Jumat, 18 Februari 2011

IMAM HASAN AL-MUJTABA as (bag. 2)

Pemakamannya dihadiri oleh Imam Husein a.s. dan para anggota keluarga Bani Hasyim. Karena adanya beberapa pihak yang tidak setuju jika Imam Hasan dikuburkan didekat maqam Rasulullah dan ketidaksetujuannya itu dibuktikan dengan adanya hujan panah ke keranda jenazah Imam Hasan a.s. Akhirnya untuk kesekian kalinya keluarga Rasulullah yang teraniaya terpaksa harus bersabar. Mereka kemudian menglihkan pemakaman Imam Hasan a.s. ke Jannatul Baqi' di Madinah. Pada tanggal 8 Syawal 1344 H (21 April1926) kemudian, pekuburan Baqi' diratakan dengan tanah oleh pemerintah yang berkuasa di Hijaz.     Imam Hasan telah tiada, pemakamannya pun digusur namun perjuangan serta pengorbanannya yang diberikan kepada Islam akan tetap terkenang di hati sanubari setiap insan yang mengaku dirinya sebagai pengikut dan pencinta Muhammad s.a.w serta Ahlul Baitnya. Laki-laki Serupa Nabi Setelah perkawinannya dengan Ali bin Abi Thalib as, Fatimah as, puteri Rasulullah s.a.w, melahirkan anak laki-laki yang mungil, lucu, dan sehat. Putera yang lahir pada pertengahan bulan Ramadhan tahun ketiga Hijrah itu disambut oleh Rasulullah dengan penuh kecintaan. Rasulullah mengangkatnya, menggendong, merangkul, mendekapkan ke dadanya, kemudian membisikkanadzan di telinga sebelah kanan cucunya itu dan iqamat di telinga sebelah kirinya. Setelah itu, Rasulullah berpaling kepada Ali, menantunya, seraya berkata: “Akan engkau beri nama siapa anak ini?” “Demi Allah, aku tak akan mendahului Anda ya Rasulullah,”jawab Ali. “Aku sendiri tak akan mendahului Tuhanku,”kata Nabi lagi. Di dalam sebagian riwayat diceritakan, bahwa tak lama sesudah dialog tersebut, Jibril kemudian datang menyampaikanpesan tentang nama anak itu, yaitu: Hasan. Rasulullah s.a.w sangat mencintaicucunya ini. Di antara sabda beliau sehubungan dengan Al Hasan as adalah: *”Barangsiapa ingin melihat pemuda ahli surga, maka hendaknya ia melihat Hasan binAli.” *” Hasan adalah dari aku dan aku dari Hasan, Allah mencintai orang yang mencintainya .” Di dalam hadis yang lain disebutkan, bahwa suatu kali orang melihat Rasulullah s.a.w. memanggul Hasan bin Ali. Di antara orang yang melihat peristiwa itu ada yang mengatakan kepada Al Hasan:”Sungguh, ini adalah tunggangan yang paling nikmat, Nak.” Mendengar ucapan orang itu, Rasulullah saww berkata: “Penunggang yang paling menyenangkan adalah anak ini.” Atau, pada kali yang lain, ketika sedang bersujud, Rasulullah berasa bahwa Hasan menaiki pundak beliau. Maka Rasulullah pun melambatkan sujudnya sampai cucunya itu turun. Beliau juga pernah bersabda:”Engkau menyerupaikudalam bentuk dan perangai.” (Benarlah demikian. Bahkan, pada suatu hari Abu Bakar ash-Shiddiq menggendong Al Hasan sambil berkata: “Engkau lebih menyerupai Nabi daripada Ali.”) Sedangkan terhadap Al Hasan as dan saudaranya Al Husain as, Rasulullah s.a.w bersabda: “Keduanya (Hasan dan Husain) adalah kembang mekarku di dunia.” “Keduanya ini adalah anakku dananak dari anak perempuanku. Ya Tuhan, aku mencintai keduanya dan aku cinta kepada siapa yang mencintai keduanya.” Sabda-sabda tersebut di atas cukup menunjukkan kemuliaan AlHasan. Dengan dekatnya hubungan antara Rasulullah s.a.w. dengan cucunya ini, dapatlah dimengerti bahwa dengan sendirinya Al Hasan as sempat mengenyam hidup bersama Rasulullah s.a.w untuk jangka waktu yang cukup lama. Ibu Al Hasan, Fatimah az Zahra, adalah satu-satunya puteri Rasulullah yang paling lama mendampingi hidup ayahandanya. Fatimah hadir di saat ayahandanya menghadap kembali kepada Allah SWT. Sedangkan ayah Al Hasan, Imam Ali, seperti sudah diterangkan, adalah orang yang sangat dekat dengan Nabi dan termasuk sahabat yang paling berilmu. Atas dasar kenyataan itulah makaorang tak lagi merasa sangsi terhadap keluasan ilmu Al Hasan as di samping sifat-sifat luhur lainyang mendekat pada peribadinya, antara lain sifat kedermawanannya yang sangat menonjol. Tentang ilmunya, diriwayatkan bahwa, suatu hari, Al Hasan as berjumpa dengan seorang Yahudi yang sudah tua. Yahudi tua itu tampak kepayahan. Tubuhnya lemah dan pakaiannya kumal. Siang itu, ia tengah memanggul sekendi air, berjalan di bawah terik matahari yang menyekat. Ketika kepayahan itulah ia berjumpa dengan Al Hasan as yang berpakaian rapih bersih. Yahudi tersebut berhenti. Dipandangi cucu Rasulullah itu dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Perbuatan tersebut dilakukannya berulan-ulang. Al Hasan as merasa heran karenanya. Namun belum sempatia menyampaikan sesuatu, orang tua itu lebih dulu berkata, “Wahaicucu Rasulullah. Ada pertanya yang aku ingin engkau menjawabnya!” “Tentang apakah itu?’ tanya Al Hasan. “Datukmu dulu pernah berkata, bahwa dunia ini adalah penjaranya orang Mukmin dan surganya orang kafir.” “Benar demikianlah adanya.” “Terus terang, aku melihat yang sebaiknya. Perhatikanlah keadaanku dan keadaanmu. Aku melihat dunia ini adalah sebagai surga bagimu yang mukmin, dan neraka bagiku yang kafir.” “Dari mana engkau menarik kesimpulan tersebut?” “Lihatlah. Engkau hidup dalam (besambung...)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar