Sabtu, 19 Februari 2011
IMAM HASAN AL-MUJTABA as (bag. 5)
Mu’awiyah tak tinggal diam mendengar pembaiatan atas Al Hasan as. Ketika mulai menjabat sebagai Khalifah, Al Hasan yang sadar akan apa yang bakal dilakukan oleh Mu’awiyah, segera menulis surat kepada Mu’awiyah, mengingatkan akan pentingnya persatuan, dan meminta Mu’awiyah untuk juga membaiatnya. Suarat itu ditulis dengan kata-kata yang baik. Tetapi Mu’awiyah segera membalas surat Al Hasan. Mu’awiyah yang pada waktu itu juga mengangkat diri sebagai Khalifah, menyatakan bahwa ia lebih mempu dan lebih berhak menjadi Khalifah daripada Al Hasan as. Mu’awiyah tak lupa menawarkan “suap” kepada Al Hasan as.
Singkat cerita, keadaan semakin dekat dengan pertelingkahan antara Al Hasan dengan Mu’awiyah. Dan Mu’awiyah mulai mencari pengaruh. Ia membujuk setiap orang dan kepala-kepala suku dengan bujukan wang. Tak sedikit orang yang karena bujukan duniawi itu akhirnya berpihak kepada Mu’awiyah. Setelah merasa kuat, Mu’awiyah kemudian menyiapkan pasukan dari Syam menuju Kufah.
Al Hasan a.s mengetahui semua rencana dan persiapan Mu’awiyah. Dengan cepat ia mengumpulkan penduduk Kufah,yang semuanya berpihak dan memaksa dia untuk menjadi Khalifah. Tapi, ternyata pengikut Al Hasan a.s tak cukup setia seperti pengikut Mu’awiyah. Setelah pecah pertempuran, panglima pasukan Al Hasan sendiri belot, menjadi pengikut Mu’awiyah, karena imbuhan wang satu juta dirham.
Berita pembelotan panglima perang Al Hasan a.s itu segera tersebar. Perajurit lainnya yang mendengar berita itu kemudian menjadi lalai. Dengan membabi buta, mereka bahkan menyerang kemah Khalifah Al Hasan sendiri. Mereka merampas harta benda AlHasan a.s yang ada dikemah tersebut. Salah seorang dari mereka, Al Jarrah bin Asad, bahkan menyerang Al Hasan sehingga menimbulkan luka-luka pada tubuh beliau.
Al Hasan berkata kepadanya, dan perkataannya itu juga ditujukan kepada yang lain: “Dulu kalian membunuh ayahku. Kini kalian menyerang dan berusaha untuk membunuh diriku.”Nampaknya, Al Hasan sudah benar-benar tak dapat mempercayai pengikutnya sendiri. Orang yang benar-benar setia kepadanya terlalu sedikit untuk dapat meneruskan peperangan. Dengan pertimbangan itu, dan mengingatpentingnya keutuhan dan persatuan umat, Al Hasan a.s berniat mengakhiri perang yang jauh tak seimbang, karena hal itu hanya akan menambah banyaknya jumlah korban yang jatuh.
Namun Al Hasan tidak semudah itu melepaskan jabatan dan membiarkan Mu’awiyah berkuasasemaunya. Sebelum menyerahkankekhalifahan kepada Mu’awiyah, terlebih dahulu ia mengadakan perjanjian. Di antara isi perjanjianyang panjang tersebut, salah satubagiannya menyebutkan, bahwa sepeninggal Mu’awiyah, kepemimpinan umat akan diserahkan kembali kepada kaumMuslimin untuk memilih sendiri pemimpin yang mereka kehendaki. Di sinilah tampak bagaimana Al Hasan benar-benar memperhatikan kepentingan kaum Muslimin. Pasal itu akhirnyadilanggar oleh Mu’awiyah yaitu dengan mengangkat putranya, Yazid, sebagai pengganti dirinya, sementara kaum Muslimin tak dapat berbuat apa-apa di bawah ancaman pedang dan sebahagiannya lagi luluh karena bujukan wang dan jabatan.
Setelah dicapai kesepakatan dengan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, sebelum meninggalkan Iraq untuk menuju Madinah, Al Hasan sempat menyampaikan pesan dan kesannya untuk penduduk Iraq . Ia antara lain berkata:
“Wahai penduduk Iraq , ketahuilah, bahwa ada tiga hal yang menyebabkan aku tak lagi berani menggantungkan diriku pada kalian dan tidak dapat mempercayai kalian. Pertama, kalian telah membunuh ayahku; kemudian kalian telah berusaha untuk membunuh aku; dan yang terakhir, kalian telah menyerang dan merampas barang-barang di kemahku. Aku yakin, bahwa orang yang menggantungkan nasibnya kepada kalian, pasti akan ditimpa kekalahan…”
Setelah itu, Al Hasan meninggalkan Kufah menuju ke Madinah, Konon, penduduk Kufahmenangisi perpindahan Al Hasan.Namun rupanya benarlah kata pepatah:”Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya.” Al Hasan tak lagi dapat mengubah pendiriannya. Telah bulat tekad Al Hasan a.s untuk meninggalkan Kufah, betapapun orang menahannya. Ia kemudian hidup di Madinah, menekuni ibadah, mendalami ilmu, dan selalu mengisi waktunya dengan amal-amal yang dapat mendekatan diri kepada Allah SWT. Banyak waktu dihabiskannya di Masjid Rasulullah dan membantu setiap orang yang kesusahan.
Al Hasan a.s dikenal sebagai orang yang tak memzeda-bezakan pangkat dan kedudukan. Suatu hari, sekelompok orang miskin mengundangnya untuk makan bersama. Al Hasan duduk, makan bersama mereka meski hanya bersantap dengan sepotong roti kering. Semua itu ia lakukan dengan sepenuh hati, tanpa bersifat perasaan terpaksa sedikit pun. Setelah itu, ia ganti mengundang orang-orang tersebut untuk makan dirumahnya. Atau pada kali yang lain, ia memenuhi undangan anak-anak kecil. Begitulah hari-hari Al Hasan di Madinah.
Sampai ketetapan Allah datang kepadanya. Hari itu, 28 Safar tahun 50 Hijriyah, Al Hasan merasakan sesuatu yang tidak enak pada tubuhnya. Ia terbaringlemah.
(Bersambung...)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar