Jumat, 18 Februari 2011
IMAM HASAN AL-MUJTABA as (bag. 3)
keadaan senang laksana di surga,sedangkan aku? Hidupku sangat sengsara, tak ubahnya dengan hidup di neraka.”
“Engkau keliru, hai Yahudi. Sesungguhnya, apabila dibandingkan dengan apa yang akan diberikan Allah kepadaku di surga nanti, maka kesenanganku di dunia ini tak ada artinya, sehingga dunia ini ibarat neraka bagiku. Sebaliknya, apabila engkau tahu apa yang akan engkau terima di akhirat nanti, maka engkau akan tahu, bahwa hidupmu yang sekarang ini jauh lebih baik, sehingga di dunia ini engkau seakan berada di surga. Itulah makna ucapan kekeku Rasulullah s.a.w.”
Mendengar jawaban Al Hasan as yang sangat mengena itu, si Yahudi tertegun. Mulutnya terkunci, tak berkata apa-apa lagi.
Di samping keluasan ilmunya, Al Hasan as dikenal juga sebagai orang yang sangat dermawan. Pernah, pada suatu hari, Al Hasan as melihat seseorang sedang berdoa. Orang tersebut mengadukan kesulitan hidupnya kepada Allah SWT. Mengetahui keadaan orang itu dan mendengar doanya, dengan sertamerta Al Hasan as memberinya uang dalam jumlah yang cukup besar, sehingga orang itu merasasangat kegirangan.
Atau pada hari yang lain, yaitu di tengah perjalanannya untuk menunaikan ibadah haji bersama adiknya, Al Husain, dan Ja’far bin Abdullah r.a., sekali lagi kedermawanan Al Hasan terungkap. Alkisah, dalam perjalanannya menuju Mekkah, ketiga orang ini kehabisan bekal. Tak ada lagi sisa makanan dan minuman yang dapat mereka gunakan untuk meneruskan perjalanan yang masih cukup jauh. Mereka sangat memerlukan tambahan bekal. Namun bagaimana?
Di samping pasir yang tandus itu,di tengah kebingungan mereka, tiba-tiba tampak sebuah rumah. Mereka bertiga kemudin mendatangi rumah tersebut.
“Assalamu’alaikum,” kata mereka hampir serempak.
“Wa’alaikum salam,” terdengar seseorang menjawab dari dalam rumah. Orang itu kemudian keluar, yang ternyata adalah seorang wanita tua.
“Dari manakah kalian?” tanya wanita itu.
“Kami dari Madinah!” Al Hasan menjawab.
“Siapakah kalian?”
“Kami adalah dari Quraisy. Saya adalah Hasan bin Ali, ini adikku Husain, dan itu Ja’far dari kelurgaku juga.”
“Hendak ke mana kiranya Tuan-Tuan?”
“Kami hendak ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji.”
“Adakah sesuatu yang dapat aku bantu untuk kalian?”
“Terus terang, kami kehabisan bekal. Apakah ibu mempunyai air yang dapat kami bawa?”
“Astaga..! Ada , ada…silahkan kalian bawa ini!” kata ibu itu sambil menyerahkan tempat airnya.
“Masihkah kalian mempunyai makanan?”
Tanya ibu itu lagi.
“Tidak. Adakah ibu mempunyai makanan?
Kami bermaksud membelinya,” kata Al Hasan.
“Membeli? Tidak Demi Allah, hanya itu satu-satunya yang aku miliki dan aku bersumpah Tuan-Tuan harus makan itu,” kata ibu tersebut seraya menunjuk satu-satunya domba yang ia miliki.
Domba itu kemudian dipotong, sebagian dimasak untuk dimakanAl Hasan, Al Husain, dan Ja’far. Sedangkan yang sebagian lagi di bawakan si ibu sebagai bekal untuk melanjutkan perjalanan. Ibu tua itu tak mau menerima hadiah apa-apa dari ketiga orangtamunya.
“Demi Allah, aku melakukannya dengan ikhlas,” kata ibu itu lagi.
“Terima kasih banyak. Semoga Allah membalas kebaikan ibu. Kami berharap, apabila ibu datang ke Madinah, sudilah kiranya ibu singgah ke rumah kami. Kami akan senang sekali!” kata Al Hasan mewakili yang lain.
“Insya Allah.”
“Assalamu’alaikum,” kata mereka bertiga.
“Wa’alaikum salam,” jawab ibu itu sambil memandangi kepergian ketiga tamunya.
Tak lama setelah kepergian tamunya, suami wanita itu pulan. Ia terkejut melihat domba satu-satunya yang ia miliki tak lagi tertambat di tempatnya. Ia segera menanyakan hal tersebut kepada isterinya.
“ke manakah gerangan domba kita?”
“Oh … tadi ada tiga orang yang datang kemari. Mereka kehabisanbekal dalam perjalanan mereka untuk berhaji. Aku tak punya apa-apa selain domba itu. Maka iakupotong dan sebagian dagingnya aku berikan kepada mereka.”
Begitulah jawab sang isteri.
“Aduuh… Bagaimana engkau dapat berbuat demikian? Siapakah ketiga orang itu?’
“Mereka mengatakan berasal darisuku Quraish.”
“Dari mana kamu tahu? Bagaimana kamu bisa percaya begitu saja terhadap ucapan mereka? Kamu tidak mengenalnya, maka bagimana kamu bisa percaya bahawa mereka dari Quraish?” tanya sang suami tak habis pikir.
“Tandanya tampak dari wajah-wajah mereka!” jawab isterinya.
Dialog tersebut tersebut hanya berlangsung sampai di situ. Sang suami pun mengikhlaskan pemberian itu setelah mendengar keterangan isterinya.
Alkisah, beberapa waktu kemudian, daerah tempat ibu itu tinggal tersarang penjenayah yang sangat dahsyat. Orang-orang daerah tersebut semuanya pergi meninggalkan desa mereka untuk mencari nafkah.
Mereka tersebar ke mana-mana.
Ada yang ke Makkah, ke Madinah
dan juga ke tempat-tempat lain.
Nasibibu tua dan suaminya pun
tak berbeda dengan
tetangganyayang lain. Sang ibu
dan suaminya pergi menuju
Madinah. Di kota yang baru ini
mereka berjalan mencari nafkah
untuk menyambung hidup. Di
tengah pengembaraannya
menyusuri jalan-jalan di
Madinah,tanpa sadar, ibu itu
melewati rumah Al Hasan as Sang
ibu rupanya sudahtak ingat lagi
kepada ketiga tamunya yang
dahulu. Itulah sebabnya, ia tak
berusaha mencari mereka.
Secarakebetulan, ketika ibu itu
lewat, Al Hasan sedang duduk di
depan rumahnya. Al Hasan
melihat mereka, dan mengejar
sepasang suami-isteri itu,
kemudian menegurnya.
“Ingkatkah ibu kepada saya?”
tanyanya. “Demi Allah, aku tidak
ingat siapa engkau,” jawab ibu
itu. “Ingkatkah ibu kepada tiga
orang tamu yang kehabisan
bekal di tengah perjalanan
mereka untuk berhaji ?” “Tidak!”
“Baiklah, apabila ibu tak ingat
kepada saya, maka saya masih
dapat mengenali ibu. Saya adalah
Hasan bin Ali, orang yang
perarnah ibu beri makanan dan
minuman untuk bekal saya dan
dua orang saudara yang lain
menuju Mekkah. Mari, silahkan
ibu ke rumah saya !” kata Al
Hasan as seraya mengiringi
keduanya menuju kediamannya.
Di rumah Al Hasan itulah
keduanya menceritkan keadaan
yang menimpa desa mereka. Al
Hasan menyambut keduanya
dengan sambutan yang sangat
baik. Dijamu kedua tamunya itu
dengan penuh hormat. Sebelum
pulang, Al Hasan as memberi
keduanya uang seribu dinar dan
beberapa ekor kambing.
Kemudian Al Hasan memanggil
pembantunya dan berkata:
“ Antarkan kedua tamuku ini ke
rumah saudaraku, Husain, dan
kerumah Ja ’far!” “Baik Tuan!”
kata kadamnya. Mereka bertiga
kini dalam perjalanan menuju
rumah Husainbin Ali as
“ Assalamu’alaikum,” kata kadam
Al Hasan. “Wa alaikum salam,”
terdengar jawaban dari dalam
rumah. Tak lama setelah itu, Al
Husain membukakan pintu. Ia
mengenal kadam Al Hasan. “Aku
disuruh mengantarkan kedua
tamu ini kemari, ” kata teman itu.
Al Husain melihat tamunya.
Ternyata ia pun masih mengenal
ibu tersebut. Al Husain segera
menyambutnya dengan penuh
hormat. “Mari, silakan masuk!
Alhamdulillah, akhirnya Allah
mempertemukan kita kembali.”
“Allah Mahabesar!” jawab si ibu.
Setelah berbincang-bincang,
sebelum minta diri, Al Husain
memberi ibu tersebut seribu
dinar uang dan beberapa ekor
domba. “Sungguh Anda sangat
mulia,”“Semoga Allah
yang membalas semua kebaikan
ini, ” tambah suaminya.”
Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam!” jawab Al
Husain. Mereka berdua mohon
diri, dan bersama kadam Al
Hasanpergi kerumah Ja ’far. Tak
beza dengan Al Hasan dan Al
Husain, Ja ’far bin Abdullah pun
menyambut kedua tamunya itu
dengan baik. Ternyata, ia pun
masih mengenal si ibu tua.
“ Astaga… bagaimana kabar
kalian!” tanya Ja’far setelah
membalas salam keduanya.
“ Alhamdulillah, Allah masih
melindungi kami,” kata si suami.
“Dan Mahabesar Allah yang telah
mempertemukan kita kembali,”
kata si isteri. Setelah lama
merekaberbincang-bincang,
Ja ’far memerintahkan kadamnya
menyiapkan beberapa ekor
domba, sedangkan ia sendiri
masuk mengambil uang. Ia pun
memberi ibu tersebut uang
seribu Dinar dan beberapa ekor
Domba. Setelah mengucapkan
terima kasih kepada Ja’far dan
bersyukur kepada Allah SWT,
mereka pun memohon pulang.
Suami isteri itu kemudian
kembalike desanya dengan bekal
tiga ribu dinar uang dan
beberapa ekor domba. Mereka
menjadi orang yang terkaya di
desanya. Kedermawanan Al
Hasan as itu sesuai dengan
sabdaNabi s.a.w.: ”Kepada Al
Hasan aku wariskan kesabaran
dan kedermawananku. ” Sejarah
mencatat, bahwa setelah Imam
Ali bin Abi Thalib as wafat, orang
ramai membaiat Al Hasan as
sebagai Khalifah yang baru. Pada
masa itu, keadaan kaum Muslim
masih belum bersatu benar.
Pemberontakan telah terjadi
sejak Ali bin Abi Thalib a.s
menjadi Khalifah. Berontakan-
berontakan dengan beberapa
kelompok kaum Muslimin – yang
memerangi Imam Ali a.s dengan
alasan menuntut balas atas
terbunuhnya Khalifah Utsman
binAffan tak lagi dapat dihindari.
Di antara orang yang gigih
menuntut balas atas kematian
Utsman, adalah Mu’awiyah bin
Abi Sufyan. Ia yang pada masa
pemerintahan Utsman menjadi
gubenur di Syam – sudah sejak
beberapa waktu sebelumnya
menyiapkan tentara. Utsman
adalah kerabatnya dari kalangan
Bani Umayyah. Dengan tak
memberi kesempatan kepada
Imam Ali untuk menyelidiki
kenapa terbunuhnya Utsman,
Mu ’awiyah berangkat
memerangiImam Ali.
Sebenarnyalah, Mu ’awiyah
sangatmenginginkan jabatan
Khalifah. Karena ia sadar bahwa
kaum Muslimin bakal memilih Ali
bin AbiThalib, maka ia buru-buru
memerangi Imam Ali as dengan
dalil menuntut balas atas
terbunuhnya Utsman. Dalam
peperangan dengan ImamAli itu,
Mu ’awiyah dan pengikutnya
terdesak. Maka selamatlah
mereka dari kehancuran. Namun
demikian pemerintahan Imam Ali
ternyata berakhir dengan
peristiwa pembunuhan atasnya,
ketika beliau sedang memimpin
shalat Subuh. Suasananegara
menjadi tidak menentu
sepeninggal Imam Ali. Dalam
keadaan kacau itulah Al Hasan
dibaiat. (bersambung...)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar