Sabtu, 12 Maret 2011
SA'ID bin ZAID
"Wahai Allah jika Engkau
mengharamkanku dari agama
yang lurus ini, janganlah
anakku Sa'id diharamkan pula
daripadanya." (Do'a Zaid untuk
anaknya, Sa'id).
Zaid bin Amr bin Nufail berdiri
di tengah-tengah orang
banyak yang berdesak-
desakan menyaksikan kaum
Qurays berpesta merayakan
salah satu hari besar mereka.
Kaum pria memakai serban
sundusi yang mahal, yang
kelihatan seperti kerudung
Yaman yang lebih mahal. Kaum
wanita dan anak-anak
berpakaian bagus warna
menyala dan mengenakan
perhiasan indah-indah. Hewan-
hewan ternak pun dipakaikan
bermacam-macam perhiasan
dan ditarik orang-orang untuk
disembelih di hadapan patung-
patung yang mereka sembah.
Zaid bersandar ke dinding
Kakbah seraya berkata, "Hai
kaum Qurays! hewan itu
diciptakan Allah. Dialah yang
menurunkan hujan dari langit
supaya hewan-hewan itu
minum sepuas-puasnya. Dialah
yang menumbuhkan rumput-
rumputan supaya hewan -
hewan itu makan sekenyang-
kenyangnya. Kemudian, kalian
sembelih hewan-hewan itu
tanpa menyebut nama Allah.
Sungguh bodoh dan sesat
kalian."
Al-Khattab, ayah Umar bin
Khottob, berdiri menghampiri
Zaid, lalu ditamparnya Zaid.
Kata Al-Khattab, "Kurang ajar
kau! kami sudah sering
mendengar kata-katamu yang
kotor itu, namun kami biarkan
saja. Kini kesabaran kami
sudah habis!" Kemudian,
dihasutnya orang-orang
bodoh supaya menyakiti Zaid.
Zaid benar-benar disakiti
mereka dengan sungguh-
sungguh sehingga dia
terpaksa menyingkir dari kota
Mekah ke Bukit Hira.
Al-Khattab menyerahkan
urusan Zaid kepada
sekelompok pemuda Qurasy
untuk menghalang-halanginya
masuk kota. Karena itu, Zaid
terpaksa pulang dengan
sembunyi-sembunyi.
Kemudian, Zaid bin Amr bin
Nufail berkumpul ketika orang-
orang Qurasy lengah bersama-
sama dengan Waraqah bin
Naufal. Abdullah bin Jahsy,
Utsman bin Harits, dan
Umaimah binti Abdul Muthallib,
bibi Muhammad saw. Mereka
berbicara tentang kepercayaan
masyarakat Arab yang sudah
jauh tersesat. Kata Zaid, "Demi
Allah! sesungguhnya Saudara-
Saudara sudah maklum bahwa
bangsa kita sudah tidak
memiliki agama. Mereka sudah
sesat dan menyeleweng dari
agama Ibrahim yang lurus.
Karena itu, marilah kita pelajari
suatu agama yang dapat kita
pegang jika Saudara-Saudara
ingin beruntung."
Keempat orang itu pergi
menemui pendeta-pendeta
Yahudi, Nasrani, dan
pemimpin-pemimpin agama
lain untuk menyelidiki dan
mempelajari agama Ibrahim
yang murni. Waraqah bin
Naufal meyakini agama
Nasrani.
Abdullah bin Jahsy dan Utsman
bin Harits tidak menemukan
apa-apa. Sementara, Zaid bin
Amr bin Nufail mengalami
kisah tersendiri. Marilah kita
dengar ceritanya.
Kata Zaid, "Saya pelajari agama
Yahudi dan Nasrani. Tetapi,
keduanya saya tinggalkan
karena saya tidak memperoleh
sesuatau yang dapat
menenteramkan hati saya
dalam kedua agama tersebut.
Lalu, saya berkelana ke seluruh
pelosok mencari agama
Ibrahim. Ketika saya sampai ke
negeri Syam, saya diberitahu
tentang seorang Rahib yang
mengerti ilmu kitab. Maka, saya
datangi Rahib tersebut, lalu
saya ceritakan kepadanya
tentang pengalaman saya
belajar agama."
Kata Rahib tersebut, "Saya tahu
Anda sedang mencari agama
Ibrahim, hai putra Mekah?"
Jawabku, "Betul, itulah yang
saya inginkan."
Kata Rahib, "Anda mencari
agama yang dewasa ini sudah
tak mungkin lagi ditemukan.
Tetapi, pulanglah Anda ke
negeri Anda. Allah akan
membangkitkan seroang nabi
di tengah-tengah bangsa Anda
untuk menyempurnakan
agama Ibrahim. Bila Anda
bertemu dengan dia, tetaplah
Anda bersamanya."
Zaid berhenti berkelana. Dia
kembali ke Mekah menunggu
nabi yang dijanjikan. Ketika
Zaid sedang dalam perjalanan
pulang. Allah mengutus
Muhammad menjadi nabi dan
rasul dengan agama yang hak.
Tetapi, Zaid belum sempat
bertemu dengan beliau, dia
dihadang perampok-perampok
Badui di tengah jalan dan
terbunuh sebelum ia kembali
ke Mekah. Waktu dia akan
menghembuskan napasnya
yang terakhir, Zaid
menengadah ke langit dan
berkata, "Wahai Allah, jika
Engkau mengharamkanku dari
agama yang lurus ini,
janganlah anakku Sa'id
diharamkan pula daripadanya."
Allah memperkanankan doa
Zaid. Serentak Rasulullah
mengajak orang banyak masuk
Islam, Sa'id segera memenuhi
panggilan beliau, menjadi
pelopor orang-orang beriman
dengan Allah dan
membenarkan kerasulan Nabi
Muhammad saw.
Tidak mengherankan kalau
Sa'id secepat itu
memperkenankan seruan
Muhammad. Sa'id lahir dan
dibesarkan dalam rumah
tangga yang mencela dan
mengingkari kepercayaan dan
adat istiadat orang-orang
Qurasy yang sesat itu. Sa'id
dididik dalam kamar seorang
ayah yang sepanjang hidupnya
giat mencari agama yang hak.
Bahkan, dia mati ketika sedang
berlari kepayahan mengejar
agama yang hak.
Sa'id masuk Islam tidak
seorang diri. Dia masuk Islam
bersama-sama istrinya,
Fathimah binti al-Khattab, adik
perempuan Umar bin Khattab.
Karena pemuda Qurasy ini
masuk Islam, dia disakiti dan
dianiaya, dipaksa kaumnya
supaya kembali kepada agama
mereka. Usaha mereka tidak
berhasil. Bahkan sebaliknya,
Sa'id dan istrinya sanggup
menarik seorang laki-laki
Qurasy yang paling berbobot,
baik fisik maupun
intelektualnya dalam Islam.
Mereka berdualah yang telah
menyebabkan 'Umar bin
Khattab masuk Islam.
Sa'id bin Zaid bin Amr bin
Nufail membaktikan segenap
daya dan tenaganya yang
muda untuk berkhidmat
kepada Islam. Ketika masuk
Islam umurnya belum lebih
dari dua puluh tahun. Dia turut
berperang bersama Rasulullah
dalam setiap peperangan,
selain peperangan Badar.
Ketika itu dia sedang
melaksanakan suatu tugas
penting lainnya yang
ditugaskan Rasulullah
kepadanya. Dia turut
mengambil bagian bersama
kaum muslimin mencabut
singgasana Kisra Persia dan
menggulingkan kekaisaran
Rum. Dalam setiap peperangan
yang dihadapi kaum muslimin,
dia selalu memperlihatkan
penampilan dengan reputasi
terpuji. Agaknya yang paling
mengejutkan ialah reputasinya
yang tercatat dalam
peperangan Yarmuk. Marilah
kita dengarkan sedikit
kisahnya pada hari itu.
Berkata Sa'id bin Zaid bin Amr
bin Nufail, "Ketika terjadi
perang Yarmuk, pasukan kami
hanya berjumlah 24.000 orang,
sedangkan tentara Rum
berjumlah 120.000 orang.
Musuh bergerak ke arah kami
dengan langkah-langkah yang
mantap bagaikan sebuah bukit
yang digerakkan tangah-
tangan tersembunyi. Di muka
sekali berbaris pendeta-
pendeta, perwira-perwira
tinggi dan paderi-paderi yang
membawa kayu salib sambil
mengeraskan suara membaca
doa. Doa itu diulang-ulang oleh
tentara yang berbaris di
belakang mereka dengan
suara mengguntur."
Tatkala tentara kaum muslimin
melihat musuhnya seperti itu,
kebanyakan mereka terkejut,
lalu timbul rasa takut di hati
mereka. Abu Ubaidah bangkit
mengobarkan semangat jihad
kepada mereka. Kata Abu
Ubaidah dalam pidatonya,
antara lain, "Wahai hamba-
hamba Allah! menangkan
agama Allah, pasti Allah akan
menolong kamu dan
memberikan kekuatan kepada
kamu!"
"Wahai hamba-hamba Allah!
tabahkan hati kalian, karena
ketabahan adalah jalan lepas
dari kekafiran, jalan mencapai
keridaan Allah dan menolak
kehinaan."
"Siapkan lembing dan perisai!
tetaplah tenang dan diam,
kecuali mengingat Allah dalam
hati kalian masing-masing.
Tunggu perintah saya
selanjutnya, insya Allah!"
Kemudian, Sa'id melanjutkan
ceritanya. Tiba-tiba seorang
prajurit muslim keluar dari
barisan dan berkata kepada
Abu Ubaidah, "Saya ingin
syahid sekarang, adakah
pesan-pesan Anda kepada
Rasulullah?"
Jawab Abu Ubaidah, "Ya, ada!
Sampaikanlah salam saya dan
kaum muslimin kepada beliau.
Katakan kepada beliau,
sesungguhnya kami telah
mendapatkan apa yang
dijanjikan Tuhan kami!"
Setelah mengucapkan kata-
kata itu, saya lihat dia
menghunus pedang dan terus
maju menyerang musuh-
musuh Allah. Saya membanting
diri ke tanah, dan berdiri di
atas lutut saya. Saya bidikkan
lembing saya, lalu saya
melompat menghadang
musuh. Tanpa terasa perasaan
takut lenyap dengan sendirinya
di hati saya. Tentera muslimin
bangkit menyerbu tentara
Rum. Akhirnya Allah
memenangkan kaum muslimin.
Sesudah itu Sa'id bin Zaid turut
berperang menaklukan
Damsyiq. Setelah kaum
muslimin memperlihatkan
kepatuhan, Abu Ubaidah bin
Jarrah mengangkat Sa'id bin
Zaid menjadi wali di sana.
Dialah wali kota pertama dari
kaum muslimin setelah kota itu
dikuasai.
Dalam masa pemerintahan
Bani Umayah, merebak suatu
isu dalam waktu yang lama di
kalangan penduduk Yatsrib
terhadap Sa'id bin Zaid. Yakni,
seorang wanita bernama Arwa
binti uwais menuduh Sa'id bin
Zaid telah merampas tanahnya
dan menggabungkannya
dengan tanah Said sendiri.
Wanita tersebut menyebarkan
tuduhannya itu ke seantero
kaum muslimin, dan kemudian
mengadukan perkaranya
kepada Wali Kota Madinah,
Marwan bin Hakam. Marwan
mengirim beberapa petugas
kepada Sa'id untuk
menanyakan perihal tuduhan
wanita tersebut. Sahabat
Rasulullah ini merasa prihatin
atas fitnah yang dituduhkan
kepadanya itu.
Kata Sa'id, "Dia menuduhku
menzaliminya (meramapas
tanahnya yang berbatasan
dengan tanah saya).
Bagaimana mungkin saya
menzaliminya, padahal saya
telah mendengar Rasulullah
saw. bersabda, "Siapa saja
yang mengambil tanah orang
lain walaupun sejengkal, nanti
di hari kiamat Allah
memikulkan tujuh lapis bumi
kepadanya. Wahai Allah! dia
menuduh saya menzaliminya.
Seandainya tuduhan itu palsu,
butakanlah matanya dan
ceburkan dia ke sumur yang
dipersengketakannya dengan
saya. Buktikanlah kepada kaum
muslimin sejelas-jelasnya
bahwa tanah itu adalah hak
saya dan bahwa saya tidak
pernah menzaliminya."
Tidak berapa lama kemudian,
terjadi banjir yang belum
pernah terjadi seperti itu
sebelumnya. Maka, terbukalah
tanda batas tanah Sa'id dan
tanah Arwa yang mereka
perselisihkan. Kaum muslimin
memperoleh bukti, Sa'idlah
yang benar, sedangkan
tuduhan wanita itu palsu.
Hanya sebulan sesudah itu,
wanita tersebut menjadi buta.
Ketika dia berjalan meraba-
raba di tanah yang
dipersengketakannya, dia pun
jatuh ke dalam sumur.
Kata Abdullah bin Umar,
"Memang, ketika kami masih
kanak-kanak, kami mendengar
orang berkata bila mengutuk
orang lain, 'Dibutakan mata
kamu seperti Arwa'."
Peristiwa itu sesungguhnya
tidak begitu mengherankan.
Karena, Rasulullah saw.
bersabda, "Takutilah doa orang
teraniaya. Karena, antara dia
dengan Allah tidak ada batas."
Maka, apalagi kalau yang
teraniaya itu salah seorang
dari sepuluh sahabat
Rasulullah saw. yang telah
dijamin masuk surga, Sa'id bin
Zaid, tentu lebih diperhatikan
oleh Allah SWT.
Sumber: Shuwar min Hayaatis
Shahabah, Dr. Abdur Rahman
Ra'fat Basya
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar