dari hal itu akan menimbulkan kekerasan hati. Apalagi jika hal itu merupakan sesuatu yang terlarang, nescaya akan menimbulkan kegelapan. Selanjutnya saya berpesan kepada anda agar menghindarkan lidah dan hati anda dari segala perbuatan yangmerugikan kaum Muslim secara  keseluruhan. Seperti, misalnya berprasangka buruk terhadap mereka. Kerananya jangan sekali-kali bergaul dan duduk berbincang-bincang dengnan orang-orang yang suka menggunjing atau menujukan cercaan terhadap kaum muslim. Dan jika sampai ke pendengaranmu tentang suatu pebuatan buruk dari seseorang di antara mereka (kaum muslim),sedangkan anda merasa mampumenasihatinya, maka lakukanlah.Atau jika tidak – jangan sekali-kali menyebutkan tentang keburukannya itu di hadapan orang lain, sehingga dengan demikian anda telah melakukan dua keburukan sekaligus: pertama dengan tidak memberinya nasihat; dan kedua, mengucapkan sesuatu yang buruk berkenaan dengan peribadi seorang muslim. Berbangga Diri Selanjutnya, saya berpesan hendaknya anda tidak merasa diri lebih baik dari orang lain. Apabila perasaan seperti itu terlintas dalam hati anda, sedarilah betapa anda sudah sering kali melakukan kesalahan-kesalahan di masa lalu. Bagaimanapun juga, seorang yang berakal sihat pasti mengetahui bahawa dirinya sendiri sarat dengan berbagai aib dan kesalahan. Maka hendaklah ia menyakini hal itu dan tidak meragukannya sedikit pun. Dan tidaklah sepatutnya ia menuduh siapa pun dengan keburukan yang belum tentu adapadanya. Sebab, kebanyakkan dari apa yang anda ketahui dari saudara-saudara anda adalah berdasarkan persangkaan dan dugaan semata-mata. Sedangkanpersangkaan adalah ucapan-ucapan yang paling banyak mengandung kebohongan (sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis-penerj.) Disampingitu, mungkin saja terdapat alasan-alasan pemaafan berkaitan dengan sebahagian keburukan yang diperkirakan seperti itu. Walaupun demikian, tidak sepatutnya seseorang membuka pintu pemaafan bagi dirinya sendiri, mengingnat hal itu akan membuat hati lebih cenderung kepada penyia-yiaan waktu dan terjerumus lebih dalam lagi dalam lembah-lembahsyahwat hawa nafsu.

WASIAT IMAM HADDAD bag.3

berkaitan dengan apa yang dimakan, dipakai dan dinikahi. Ilmu ladunni seperti itulah yang diajarkan Allah Swt kepada hamba-hamba-Nya yang khusus seperti diisyaratkan dalam firman-Nya: “Bertakwalah kamu kepada Allah, nescaya Allah akan mengajari kamu”. Demikian pula dalam sabda Rasullah Saw .: “ barangsiapa mengamalkan ilmu yang diketahuinya, nescaya Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya.” Dan itulah buah dari amalan ilmuyang diperoleh dari Al-Quran danSunnah Nabi Saw., yang tersaring bersih dari segal;a noda hawa nafsu. Dan begitu pula buah dari upaya mengikuti jalan lurus yang disertai dengan penuh takwa, disamping menjauh dari sifat keangkuhan dan kebanggaan pada diri sendiri. Dan tentunya takkan mungkin bagi seorang hamba, menyiapkan dirinya guna dapat meraih limpahan anugerah illahi yang demikian besarnya itu, tanpa sebelummnya melakukan riyadhah (pelatihan mental dan pengendalian diir) yang intensif, dengan cara memutuskan segalaajakan syahwat hawa nafsu, disertai dengan mengkonsentrasikan diri kepadaAllah secara terus menerus, dalam beribadat kepada-Nya secara ikhlas dan murni semata-mata hanya untuk-Nya saja. Keharusan Menuntut Ilmu Saya berpesan selanjutnya hendaklah Anda selalu berusaha dengan sungguh-sungguh menuntut ilmu yang berguna, dengan cara membaca, menelaah buku-buku ataupun berdiskusi untuk mencapai hasil.Jangan sekali-kali meninggalkan upaya itu kerana malas atau bosan, atau pun kerana perasaan takut sekiranya anda nanti tidak mampu mengamalkan ilmu anda itu. Yang demikian itu merupakan kebodohan belaka. Dan hendaklah anda dalam hal ini selalu membaikkan niat anda dan bermawas diri, jangan segera berpuas hati dengan merasa telah cukup berhasil, sampai anda benar-benar menguji diri anda sendiri. Selanjutnya, berupayalah sungguh-sungguh untuk mengamalkan ilmu yang telah anda ketahui itu, serta mengajarkannya kepada siapa yang belum mengetahuinya, baikanda diminta atau tidak. Dan apabila setan membisikkan kepada anda: “ Janganlah mengajar sebelum kamu benar-benar menjadi alim yang luas ilmunya” ,  maka katakan kepadanya: “Kini aku apabila ditinjau dari apa yang telah kuketahui adalah alim (seorang yang berilmu), dan kerananya wajib untuk mengajarkannya kepada orang-orang lain. Sedangkan – apabila ditinjau dari apa yang belum kuketahui-maka aku kini seorang pelajar yang wajib belajar dan menuntutilmu”. Ini tentunya berkenaan dengan ilmu yang wajib dipelajari. Adapun selebihnya, tak apalah jika anda pelajari juga. Mengajarkan ilmu merupakan amal ibadat yang besar pahalanya, sepanjang diiring dengan niat baik yang dasarnya ‘kerana Allah’ semata-mata bukan kerana sesuatu lainnya, tanpa sedikit pun niat untuk meraih harta atau kedudukan. Hendaklah anda, secara konsisten menelaah buku-buku para ulama terdahulu, terutama para tokoh sufi dan memperhatikan apa yang ada didalamnya. Kerana di situ terhimpun banyak petunjuk khusus tentang bagaimana mengenal Allah serta berbagai bimbingan tentang cara-cara pembaikan niat, keikhlasan dalam beramal pendidikan jiwa dan lain sebagainya. Semuanya itu adalah ilmu-ilmu sangat bermanfaat yang tentunya akan menuntun kearah keberuntungan dan keselamatan. Dan tiada yang enggan memperhatikan dan membaca buku-buku seperti itu, kecuali orang-orang yang sudah buta mata hatinya atau gelap jiwanya.Walaupun demikian sekiranya waktu anda sangat terbatas, tidak cukup untuk mengkaji buku-buku itu secara keseluruhan, maka khususkanlahpengkajian anda pada buku-buku karangan Imam Ghazali kerana itulah yang palingbanyak manfaatnya, paling lengkap isinya dan paling menarik susunan kata-katanya. Kehadiran Hati dan Kekhusyukan Anggota Tubuh Saya berpesan, hendaklah anda selalu menghadirkan diri dan mengkhusyukkan anggota badan di saat melakukan ibadah-ibadah anda. Dengan demikian anda akan meraih buah hasilnya dan tersinari oleh percikan cahayanya. Dan hendaklah anda selalu dalam keadaan siap untuk menerima pengawasan Allah atas segala gerak geri anda. Camlah selalu dalam hati anda bahwa Allah Swt. Adalah Maha cermat dalam pengamatan-Nya dan Maha dekat dengan diri anda. Upayakanlah agar anda mampu menjadi penasihat bagi diri andasendiri dan sekaligus pemberi peringatan kepadanya. Ajaklah iake jalan Allah dengan Hikmah kebijaksanaan serta nasihat yang baik. Berikan pengertian kepadanya bahwa pengabdian dan ketaatan kepada Allah Swt. Akan membawa rasa kenikmatan abadi, serta kemulian dan kekayaan yang besar. Sebaliknya, meninggalkan pengabdian dan ketaatan lalu melakukan perbuatan maksiat, akan berakibat seksaan batin yang pedih dan kehinaan yang besar. Nafsu manusia, kerana kebodohannya, tidak mahu melakukan atau meninggalkan apa pun kecuali demi sesuatu yang diingininya ataupun yang ditakutinya. Ini mengingat nafsu manusia memang bertabiat selalu malas melakukan ketaatan

Minggu, 20 Februari 2011

DOA KETIKA BERADA D SUATU MAJELIS

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم Sabda Nabi Muhammad saw: “Bila umatku hadiri suatu majelis,jangan sekali-kali tinggalkan majelis sebelum tiga kali baca doa (artinya): ‘Maha Suci Engkau, wahai Allah, dengan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau. Ampunilah dosa-dosaku dan terimalah taubatku.’ Jika majelis itu banyak kebaikan, doa tadi menyegelkan kebaikan. Jika majelis itu banyak keburukan, doa tadi jadi penghapus dosa-dosa selama di dalam majelis.” {Diriwayatkan dari Abu Hurairah} ABU YAZID al Busthami, seorang shalihin, lakukan munajat dengansepenuh hati. Jiwanya sangat tenang, hatinya sangat sejuk dan akalnya membumbung bak ke Arsy. Memercik dalam perasaannya, kiranya di sinilah kedudukan Rasulullah saw. Semoga kelak aku bertetangga dengan beliau di surga. Lalu beberapa saat di dalam hati Abu Yazid terdesir seruan, ‘Hai Abu Yazid. Sungguh budak si Fulan yang bertempat tinggal di desa anu, kelak akan jadi tetanggamu di surga.” Desiran hati tersebut permenungan yang tak habis-habis bagi Abu Yazid. Ia bertolak hendak mencari keberadaan budak si Fulan. Di sana Abu Yazid mencari. Orang-orang yang ditanyai memandangnya ganjil, “Kenapa engkau temui seorang fasiq yangtenggelam dalam minuman haram? Menilik cahaya wajahmu, tentulah kau ini termasuk orang shalih.” Bagaimana pun, keterangan orang-orang ini ciutkan semangat Abu Yazid, barangkali desiran hati itu dari bisikan setan. Ia hampir memutarbadan kembali ke kampung halamannya. Tetapi, pikirnya, jauhsudah dan susah payah aku datang hingga sini, masak aku berbalik pulang padahal wajah budak itu belum kulihat. Abu Yazid putuskan lanjutkan pencarian, “Di manakah budak si Fulan berada kini?” Orang-orang menunjuk, “Sekarang dia di kerumunan orang minum-minumkhamr itu.” Abu Yazid melangkah ke tempat yang ditunjuk. Di sana, budak si Fulan duduk-duduk reriungan di antara empat puluhan orang yang mereguk khamr. Pencarian ini benar-benar sia-sia, Abu Yazidsangat kecewa. Ia kecele dan putuskan pulang. Abu Yazid putarbadan. Tiba-tiba, “Abu Yazid. Kenapa kautidak singgah?”, budak si Fulan menegur, “Engkau berangkat dari tempat teramat jauh dan bersusah payah jalan hingga tempat ini hendak lihat tetanggamu kelak di surga. Berhasil bertemu, engkau malah balik tanpa mengucap salam, tanpa ada pembicaraan dan tanpa ada perjumpaan.” Abu Yazid terkejut. Budak si Fulan cairkan kebingungannya, “Ya Abu Yazid. Engkau tidak perlu bingung kenapa aku bisa mengetahui kedatanganmu. Tak ada yang mencengangkan. Dzat yang gerakkan dirimu datang ke sini telah beri tahu diriku. Mari, masuk dan duduklah bersama kami barang sebentar.” Abu Yazid memasuki majelis, canggung, “Ya Fulan. Ada apa dengan semua ini?” Si Fulan puin menerangkan, “Tidakkah kau tahu, masuk surga itu berombongan? Di sini dulu ada delapan puluh orang yang gemarreguk khamr. Aku bimbing mereka lalu empat puluh orang telah bertaubat tinggalkan kefasiqan ini. Mereka itulah teman-temanku kelak di surga. Kini tinggal empat puluh orang belum keluar dari kegemaran fasiq itu. Wahai tetanggaku di surga kelak, karena kau telah hadir di sini, giliran tugasmu bimbing mereka tercegah dari berbuat fasiq.” Percakapan dua orang bertetanggaan di surga itu didengar empat puluh orang pemabuk yang ada. Mereka jadi tahu, orang yang baru datang itu ternyata Abu Yazid al Busthami, sang waliyullah. Kehadirannya bawa berkah besar, mereka segera bertaubat. Jumlah mereka sekarang delapan puluh dua orang, yang kelak bertetanggaan di surga. Majelis itu terhindarkan siksa Allah Ta’ala sebab Abu Yaziddan budak si Fulan tak pernah tinggalkan bacaan doa majelis seperti di ajarkan Rasulullah saw.

Sabtu, 19 Februari 2011

IMAM HASAN AL-MUJTABA as (bag. 6)

Al Husain a.s, adik kandungnya, duduk disamping tubuh kakaknya. Ia merasa hairan mengetahui sakit kakaknya yang sangat mendadakitu. Rupanya, Al Hasan a.s telah diracuni. “Katakan, siapakah yang telah meracunimu?” tanya Al Husain. “Tiga kali sudah aku diracuni orang, namun yang sekali ini sungguh luar biasa!” kata Al Hasan as. “Katakanlah, siapakah orang yang telah meracunimu itu!” pinta Al Husain a.s mendesak. Rupanya, Al Hasan sengaja tak mau menyebutkan nama orang yang telah meracuninya, meskipun Al Husain mendesak menanyakan hal tersebut. Tak ada catatan yang pasti tentang orang yang meracuni Al Hasan. Sebagian riwayat menyebutkan, bahwa Al Hasan diracuni oleh isterinya sendiri yang bernama Ja’dah binti Asy’ats. Terbujuk oleh rayuan Mu’awiyah untuk dikawinkan dengan putranya yang bernama Yazid, ditambah imbuhan seratusribu dinar, Ja’dah terpikat untuk membunuh Al Hasan. Diceritakan, bahwa Ja’dah kemudian menerima wang sebesar seratus ribu dinar itu, namun Mu’awiyah menolak untuk mengawinkan diadengan Yazid. Ketika ditanya tentang alasannya tidak mengawinkan Ja’dah dengan Yazid, Mu’awiyah berkata: “Bagaimana mungkin aku berani mengawinkan dia dengan anakku? Apabila ia telah tega meracuni cucu Rasulullah s.a.w, maka apa pula yang akan dia lakukan terhadap puteraku, Yazid?” Ja’dah tertegun dan baru sadar setelah semuanya terjadi. Jenazah Al Hasan as dimakamkan di pekuburan Baqi’, dekat makamneneknya, Fatimah binti Asad. Kaum muslimin berkabung mendengar berita wafatnya Al Hasan a.s. Masih jelas dalam ingatan mereka, betapa Al Hasan sangat menyerupai Nabi hampir dalam semua hal. Kerinduan orang kepada Nabi yang biasanya terobati dengan hadirnya Al Hasan a.s kini tak mungkin dinikmati lagi… Waallahu 'alam...

IMAM HASAN AL-MUJTABA as (bag. 5)

Mu’awiyah tak tinggal diam mendengar pembaiatan atas Al Hasan as. Ketika mulai menjabat sebagai Khalifah, Al Hasan yang sadar akan apa yang bakal dilakukan oleh Mu’awiyah, segera menulis surat kepada Mu’awiyah, mengingatkan akan pentingnya persatuan, dan meminta Mu’awiyah untuk juga membaiatnya. Suarat itu ditulis dengan kata-kata yang baik. Tetapi Mu’awiyah segera membalas surat Al Hasan. Mu’awiyah yang pada waktu itu juga mengangkat diri sebagai Khalifah, menyatakan bahwa ia lebih mempu dan lebih berhak menjadi Khalifah daripada Al Hasan as. Mu’awiyah tak lupa menawarkan “suap” kepada Al Hasan as. Singkat cerita, keadaan semakin dekat dengan pertelingkahan antara Al Hasan dengan Mu’awiyah. Dan Mu’awiyah mulai mencari pengaruh. Ia membujuk setiap orang dan kepala-kepala suku dengan bujukan wang. Tak sedikit orang yang karena bujukan duniawi itu akhirnya berpihak kepada Mu’awiyah. Setelah merasa kuat, Mu’awiyah kemudian menyiapkan pasukan dari Syam menuju Kufah. Al Hasan a.s mengetahui semua rencana dan persiapan Mu’awiyah. Dengan cepat ia mengumpulkan penduduk Kufah,yang semuanya berpihak dan memaksa dia untuk menjadi Khalifah. Tapi, ternyata pengikut Al Hasan a.s tak cukup setia seperti pengikut Mu’awiyah. Setelah pecah pertempuran, panglima pasukan Al Hasan sendiri belot, menjadi pengikut Mu’awiyah, karena imbuhan wang satu juta dirham. Berita pembelotan panglima perang Al Hasan a.s itu segera tersebar. Perajurit lainnya yang mendengar berita itu kemudian menjadi lalai. Dengan membabi buta, mereka bahkan menyerang kemah Khalifah Al Hasan sendiri. Mereka merampas harta benda AlHasan a.s yang ada dikemah tersebut. Salah seorang dari mereka, Al Jarrah bin Asad, bahkan menyerang Al Hasan sehingga menimbulkan luka-luka pada tubuh beliau. Al Hasan berkata kepadanya, dan perkataannya itu juga ditujukan kepada yang lain: “Dulu kalian membunuh ayahku. Kini kalian menyerang dan berusaha untuk membunuh diriku.”Nampaknya, Al Hasan sudah benar-benar tak dapat mempercayai pengikutnya sendiri. Orang yang benar-benar setia kepadanya terlalu sedikit untuk dapat meneruskan peperangan. Dengan pertimbangan itu, dan mengingatpentingnya keutuhan dan persatuan umat, Al Hasan a.s berniat mengakhiri perang yang jauh tak seimbang, karena hal itu hanya akan menambah banyaknya jumlah korban yang jatuh. Namun Al Hasan tidak semudah itu melepaskan jabatan dan membiarkan Mu’awiyah berkuasasemaunya. Sebelum menyerahkankekhalifahan kepada Mu’awiyah, terlebih dahulu ia mengadakan perjanjian. Di antara isi perjanjianyang panjang tersebut, salah satubagiannya menyebutkan, bahwa sepeninggal Mu’awiyah, kepemimpinan umat akan diserahkan kembali kepada kaumMuslimin untuk memilih sendiri pemimpin yang mereka kehendaki. Di sinilah tampak bagaimana Al Hasan benar-benar memperhatikan kepentingan kaum Muslimin. Pasal itu akhirnyadilanggar oleh Mu’awiyah yaitu dengan mengangkat putranya, Yazid, sebagai pengganti dirinya, sementara kaum Muslimin tak dapat berbuat apa-apa di bawah ancaman pedang dan sebahagiannya lagi luluh karena bujukan wang dan jabatan. Setelah dicapai kesepakatan dengan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, sebelum meninggalkan Iraq untuk menuju Madinah, Al Hasan sempat menyampaikan pesan dan kesannya untuk penduduk Iraq . Ia antara lain berkata: “Wahai penduduk Iraq , ketahuilah, bahwa ada tiga hal yang menyebabkan aku tak lagi berani menggantungkan diriku pada kalian dan tidak dapat mempercayai kalian. Pertama, kalian telah membunuh ayahku; kemudian kalian telah berusaha untuk membunuh aku; dan yang terakhir, kalian telah menyerang dan merampas barang-barang di kemahku. Aku yakin, bahwa orang yang menggantungkan nasibnya kepada kalian, pasti akan ditimpa kekalahan…” Setelah itu, Al Hasan meninggalkan Kufah menuju ke Madinah, Konon, penduduk Kufahmenangisi perpindahan Al Hasan.Namun rupanya benarlah kata pepatah:”Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya.” Al Hasan tak lagi dapat mengubah pendiriannya. Telah bulat tekad Al Hasan a.s untuk meninggalkan Kufah, betapapun orang menahannya. Ia kemudian hidup di Madinah, menekuni ibadah, mendalami ilmu, dan selalu mengisi waktunya dengan amal-amal yang dapat mendekatan diri kepada Allah SWT. Banyak waktu dihabiskannya di Masjid Rasulullah dan membantu setiap orang yang kesusahan. Al Hasan a.s dikenal sebagai orang yang tak memzeda-bezakan pangkat dan kedudukan. Suatu hari, sekelompok orang miskin mengundangnya untuk makan bersama. Al Hasan duduk, makan bersama mereka meski hanya bersantap dengan sepotong roti kering. Semua itu ia lakukan dengan sepenuh hati, tanpa bersifat perasaan terpaksa sedikit pun. Setelah itu, ia ganti mengundang orang-orang tersebut untuk makan dirumahnya. Atau pada kali yang lain, ia memenuhi undangan anak-anak kecil. Begitulah hari-hari Al Hasan di Madinah. Sampai ketetapan Allah datang kepadanya. Hari itu, 28 Safar tahun 50 Hijriyah, Al Hasan merasakan sesuatu yang tidak enak pada tubuhnya. Ia terbaringlemah. (Bersambung...)

Jumat, 18 Februari 2011

IMAM HASAN AL-MUJTABA as (bag. 3)

keadaan senang laksana di surga,sedangkan aku? Hidupku sangat sengsara, tak ubahnya dengan hidup di neraka.” “Engkau keliru, hai Yahudi. Sesungguhnya, apabila dibandingkan dengan apa yang akan diberikan Allah kepadaku di surga nanti, maka kesenanganku di dunia ini tak ada artinya, sehingga dunia ini ibarat neraka bagiku. Sebaliknya, apabila engkau tahu apa yang akan engkau terima di akhirat nanti, maka engkau akan tahu, bahwa hidupmu yang sekarang ini jauh lebih baik, sehingga di dunia ini engkau seakan berada di surga. Itulah makna ucapan kekeku Rasulullah s.a.w.” Mendengar jawaban Al Hasan as yang sangat mengena itu, si Yahudi tertegun. Mulutnya terkunci, tak berkata apa-apa lagi. Di samping keluasan ilmunya, Al Hasan as dikenal juga sebagai orang yang sangat dermawan. Pernah, pada suatu hari, Al Hasan as melihat seseorang sedang berdoa. Orang tersebut mengadukan kesulitan hidupnya kepada Allah SWT. Mengetahui keadaan orang itu dan mendengar doanya, dengan sertamerta Al Hasan as memberinya uang dalam jumlah yang cukup besar, sehingga orang itu merasasangat kegirangan. Atau pada hari yang lain, yaitu di tengah perjalanannya untuk menunaikan ibadah haji bersama adiknya, Al Husain, dan Ja’far bin Abdullah r.a., sekali lagi kedermawanan Al Hasan terungkap. Alkisah, dalam perjalanannya menuju Mekkah, ketiga orang ini kehabisan bekal. Tak ada lagi sisa makanan dan minuman yang dapat mereka gunakan untuk meneruskan perjalanan yang masih cukup jauh. Mereka sangat memerlukan tambahan bekal. Namun bagaimana? Di samping pasir yang tandus itu,di tengah kebingungan mereka, tiba-tiba tampak sebuah rumah. Mereka bertiga kemudin mendatangi rumah tersebut. “Assalamu’alaikum,” kata mereka hampir serempak. “Wa’alaikum salam,” terdengar seseorang menjawab dari dalam rumah. Orang itu kemudian keluar, yang ternyata adalah seorang wanita tua. “Dari manakah kalian?” tanya wanita itu. “Kami dari Madinah!” Al Hasan menjawab. “Siapakah kalian?” “Kami adalah dari Quraisy. Saya adalah Hasan bin Ali, ini adikku Husain, dan itu Ja’far dari kelurgaku juga.” “Hendak ke mana kiranya Tuan-Tuan?” “Kami hendak ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji.” “Adakah sesuatu yang dapat aku bantu untuk kalian?” “Terus terang, kami kehabisan bekal. Apakah ibu mempunyai air yang dapat kami bawa?” “Astaga..! Ada , ada…silahkan kalian bawa ini!” kata ibu itu sambil menyerahkan tempat airnya. “Masihkah kalian mempunyai makanan?” Tanya ibu itu lagi. “Tidak. Adakah ibu mempunyai makanan? Kami bermaksud membelinya,” kata Al Hasan. “Membeli? Tidak Demi Allah, hanya itu satu-satunya yang aku miliki dan aku bersumpah Tuan-Tuan harus makan itu,” kata ibu tersebut seraya menunjuk satu-satunya domba yang ia miliki. Domba itu kemudian dipotong, sebagian dimasak untuk dimakanAl Hasan, Al Husain, dan Ja’far. Sedangkan yang sebagian lagi di bawakan si ibu sebagai bekal untuk melanjutkan perjalanan. Ibu tua itu tak mau menerima hadiah apa-apa dari ketiga orangtamunya. “Demi Allah, aku melakukannya dengan ikhlas,” kata ibu itu lagi. “Terima kasih banyak. Semoga Allah membalas kebaikan ibu. Kami berharap, apabila ibu datang ke Madinah, sudilah kiranya ibu singgah ke rumah kami. Kami akan senang sekali!” kata Al Hasan mewakili yang lain. “Insya Allah.” “Assalamu’alaikum,” kata mereka bertiga. “Wa’alaikum salam,” jawab ibu itu sambil memandangi kepergian ketiga tamunya. Tak lama setelah kepergian tamunya, suami wanita itu pulan. Ia terkejut melihat domba satu-satunya yang ia miliki tak lagi tertambat di tempatnya. Ia segera menanyakan hal tersebut kepada isterinya. “ke manakah gerangan domba kita?” “Oh … tadi ada tiga orang yang datang kemari. Mereka kehabisanbekal dalam perjalanan mereka untuk berhaji. Aku tak punya apa-apa selain domba itu. Maka iakupotong dan sebagian dagingnya aku berikan kepada mereka.” Begitulah jawab sang isteri. “Aduuh… Bagaimana engkau dapat berbuat demikian? Siapakah ketiga orang itu?’ “Mereka mengatakan berasal darisuku Quraish.” “Dari mana kamu tahu? Bagaimana kamu bisa percaya begitu saja terhadap ucapan mereka? Kamu tidak mengenalnya, maka bagimana kamu bisa percaya bahawa mereka dari Quraish?” tanya sang suami tak habis pikir. “Tandanya tampak dari wajah-wajah mereka!” jawab isterinya. Dialog tersebut tersebut hanya berlangsung sampai di situ. Sang suami pun mengikhlaskan pemberian itu setelah mendengar keterangan isterinya. Alkisah, beberapa waktu kemudian, daerah tempat ibu itu tinggal tersarang penjenayah yang sangat dahsyat. Orang-orang daerah tersebut semuanya pergi meninggalkan desa mereka untuk mencari nafkah. Mereka tersebar ke mana-mana. Ada yang ke Makkah, ke Madinah dan juga ke tempat-tempat lain. Nasibibu tua dan suaminya pun tak berbeda dengan tetangganyayang lain. Sang ibu dan suaminya pergi menuju Madinah. Di kota yang baru ini mereka berjalan mencari nafkah untuk menyambung hidup. Di tengah pengembaraannya menyusuri jalan-jalan di Madinah,tanpa sadar, ibu itu melewati rumah Al Hasan as Sang ibu rupanya sudahtak ingat lagi kepada ketiga tamunya yang dahulu. Itulah sebabnya, ia tak berusaha mencari mereka. Secarakebetulan, ketika ibu itu lewat, Al Hasan sedang duduk di depan rumahnya. Al Hasan melihat mereka, dan mengejar sepasang suami-isteri itu, kemudian menegurnya. “Ingkatkah ibu kepada saya?” tanyanya. “Demi Allah, aku tidak ingat siapa engkau,” jawab ibu itu. “Ingkatkah ibu kepada tiga orang tamu yang kehabisan bekal di tengah perjalanan mereka untuk berhaji ?” “Tidak!” “Baiklah, apabila ibu tak ingat kepada saya, maka saya masih dapat mengenali ibu. Saya adalah Hasan bin Ali, orang yang perarnah ibu beri makanan dan minuman untuk bekal saya dan dua orang saudara yang lain menuju Mekkah. Mari, silahkan ibu ke rumah saya !” kata Al Hasan as seraya mengiringi keduanya menuju kediamannya. Di rumah Al Hasan itulah keduanya menceritkan keadaan yang menimpa desa mereka. Al Hasan menyambut keduanya dengan sambutan yang sangat baik. Dijamu kedua tamunya itu dengan penuh hormat. Sebelum pulang, Al Hasan as memberi keduanya uang seribu dinar dan beberapa ekor kambing. Kemudian Al Hasan memanggil pembantunya dan berkata: “ Antarkan kedua tamuku ini ke rumah saudaraku, Husain, dan kerumah Ja ’far!” “Baik Tuan!” kata kadamnya. Mereka bertiga kini dalam perjalanan menuju rumah Husainbin Ali as “ Assalamu’alaikum,” kata kadam Al Hasan. “Wa alaikum salam,” terdengar jawaban dari dalam rumah. Tak lama setelah itu, Al Husain membukakan pintu. Ia mengenal kadam Al Hasan. “Aku disuruh mengantarkan kedua tamu ini kemari, ” kata teman itu. Al Husain melihat tamunya. Ternyata ia pun masih mengenal ibu tersebut. Al Husain segera menyambutnya dengan penuh hormat. “Mari, silakan masuk! Alhamdulillah, akhirnya Allah mempertemukan kita kembali.” “Allah Mahabesar!” jawab si ibu. Setelah berbincang-bincang, sebelum minta diri, Al Husain memberi ibu tersebut seribu dinar uang dan beberapa ekor domba. “Sungguh Anda sangat mulia,”“Semoga Allah yang membalas semua kebaikan ini, ” tambah suaminya.” Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam!” jawab Al Husain. Mereka berdua mohon diri, dan bersama kadam Al Hasanpergi kerumah Ja ’far. Tak beza dengan Al Hasan dan Al Husain, Ja ’far bin Abdullah pun menyambut kedua tamunya itu dengan baik. Ternyata, ia pun masih mengenal si ibu tua. “ Astaga… bagaimana kabar kalian!” tanya Ja’far setelah membalas salam keduanya. “ Alhamdulillah, Allah masih melindungi kami,” kata si suami. “Dan Mahabesar Allah yang telah mempertemukan kita kembali,” kata si isteri. Setelah lama merekaberbincang-bincang, Ja ’far memerintahkan kadamnya menyiapkan beberapa ekor domba, sedangkan ia sendiri masuk mengambil uang. Ia pun memberi ibu tersebut uang seribu Dinar dan beberapa ekor Domba. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Ja’far dan bersyukur kepada Allah SWT, mereka pun memohon pulang. Suami isteri itu kemudian kembalike desanya dengan bekal tiga ribu dinar uang dan beberapa ekor domba. Mereka menjadi orang yang terkaya di desanya. Kedermawanan Al Hasan as itu sesuai dengan sabdaNabi s.a.w.: ”Kepada Al Hasan aku wariskan kesabaran dan kedermawananku. ” Sejarah mencatat, bahwa setelah Imam Ali bin Abi Thalib as wafat, orang ramai membaiat Al Hasan as sebagai Khalifah yang baru. Pada masa itu, keadaan kaum Muslim masih belum bersatu benar. Pemberontakan telah terjadi sejak Ali bin Abi Thalib a.s menjadi Khalifah. Berontakan- berontakan dengan beberapa kelompok kaum Muslimin – yang memerangi Imam Ali a.s dengan alasan menuntut balas atas terbunuhnya Khalifah Utsman binAffan tak lagi dapat dihindari. Di antara orang yang gigih menuntut balas atas kematian Utsman, adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Ia yang pada masa pemerintahan Utsman menjadi gubenur di Syam – sudah sejak beberapa waktu sebelumnya menyiapkan tentara. Utsman adalah kerabatnya dari kalangan Bani Umayyah. Dengan tak memberi kesempatan kepada Imam Ali untuk menyelidiki kenapa terbunuhnya Utsman, Mu ’awiyah berangkat memerangiImam Ali. Sebenarnyalah, Mu ’awiyah sangatmenginginkan jabatan Khalifah. Karena ia sadar bahwa kaum Muslimin bakal memilih Ali bin AbiThalib, maka ia buru-buru memerangi Imam Ali as dengan dalil menuntut balas atas terbunuhnya Utsman. Dalam peperangan dengan ImamAli itu, Mu ’awiyah dan pengikutnya terdesak. Maka selamatlah mereka dari kehancuran. Namun demikian pemerintahan Imam Ali ternyata berakhir dengan peristiwa pembunuhan atasnya, ketika beliau sedang memimpin shalat Subuh. Suasananegara menjadi tidak menentu sepeninggal Imam Ali. Dalam keadaan kacau itulah Al Hasan dibaiat. (bersambung...)