Kamis, 03 Maret 2011

IMAM HASAN AL-MUJTABA as (bag. 4)

Mereka tersebar ke mana-mana. Ada yang ke Makkah, ke Madinah dan juga ke tempat-tempat lain. Nasibibu tua dan suaminya pun tak berbeda dengan tetangganyayang lain. Sang ibu dan suaminya pergi menuju Madinah. Di kota yang baru ini mereka berjalan mencari nafkah untuk menyambung hidup. Di tengah pengembaraannya menyusuri jalan-jalan di Madinah,tanpa sadar, ibu itu melewati rumah Al Hasan as Sang ibu rupanya sudahtak ingat lagi kepada ketiga tamunya yang dahulu. Itulah sebabnya, ia tak berusaha mencari mereka. Secarakebetulan, ketika ibu itu lewat, Al Hasan sedang duduk di depan rumahnya. Al Hasan melihat mereka, dan mengejar sepasang suami-isteri itu, kemudian menegurnya. “Ingkatkah ibu kepada saya?” tanyanya. “Demi Allah, aku tidak ingat siapa engkau,” jawab ibu itu. “Ingkatkah ibu kepada tiga orang tamu yang kehabisan bekal di tengah perjalanan mereka untuk berhaji?” “Tidak!” “Baiklah, apabila ibu tak ingat kepada saya, maka saya masih dapat mengenali ibu. Saya adalah Hasan bin Ali, orang yang perarnah ibu beri makanan dan minuman untuk bekal saya dan dua orang saudara yang lain menuju Mekkah. Mari, silahkan ibu ke rumah saya!” kata Al Hasan as seraya mengiringi keduanya menuju kediamannya. Di rumah Al Hasan itulah keduanya menceritkan keadaan yang menimpa desa mereka. Al Hasan menyambut keduanya dengan sambutan yang sangat baik. Dijamu kedua tamunya itu dengan penuh hormat. Sebelum pulang, Al Hasan as memberi keduanya uang seribu dinar dan beberapa ekor kambing. Kemudian Al Hasan memanggil pembantunya dan berkata: “Antarkan kedua tamuku ini ke rumah saudaraku, Husain, dan kerumah Ja’far!” “Baik Tuan!” kata kadamnya. Mereka bertiga kini dalam perjalanan menuju rumah Husainbin Ali as “Assalamu’alaikum,” kata kadam Al Hasan. “Wa alaikum salam,” terdengar jawaban dari dalam rumah. Tak lama setelah itu, Al Husain membukakan pintu. Ia mengenal kadam Al Hasan. “Aku disuruh mengantarkan kedua tamu ini kemari,” kata teman itu. Al Husain melihat tamunya. Ternyata ia pun masih mengenal ibu tersebut. Al Husain segera menyambutnya dengan penuh hormat. “Mari, silakan masuk! Alhamdulillah, akhirnya Allah mempertemukan kita kembali.” “Allah Mahabesar!” jawab si ibu. Setelah berbincang-bincang, sebelum minta diri, Al Husain memberi ibu tersebut seribu dinar uang dan beberapa ekor domba. “Sungguh Anda sangat mulia,” kata si ibu. “Semoga Allah yang membalas semua kebaikan ini,” tambah suaminya.” Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam!” jawab Al Husain. Mereka berdua mohon diri, dan bersama kadam Al Hasanpergi kerumah Ja’far. Tak beza dengan Al Hasan dan Al Husain, Ja’far bin Abdullah pun menyambut kedua tamunya itu dengan baik. Ternyata, ia pun masih mengenal si ibu tua. “Astaga… bagaimana kabar kalian!” tanya Ja’far setelah membalas salam keduanya. “Alhamdulillah, Allah masih melindungi kami,” kata si suami. “Dan Mahabesar Allah yang telah mempertemukan kita kembali,” kata si isteri. Setelah lama merekaberbincang-bincang, Ja’far memerintahkan kadamnya menyiapkan beberapa ekor domba, sedangkan ia sendiri masuk mengambil uang. Ia pun memberi ibu tersebut uang seribu Dinar dan beberapa ekor Domba. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Ja’far dan bersyukur kepada Allah SWT, mereka pun memohon pulang. Suami isteri itu kemudian kembalike desanya dengan bekal tiga ribu dinar uang dan beberapa ekor domba. Mereka menjadi orang yang terkaya di desanya. Kedermawanan Al Hasan as itu sesuai dengan sabdaNabi s.a.w.:”Kepada Al Hasan aku wariskan kesabaran dan kedermawananku.” Sejarah mencatat, bahwa setelah Imam Ali bin Abi Thalib as wafat, orang ramai membaiat Al Hasan as sebagai Khalifah yang baru. Pada masa itu, keadaan kaum Muslim masih belum bersatu benar. Pemberontakan telah terjadi sejak Ali bin Abi Thalib a.s menjadi Khalifah. Berontakan-berontakan dengan beberapa kelompok kaum Muslimin – yang memerangi Imam Ali a.s dengan alasan menuntut balas atas terbunuhnya Khalifah Utsman binAffan tak lagi dapat dihindari. Di antara orang yang gigih menuntut balas atas kematian Utsman, adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Ia yang pada masa pemerintahan Utsman menjadi gubenur di Syam – sudah sejak beberapa waktu sebelumnya menyiapkan tentara. Utsman adalah kerabatnya dari kalangan Bani Umayyah. Dengan tak memberi kesempatan kepada Imam Ali untuk menyelidiki kenapa terbunuhnya Utsman, Mu’awiyah berangkat memerangiImam Ali. Sebenarnyalah, Mu’awiyah sangatmenginginkan jabatan Khalifah. Karena ia sadar bahwa kaum Muslimin bakal memilih Ali bin AbiThalib, maka ia buru-buru memerangi Imam Ali as dengan dalil menuntut balas atas terbunuhnya Utsman. Dalam peperangan dengan ImamAli itu, Mu’awiyah dan pengikutnya terdesak. Maka selamatlah mereka dari kehancuran. Namun demikian pemerintahan Imam Ali ternyata berakhir dengan peristiwa pembunuhan atasnya, ketika beliau sedang memimpin shalat Subuh. Suasananegara menjadi tidak menentu sepeninggal Imam Ali. Dalam keadaan kacau itulah Al Hasan dibaiat. (bersambung...)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar